BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes mencatat lonjakan jumlah warga yang terindikasi atau suspek campak. Hingga Rabu, 1 April 2026, total suspek mencapai 202 orang, meningkat dari 197 kasus pada hari sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Brebes, dr. Heru Padmonobo, mengatakan penambahan lima kasus dalam sehari menunjukkan tren kenaikan yang perlu diwaspadai. “Dicurigai kasus campak atau suspek per hari ini 202 kasus. Di hari kemarin ada 197. Jadi hari ini ada penambahan lima kasus,” ujarnya saat ditemui sejumlah wartawan di kantornya.
Menurut Heru, para pasien suspek umumnya menunjukkan gejala khas campak, seperti demam, ruam kemerahan pada kulit, batuk, pilek, serta nyeri tulang dan badan.
Dari sejumlah kasus tersebut, Dinas Kesehatan telah mengirimkan sampel darah ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Yogyakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, hingga kini baru lima sampel yang berhasil diuji.
“Hasilnya, empat sampel dinyatakan reaktif atau positif campak. Semuanya berasal dari Kecamatan Salem, tepatnya Desa Bentar dan Desa Salem,” kata Heru.
Ia mengakui keterbatasan reagensia menjadi kendala utama dalam percepatan pemeriksaan laboratorium. Dinas Kesehatan masih menunggu pasokan tambahan dari pemerintah pusat untuk melanjutkan pengujian terhadap sampel lainnya.
“Baru lima sampel yang diperiksa. Lainnya belum karena keterbatasan reagensia dan masih menunggu kiriman dari pusat,” lanjutnya.
Heru menambahkan, peningkatan kasus suspek campak tidak hanya terjadi di Brebes, tetapi juga dilaporkan di sejumlah daerah lain di Indonesia.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan memperkuat upaya pencegahan, terutama di fasilitas layanan kesehatan. Seluruh kepala puskesmas dan direktur rumah sakit diminta memastikan perlindungan bagi tenaga kesehatan sesuai prosedur operasional standar.
“Untuk internal, kami sudah menginstruksikan agar tenaga kesehatan dilindungi, baik melalui penerapan SOP maupun pemantauan status kesehatan mereka,” pungkasnya.










