BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Empat korban dugaan pembacokan di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, diperbolehkan pulang dari RSUD Brebes pada Senin (19/10/2026) setelah menjalani perawatan intensif selama hampir sepekan. Kondisi keempat korban yang sebelumnya mengalami luka serius kini dinyatakan stabil. Keluarga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma yang menanggung seluruh biaya pengobatan hingga mereka diperbolehkan pulang.
Peristiwa pembacokan terjadi pada Selasa (13/10/2026) malam. Di tengah kecemasan atas keselamatan anggota keluarga yang terluka, keluarga juga menghadapi kekhawatiran mengenai biaya perawatan karena kondisi ekonomi mereka terbatas.

Bupati Paramitha menjenguk keempat korban di RSUD Brebes pada Rabu (14/10/2026) sore, sehari setelah kejadian. Dalam kunjungan tersebut, ia memastikan Pemerintah Kabupaten Brebes menanggung seluruh biaya pengobatan agar keluarga dapat berfokus pada pemulihan korban.
Fitri Andiani, perwakilan keluarga, mengatakan bantuan pemerintah sangat berarti bagi mereka yang tengah menghadapi situasi sulit.
“Kami tidak tahu harus berkata apa selain beribu-ribu terima kasih. Saat kejadian malam itu, kami sangat panik, bukan hanya karena cemas akan keselamatan mereka, tetapi juga memikirkan bagaimana cara membayar biaya rumah sakit, karena kami bukan keluarga yang mampu,” ujar Fitri.
Menurut Fitri, kehadiran Bupati Paramitha memberikan ketenangan bagi keluarga. Ia mengapresiasi komitmen pemerintah daerah yang menanggung biaya perawatan hingga para korban diperbolehkan pulang.
“Kebaikan Ibu Bupati Paramitha sangat luar biasa bagi kami. Beliau datang, menenangkan kami, dan menepati janjinya untuk menanggung semua biaya pengobatan sampai mereka bisa pulang hari ini. Tanpa bantuan Ibu Bupati dan jajaran Pemkab Brebes, kami tidak tahu bagaimana nasib keluarga kami,” katanya.
Fitri juga menyampaikan terima kasih kepada dokter, perawat, dan seluruh tenaga kesehatan RSUD Brebes yang merawat keempat anggota keluarganya selama hampir sepekan.
“Terima kasih kepada para dokter, perawat, dan seluruh tim medis RSUD Brebes. Mereka bekerja siang malam dengan sangat sabar merawat orang tua, adik, dan si kecil TA sampai kondisi mereka stabil dan sehat seperti sekarang. Pelayanannya sangat luar biasa,” tutur Fitri.
Keempat korban terdiri atas seorang perempuan berusia 24 tahun, kedua orang tuanya, serta anaknya yang masih berusia satu tahun. Dalam peristiwa tersebut, tiga korban dewasa mengalami luka serius hingga harus menjalani operasi. Sementara itu, anak berusia satu tahun mengalami luka sayatan pada sela ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri.
Setelah menjalani penanganan medis, kondisi keempat korban membaik hingga akhirnya diperbolehkan pulang. Meski demikian, pemulihan masih berlanjut melalui pemeriksaan lanjutan dan pendampingan psikologis.
Wakil Direktur Pelayanan, Pengendalian, dan Mutu RSUD Brebes, dr. Aries Supramiati, M.Sc., Sp.A., mengatakan rumah sakit akan memfasilitasi pemeriksaan pascaperawatan. Para korban juga akan dirujuk kepada psikolog saat menjalani kontrol untuk mendukung pemulihan kondisi mental mereka.
“Bupati juga memerintahkan agar pasien tetap difasilitasi saat pemeriksaan pasca-perawatan nanti. Setiap kali pasien datang kontrol, kami akan merujuk mereka ke psikolog agar proses pemulihan berjalan optimal,” jelas Aries.
Pendampingan tersebut diharapkan membantu para korban dan keluarga menghadapi dampak emosional akibat kekerasan. Dengan demikian, pemulihan tidak hanya berfokus pada luka fisik, tetapi juga kondisi psikologis setelah peristiwa tersebut.
Pemerintah Kabupaten Brebes sebelumnya juga mempertimbangkan bantuan perbaikan rumah bagi keluarga korban yang masuk desil satu atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah. Dukungan tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga selama masa pemulihan.











