Nasib Pahit Petani Jeruk Poncokusumo: Diperas Modal, Dijarah Maling di Ambang Panen

KABUPATEN MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Di balik rimbunnya perkebunan jeruk yang menyelimuti wilayah Poncokusumo, Kabupaten Malang, tersimpan kecemasan yang mendalam di hati para petaninya. Bagi Suprianto, seorang petani asal Desa Pandansari, berkebun jeruk bukan sekadar mata pencaharian, melainkan pertaruhan hidup yang kian hari kian berat.

​Poncokusumo memang dikenal sebagai sentra jeruk di Jawa Timur. Mayoritas penduduk di sini menggantungkan hidup dari komoditas ini karena dianggap lebih menjanjikan secara hasil dan tidak menguras tenaga sebanyak sayuran. Namun, janji manis itu sering kali berujung getir akibat lonjakan biaya produksi dan ancaman kriminalitas yang menghantui.

​Suprianto, yang mengelola lahan seluas kurang lebih 4 hektar di tujuh lokasi berbeda, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar petani saat ini adalah melambungnya harga sarana produksi. Harga pupuk kimia, pupuk kandang, hingga pestisida terus merangkak naik setiap tahun tanpa kepastian harga jual yang stabil.

​”Kalau tidak dirawat maksimal, kami malah rugi. Tapi untuk merawatnya, modalnya harus benar-benar ‘los’ (totalitas). Padahal harga jeruk itu fluktuatif, biasanya murah di bulan Juni-Juli dan baru membaik di bulan Agustus,” ujar Suprianto saat ditemui di sela kegiatannya, Jumat (03/04/2026).

Bacaan Lainnya

​Dengan produktivitas mencapai 25 ton per tahun dari 500 pohon, Suprianto harus memutar otak agar pendapatan panen mampu menutupi utang bank yang sering kali menjadi tumpuan modal awal para petani.

​Namun, beban biaya produksi bukanlah satu-satunya musuh. Di saat pohon-pohon jeruk mulai berbuah lebat menyambut panen raya pada Juni hingga Agustus mendatang, aksi pencurian justru marak terjadi. Suprianto mengaku telah menjadi korban pencurian sebanyak tiga kali.

​Kejadian terakhir dialaminya pada Minggu, 15 Maret lalu, tepat menjelang musim panen. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 500 kilogram lebih buah jeruk dari banyak pohon raib digondol pencuri, dengan taksiran kerugian mencapai Rp12 juta.

​”Rasanya sesak. Petani itu memeras keringat, merawat tanaman dengan niat ibadah untuk menafkahi anak istri. Banyak dari kami yang modalnya hasil pinjam bank. Kalau dicuri begini, bagaimana kami mau bayar utang?” keluhnya dengan nada getir.

​Ironisnya, Suprianto menyebut banyak petani yang memilih diam meski menjadi korban pencurian. Hal ini disebabkan oleh rasa sungkan karena pelaku biasanya adalah orang yang dikenal, hingga adanya rasa takut karena ancaman atau intimidasi.

​Namun, bagi Suprianto, diam bukanlah pilihan. Ia berencana melaporkan kasus yang menimpanya ke Polsek Poncokusumo untuk mencari keadilan. Ia berharap pemerintah desa dan pihak berwajib memberikan perhatian lebih serta perlindungan nyata bagi nasib para petani.

​”Harapan saya cuma satu, malingnya tobat, petaninya bisa tenang (ayem tentrem), dan ada perlindungan dari pihak berwenang. Kami hanya ingin apa yang kami tanam dengan susah payah bisa sampai ke tangan yang berhak,” tutupnya.

​Kini, Suprianto dan petani lainnya di Poncokusumo hanya bisa berharap agar hukum tegak berdiri di atas ladang-ladang mereka, memastikan bahwa manisnya panen jeruk tidak lagi dicuri oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.

Pewarta : Doni Kurniawan
Editor : Denny W

Pos terkait