KOTA MALANG, SUARAPANCASILA.ID – Momentum hari jadi ke-112 Kota Malang pada 1 April 2026 menjadi titik balik krusial dalam membedah diskursus pembangunan urban yang integratif. Mengusung tema “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas,” peringatan tahun ini dinilai bukan sekadar seremoni kalender, melainkan manifestasi dari kematangan tata kelola kota yang menyeimbangkan aspek sosiokultural dengan modernitas infrastruktur.
Ketua MPC Pemuda Pancasila (PP) Kota Malang, Ripkianto, ST, MT, memberikan pandangan mendalam mengenai filosofi di balik perayaan tahun ini. Menurutnya, angka 112 menyimpan simbolisme tentang kesinambungan dan ketahanan (resilience) sebuah entitas kota dalam menghadapi dinamika zaman.
Dalam perspektif akademis, Ripkianto yang juga menjabat sebagai Ketua DPC GAPEKNAS Kota Malang, menekankan bahwa tema “Ngalam Melintas” mengisyaratkan sebuah agility atau kelincahan dalam menembus batas-batas konvensional pembangunan.
“Secara intelektual, kita harus memaknai 112 tahun ini sebagai fase ‘re-evaluasi spasial’. Kota Malang kini tidak lagi sekadar entitas administratif, namun telah bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kreatif yang ‘Mbois Berkelas’. Ini adalah standar estetika sekaligus fungsional yang harus kita pertahankan,” ujar Ripkianto dalam keterangannya, Rabu (1/4).
Sebagai pimpinan di sektor organisasi kepemudaan dan asosiasi kontraktor nasional (GAPEKNAS), Ripkianto melihat adanya urgensi kolaborasi strategis antara elemen organisasi kemasyarakatan dengan sektor konstruksi dan pembangunan. Baginya, pembangunan fisik yang digerakkan oleh para pengusaha kontraktor lokal harus selaras dengan penguatan karakter sumber daya manusia yang diusung oleh Pemuda Pancasila.
Ripkianto, yang juga dikenal sebagai CEO Ripki Foundation, membedah makna angka 112 melalui kacamata pengabdian sosial dan profesionalisme. Angka ‘1’ yang berulang melambangkan kesatuan visi, sementara angka ‘2’ merepresentasikan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat (termasuk organisasi profesi).
Pemuda Pancasila memiliki peranan sebagai garda pengamanan ideologi dan katalisator kohesi sosial di tengah heterogenitas warga Malang.
Sementara itu, GAPEKNAS memastikan akselerasi infrastruktur di Kota Malang berjalan dengan standar kualitas tinggi demi menunjang kenyamanan publik.
Sedangkan Ripki Foundation, fokus pada pemenuhan aspek filantropi dan edukasi untuk memastikan pembangunan tidak meninggalkan kelompok rentan.
Menutup narasinya, Ripkianto menegaskan bahwa diksi “Bergerak Tuntas” dalam tema HUT tahun ini adalah sebuah instruksi bagi seluruh stakeholder untuk menyelesaikan pekerjaan rumah perkotaan—mulai dari kemacetan hingga drainase—dengan pendekatan sains dan teknologi yang tepat guna.
“Kota Malang memiliki modal sosial yang kuat. Dengan kolaborasi antara Pemuda Pancasila yang solid dan GAPEKNAS yang profesional, kita optimis mampu mewujudkan ekosistem perkotaan yang berkelas dunia namun tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal,” pungkasnya.
Peringatan HUT ke-112 ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh elemen di Kota Malang untuk memperkuat komitmen dalam mewujudkan tata ruang yang inklusif, berkelanjutan, dan inspiratif bagi kota-kota lain di Indonesia.
Pewarta: Doni Kurniawan
Editor: Denny.W










