KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA.ID — Kopi Lonceng Petjinan menggelar grand opening berlokasi di Jalan Pasar Besar Nomor 81, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu, (11/10/2026) sore, kedai kopi ini menawarkan perpaduan harga terjangkau, nuansa bangunan heritage, serta suasana nostalgia Malang tempo doeloe.
Pembukaan tersebut turut dimeriahkan pertunjukan barongsai dan penampilan band interlude. Melalui momentum ini, Kopi Lonceng Petjinan berupaya memperkenalkan kembali identitas usahanya sekaligus menghidupkan aktivitas komunitas pecinta kopi di Kota Malang.
Owner Kopi Lonceng Petjinan, Sata Adinegara, menjelaskan bahwa langkah mengembangkan kembali usaha tersebut tidak hanya berorientasi pada penjualan produk, tetapi juga membangun ruang berkumpul bagi pelanggan dan komunitas.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah menurunkan harga produk hingga 50 persen dibandingkan harga sebelumnya. Kebijakan ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak konsumen, mulai dari pelanggan lama, kalangan anak muda, hingga masyarakat yang menginginkan kopi dengan harga ekonomis.
“Dulu kan harganya Rp10 ribu sampai Rp15 ribuan, sekarang semua turun separuh,” demikian penjelasan pengelola mengenai penyesuaian harga tersebut.
Menurut Sata, upaya tersebut menjadi bagian dari langkah memperkenalkan kembali Kopi Lonceng Petjinan kepada masyarakat sekaligus mendorong pelanggan untuk kembali menikmati suasana kedai.
Berada di kawasan Pasar Besar yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas perdagangan Kota Malang, Kopi Lonceng Petjinan menawarkan karakter tempat yang berbeda dari kedai kopi modern pada umumnya.
Nuansa bangunan dan interior bergaya heritage menjadi bagian dari identitas kedai. Sentuhan klasik tersebut menghadirkan suasana yang mengingatkan pada Malang tempo doeloe, tanpa meninggalkan fungsi kedai sebagai tempat bersantai, berdiskusi, bekerja, dan bertemu dengan komunitas.
Lokasinya yang berada di kawasan perdagangan juga memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung. Mereka dapat menikmati kopi sembari menyaksikan aktivitas masyarakat di sekitar Pasar Besar.
Bagi pengelola, karakter tempat tersebut merupakan bagian dari daya tarik usaha yang ingin terus dipertahankan. Pengalaman menikmati kopi tidak hanya bertumpu pada produk yang disajikan, tetapi juga suasana dan interaksi sosial yang tercipta di dalam kedai.
Perjalanan Kopi Lonceng Petjinan bermula dari sebuah lapak sederhana di sudut jalan pada 2016. Nama Lonceng Petjinan dipilih agar mudah diingat sekaligus memiliki keterkaitan dengan kawasan tempat usaha tersebut tumbuh.
Seiring perjalanan waktu, usaha ini mengembangkan beragam produk, mulai dari minuman kopi siap saji, kopi bubuk, hingga produk kopi yang dapat dijadikan oleh-oleh.
Beberapa varian yang ditawarkan antara lain Kopi Beer dan Cool Brew, selain racikan kopi andalan lainnya. Identitas produk dan kemasannya turut mengusung nuansa heritage yang selaras dengan karakter kedai.
Kopi Lonceng Petjinan juga pernah menjadi lokasi pembuatan sejumlah film pendek lokal. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa ruang kedai dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk kegiatan komersial, tetapi juga sebagai tempat pendukung aktivitas kreatif.
Sata Adinegara menempatkan penguatan komunitas sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan Kopi Lonceng Petjinan.
Ia berupaya mengoordinasikan kembali kelompok-kelompok pecinta kopi yang sebelumnya sempat mengalami penurunan aktivitas. Komunikasi melalui grup komunitas menjadi salah satu cara untuk mendorong pertemuan dan kegiatan bersama.
Dengan pendekatan tersebut, kedai diharapkan tidak sekadar menjadi tempat membeli minuman, melainkan juga ruang interaksi bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap kopi.
Untuk mendukung kenyamanan pengunjung, Kopi Lonceng Petjinan menyediakan fasilitas Wi-Fi, toilet, musala, dan area parkir. Lantai dua juga disiapkan untuk kegiatan rapat, diskusi, serta pertemuan dalam kelompok kecil.
Pada hari biasa, kedai beroperasi mulai pukul 07.00 WIB hingga sekitar pukul 01.00 WIB. Jam operasional dapat berlangsung sampai pukul 02.00 WIB apabila masih terdapat pengunjung. Khusus hari Jumat, kegiatan operasional dimulai setelah salat Asar hingga malam hari.
Fasilitas dan jam operasional tersebut memberikan pilihan bagi pelanggan yang ingin menikmati kopi pada pagi, siang, maupun malam hari.
Strategi menurunkan harga hingga 50 persen menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola. Pasalnya, biaya bahan baku, kemasan, dan krimer turut memengaruhi perhitungan biaya produksi.
Berdasarkan keterangan pengelola, harga pokok produksi (HPP) untuk satu kaleng produk tertentu dapat mencapai sekitar belasan ribu,Kondisi tersebut menuntut pengelolaan biaya yang cermat agar kebijakan harga terjangkau tetap dapat diterapkan tanpa mengabaikan kualitas produk.
Di sisi lain, pengelola berupaya menghadirkan pilihan minuman dengan harga mulai Rp10.000. Perbedaan jenis produk, ukuran, serta biaya pembuatannya menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan harga jual.
Langkah penyesuaian harga ini sekaligus menjadi upaya untuk memperluas akses konsumen terhadap produk Kopi Lonceng Petjinan. Namun, keberlanjutan strategi tersebut tetap bergantung pada kemampuan usaha mengelola biaya operasional dan menjaga kualitas produk.
Dalam menjalankan usaha, Sata Adinegara menekankan pentingnya ketekunan dan keberanian menghadapi perubahan pasar. Pelaku usaha, menurut pesan yang disampaikannya, perlu terus bergerak dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Selain itu, pemahaman terhadap bahan baku, biaya produksi, harga jual, dan strategi pemasaran menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan bisnis.
Pesan tersebut relevan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner dan minuman yang menghadapi persaingan ketat. Kreativitas, konsistensi, serta kemampuan memahami kebutuhan konsumen diperlukan agar usaha dapat bertahan dan berkembang.
Kopi Lonceng Petjinan berupaya menerapkan pendekatan tersebut melalui penyesuaian harga, penguatan identitas heritage, penyediaan fasilitas pendukung, dan pengaktifan kembali komunitas pecinta kopi.
Melalui grand opening ini, Sata Adinegara berharap Kopi Lonceng Petjinan dapat kembali menjadi salah satu pilihan tempat menikmati kopi sekaligus ruang pertemuan masyarakat di kawasan Pasar Besar.
Perjalanan yang dimulai dari lapak sederhana pada 2016 kini berlanjut dengan upaya merawat karakter klasik, menghadirkan harga yang lebih terjangkau, dan membangun kembali kedekatan dengan pelanggan.
Di tengah perubahan tren bisnis kopi, Kopi Lonceng Petjinan berupaya mempertahankan ciri khasnya dengan memadukan produk, suasana nostalgia, dan aktivitas komunitas sebagai bagian dari perjalanan usaha lokal di Kota Malang.








