Bupati Paramitha di Lereng Jalawastu, Menyaksikan Waktu yang Berjalan Pelan


BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Pagi turun perlahan di Dukuh Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan. Kabut menggantung rendah di lereng, seolah menahan waktu agar tidak berlari terlalu jauh. Di antara rumah-rumah sederhana dan jalan tanah yang akrab dengan langkah kaki, warga mulai berkumpul. Tidak tergesa, tidak riuh. Semuanya berjalan dalam ritme lama yang sudah diwariskan.

Sekitar seratus warga kampung adat ikut terlibat. Mereka bukan sekadar datang untuk melihat. Mereka menjalani tradisi yang sudah hidup jauh sebelum generasi sekarang lahir. Upacara Adat Ngasa kembali digelar pada Selasa, 24 Maret 2026.

Di Jalawastu, Ngasa bukan sekadar upacara tahunan. Ia adalah cara masyarakat mengingat asal-usulnya. Doa dipanjatkan sebagai rasa syukur. Alam dihormati sebagai bagian dari kehidupan. Dan kebersamaan dijaga, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat kebiasaan yang terus diulang setiap tahun.

Bacaan Lainnya

Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma hadir di tengah warga. Ia menyapa para sesepuh, tokoh adat, dan masyarakat yang sejak lama menjaga tradisi ini.

“Kita bisa berkumpul dalam momen yang penuh kebermaknaan ini,” ujarnya dengan kalimat sederhana, namun terasa cukup untuk menggambarkan pertemuan antara masa kini dan masa lalu yang tetap hidup.

Di Jalawastu, waktu tidak berjalan lurus seperti di kota. Ia berputar, kembali, dan dihidupkan ulang setiap tahun. Tradisi yang dijalankan warga bukan sekadar kebiasaan, melainkan ingatan yang terus dirawat. Ada rasa syukur yang dipanjatkan dengan khidmat. Ada penghormatan pada alam yang tidak diucapkan, tetapi dijalani. Dan ada kebersamaan yang tidak perlu dijelaskan, karena sudah menjadi bagian dari hidup.

Bupati Paramitha menegaskan bahwa nilai-nilai seperti ini tidak boleh hilang. Tradisi, menurutnya, bukan hanya warisan, tetapi juga pedoman. Ia menyebut pentingnya menjaga keseimbangan dengan alam dan mempererat hubungan sosial sebagai inti dari kehidupan yang berkelanjutan.

Ia juga mengapresiasi masyarakat Jalawastu yang tetap konsisten mempertahankan tradisi. Bahkan, pemerintah telah menetapkan Jalawastu sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Ke depan, pemerintah berencana memperbaiki akses jalan, menata kawasan permukiman, dan mengembangkan homestay agar kampung adat ini bisa dikenal lebih luas.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Brebes, Fajar Adi Widiarso mengatakan Ngasa menjadi bagian dari rangkaian Brebes Festival. Pada Maret ini, kata dia, ada dua kegiatan Ngasa, yakni di Jalawastu dan di Gandoang, Kecamatan Salem.

Menurut Fajar, kegiatan di Jalawastu berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi hiburan, sedangkan hari kedua menjadi puncak upacara adat.

“Alhamdulillah berjalan lancar. Masyarakat sangat antusias. Ini momentum untuk melestarikan budaya sekaligus mendorong pengembangan ekonomi lokal,” katanya.

Sejumlah pejabat daerah turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Sekretaris Daerah Brebes Tahroni, Camat Ketanggungan Nurudin, serta unsur Forkopimcam. Hadir pula pemangku adat Jalawastu dan warga kampung adat yang sejak pagi sudah mempersiapkan seluruh rangkaian upacara.

Di lereng ini, waktu seakan berjalan pelan. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia memberi ruang bagi manusia untuk mengingat, untuk memahami, dan untuk tidak kehilangan arah.

Dan di Jalawastu, ingatan itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal, hidup, dan terus dijaga.

Pos terkait