Bagian Dari Identitas Kota, Ratu Dewa Ajak Generasi Muda Kenali Sejarah 114 Sungai Palembang

PALEMBANG, SUARA PANCASILA.ID – Sejarah Kota Palembang tidak hanya tersimpan dalam kisah kejayaan Sungai Musi, tetapi juga pada 114 sungai yang menjadi bagian dari perjalanan panjang kota tertua di Indonesia ini. Sayangnya, keberadaan anak-anak sungai tersebut belum tentu dikenal oleh generasi muda saat ini.

Untuk menggali kembali sejarah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian sungai, Wali Kota Palembang Ratu Dewa mendorong generasi muda untuk mengenal sejarah 114 sungai yang membentuk karakter dan identitas lingkungan Kota Palembang.Hal tersebut disampaikannya saat membuka Seminar Sejarah Sungai di Ruang Rapat Parameswara, Rabu (14/10/2026).

Menurut Ratu Dewa, upaya menghimpun sejarah 114 sungai merupakan langkah strategis untuk menggali kembali ingatan kolektif masyarakat, mendokumentasikan pengetahuan lokal, serta memperkuat kesadaran bahwa sungai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Kota Palembang.

Bacaan Lainnya

“Ini sudah lama kita nantikan. Palembang sebagai kota tertua memiliki banyak sekali peninggalan sejarah, terutama yang berkaitan dengan sungai. Melalui seminar ini, kita ingin menggali kembali sejarah sungai-sungai yang ada di Kota Palembang,” ujar Dewa.

Ia menegaskan, pemahaman terhadap sejarah sungai tidak boleh berhenti pada kegiatan seminar semata. Pengetahuan tersebut harus menjadi dasar bagi masyarakat untuk menjaga dan melestarikan keberadaan sungai sebagai warisan sejarah sekaligus aset lingkungan.

Ratu Dewa juga mengingatkan agar sungai tidak hanya dipandang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap menjadi elemen penting dalam kehidupan masyarakat dan perencanaan pembangunan kota.

“Kita tidak boleh membiarkan sungai hanya tinggal dalam catatan sejarah, sementara keberadaannya semakin terabaikan dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Dewa.

Menurut dia, sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat harus kembali mendapatkan perhatian. Selain memiliki nilai sejarah, sungai juga merupakan aset ekologis, bagian dari sistem tata air, ruang kehidupan masyarakat, serta warisan budaya yang memiliki nilai sosial dan ekonomi.

Untuk mendukung upaya pelestarian tersebut, Ratu Dewa secara khusus meminta camat dan lurah agar mendalami materi yang dibahas dalam seminar.Keduanya dinilai memiliki peran penting karena berada paling dekat dengan masyarakat dan wilayah sungai, sehingga dapat membantu menjelaskan asal-usul serta sejarah sungai di lingkungan masing-masing.

“Camat dan lurah harus benar-benar mendalami seminar ini karena mereka merupakan salah satu pejabat setempat yang bisa menceritakan asal-usul sungai tersebut,” katanya.

Ia juga mengharapkan para camat dan lurah dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam mengenali, mendokumentasikan, dan menjaga sungai-sungai yang berada di wilayah mereka.

Selain pemerintah kecamatan dan kelurahan, keterlibatan akademisi, pemerhati sejarah, serta komunitas lingkungan dinilai penting untuk memperkuat upaya pelestarian sungai.

Para akademisi dan pemerhati sejarah diharapkan dapat memperkuat kajian berdasarkan bukti dan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara itu, komunitas lingkungan dapat menjadi mitra strategis dalam edukasi serta pengawasan partisipatif terhadap kondisi sungai.

Lebih lanjut, Ratu Dewa berharap pendokumentasian sejarah 114 sungai di Palembang dapat dikembangkan melalui program digitalisasi data secara bertahap.

Melalui langkah tersebut, informasi mengenai sejarah, asal-usul, dan keberadaan sungai diharapkan dapat dihimpun dalam sebuah sumber informasi yang mudah diakses, diperbarui, dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Digitalisasi ini juga berpotensi mendukung pendidikan sejarah lokal, pengenalan identitas wilayah, perencanaan lingkungan, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai.

Dengan tersedianya dokumentasi sejarah yang lebih terstruktur, generasi muda diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dari buku pelajaran, tetapi juga mengenal lebih dekat sejarah lingkungan tempat mereka tinggal.

“Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal Sungai Musi, tetapi juga mengetahui keberadaan anak-anak sungai yang membentuk karakter dan sejarah lingkungan Kota Palembang,” pungkas Dewa.

suarapancasilaid'

Pos terkait