BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Musyawarah Cabang (Muscab) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Brebes 2026 menetapkan Herkusnadi sebagai ketua periode 2026–2030. Ia terpilih secara aklamasi dalam forum yang digelar di Aula BKD Brebes, Minggu (12/4/2026).
Tanpa dinamika pemilihan yang berarti, forum yang dihadiri sekitar 40 peserta dari delapan klub panjat tebing itu sepakat bulat menunjuk Herkusnadi sebagai nahkoda baru. Aklamasi pun terjadi, namun akankah menyisakan pertanyaan tentang ruang kompetisi di tubuh organisasi?
Herkusnadi bukan sosok asing dalam birokrasi, bukan orang sembarangan. Ia bagian dari birokrasi aktif, saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang TK/PAUD sekaligus Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Brebes. Latar belakang tersebut menjadi salah satu alasan kuat menggantikan Moh. Syamsul Haris yang telah memimpin selama dua periode.
Tongkat estafet pun berpindah dalam suasana khidmat. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Dimana, publik mulai mempertanyakan; Organisasi yang mendapat dukungan anggaran dari sebuah dinas, kini dipimpin oleh orang yang juga berada di dalam lingkaran dinas itu sendiri.
Konflik kepentingan? Belum tentu. Tapi potensi itu terbuka. Sejauh mana independensi organisasi olahraga bisa terjaga jika sirkulasi kekuasaan dan anggaran berputar di orang-orang yang sama?
Situasi ini menempatkan FPTI Brebes di persimpangan klasik organisasi daerah, yaitu antara profesionalisme olahraga dan bayang-bayang dominasi birokrasi.
Dalam pidato perdananya, Herkusnadi menegaskan komitmennya membawa FPTI Brebes selaras dengan arah pembangunan daerah, termasuk mendukung semangat “Brebes Beres”. Ia menargetkan penguatan organisasi, peningkatan kualitas atlet, serta capaian prestasi di ajang seperti POPDA, Porkab, hingga Porprov.
“FPTI tidak hanya soal prestasi, tapi juga pembinaan dan kontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, pekerjaan rumah FPTI Brebes tidak ringan. Selain menjaga kesinambungan prestasi, organisasi ini juga dituntut memperluas partisipasi masyarakat dan memastikan pembinaan atlet berjalan.
Targetkembali diulang. Pembinaan atlet berbasis usia kembali ditekankan. Narasi kontribusi untuk masyarakat kembali digaungkan. Semua terdengar benar, namun juga terdengar seperti template yang berulang dari periode ke periode.
Padahal, tantangan FPTI Brebes jauh lebih konkret. Seperti halnya, keterbatasan fasilitas, kesinambungan pembinaan atlet, hingga minimnya ekosistem kompetisi yang benar-benar hidup.
Muscab 2026 menjadi titik awal. Pertanyaannya, apakah aklamasi ini akan menjadi fondasi solid untuk melompat lebih tinggi, atau justru menandai minimnya dinamika dalam tubuh organisasi?
Tanpa manajemen yang kuat dan kompetisi internal yang sehat, potensi tersebut berisiko stagnan. Waktu yang akan menjawab.










