Pererat Silaturahmi, Alumni SMAN 04 Malang Angkatan Tahun 1980 Gelar Halalbihalal di Rumah Makan Kertanegara

Season foto bersama Alumni SMAN 04 Malang Angkatan tahun 1980. Foto (Kim/SUARAPANCASILA.ID)

KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Suasana hangat menyelimuti Rumah Makan Kertanegara, Klojen, Kota Malang pada Senin (13/04/2026). Di tengah nuansa Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, puluhan alumni SMAN 4 Malang berkumpul bukan sekadar untuk santap siang, melainkan untuk merawat sebuah ikatan yang telah terjaga selama satu dekade lebih.

Acara bertajuk “Halalbihalal dan Temu Kangen” ini berlangsung meriah dengan balutan hiburan elektone dan pembagian doorprize. Namun, di balik keriuhan tersebut, tersimpan esensi mendalam tentang pentingnya silaturahmi tatap muka di era digital.

Ketua Panitia penyelenggara Hari Subiyakto, menjelaskan bahwa menjaga komunikasi di grup WhatsApp yang beranggotakan 104 orang memiliki tantangan tersendiri. Baginya, pertemuan fisik adalah kunci agar persaudaraan tidak “menguap” begitu saja.

Bacaan Lainnya

“Menjaga komunikasi bukan sekadar mengirim pesan di grup. Pertemuan tatap muka menjadi fondasi utama dalam mempererat tali persaudaraan,” ujar Hari di sela-sela acara.

Hari mengakui bahwa tingkat keaktifan anggota di ranah digital cukup beragam. Ada yang vokal, namun banyak pula yang hanya menjadi “pemantau” atau silent reader. Melalui Halalbihalal inilah, semua sekat tersebut dilebur dalam tawa dan nyanyian bersama.

Komunitas yang terbentuk sejak 2016 ini memiliki “senjata rahasia” agar tetap solid: Arisan Rutin. Berbeda dengan arisan pada umumnya, bagi mereka ini adalah media untuk saling mengunjungi.

Untuk arisan Rp 50.000 per bulan dengan sistem nomaden (berpindah-pindah lokasi) untuk penyegaran suasana.

Pada pertemuan kali ini, 30 dari 36 anggota yang terdaftar hadir secara fisik—sebuah angka yang stabil dan cenderung meningkat dibanding pertemuan sebelumnya yang rata-rata dihadiri 22-26 orang.

Tidak hanya bersenang-senang, komunitas ini juga menunjukkan taji dalam urusan kemanusiaan. Hari menekankan bahwa semangat gotong royong mereka sangat kuat saat ada anggota yang tertimpa musibah.

“Kegiatan sosial kami sifatnya insidental. Jika ada anggota yang berduka atau jatuh sakit, kami langsung bergerak melakukan penggalangan dana,” tambahnya. Meski saat ini fokus sosial masih bersifat internal, namun kekompakan ini menjadi bukti eksistensi mereka yang tak lekang oleh waktu.

Senada dengan Hari, Junari, yang merupakan perwakilan ketua sekaligus tuan rumah serta penerima arisan pada periode ini, berbagi perspektif mengenai filosofi di balik kumpulan “rambut memutih” ini. Baginya, pertemuan rutin adalah wadah bertukar cerita tentang suka dan duka kehidupan.

Abah Junari menyerahkan Doorprize kepada salah satu Alumni SMAN 04 Malang. Foto (Kim/SUARAPANCASILA.ID)

“Di usia yang tidak muda lagi, dukungan moral dari teman sejawat adalah obat yang paling mujarab. Kami percaya dengan terus bertemu, kesehatan akan lebih terjaga dan usia terasa lebih panjang,” tutur Abah Junari dengan bijak.

Ia tidak menampik bahwa menyatukan banyak kepala bukan perkara mudah. Dalam kelompok ini, beragam watak berkumpul—dari yang keras hati hingga yang kritis. Sebagai sosok yang dituakan, ia menekankan pentingnya kesabaran.

Momen puncak halal bihalal bersalaman Alumni SMAN 04 Malang. foto (Kim/SUARAPANCASILA.ID)

“Kita harus lebih sabar dan memahami watak masing-masing. Namanya juga orang tua, terkadang ada yang protes atau berbeda pendapat, tapi semuanya kita rangkul untuk menjadi lebih baik,” tegasnya.

Tradisi yang telah berjalan lebih dari 10 tahun ini dulunya diikuti oleh lebih dari 100 orang dari berbagai kota seperti Jakarta dan Surabaya. Meski kini jumlahnya menyusut karena faktor usia dan domisili, mereka yang menetap di Malang tetap menjaga api persahabatan tersebut, bahkan dengan mengajak pasangan (suami/istri) agar kekeluargaan semakin meluas.

Peserta halal bihalal Alumni SMAN 04 Malang menyantap hidangan. foto (Kim/SUARAPANCASILA.ID)

Bagi alumni SMAN 4 Malang ini, arisan bukanlah soal nominal uang, melainkan tentang investasi emosional. Di tengah gempuran teknologi yang membuat orang abai pada kehadiran fisik, mereka memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda: bahwa kesabaran dan dedikasi dalam menjaga hubungan adalah warisan yang tak ternilai harganya hingga akhir hayat.

Reporter : Doni Kurniawan
Editor : Denny W

Pos terkait