Gema Takbir Pelaihari: 56 Mobil Hias Semarakkan Idulfitri Tanah Laut

Pelaihari(KALSEL), SUARA PANCASILA.ID – Malam itu (20/03/2026) tak sekadar terang oleh lampu-lampu kendaraan. Ia berpendar oleh semangat kebersamaan, oleh lantunan takbir yang menggema, dan oleh kreativitas masyarakat yang tumpah dalam satu panggung besar bernama Festival Gema Takbir. Sebuah tradisi yang tak hanya dirawat, tetapi juga dirayakan dengan penuh makna.

Pemerintah Kabupaten Tanah Laut, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kembali menggelar Festival Gema Takbir sebagai upaya melestarikan tradisi sekaligus menyemarakkan Hari Raya Idulfitri. Kegiatan ini mengambil titik start di Balairung Tuntung Pandang, lalu bergerak mengelilingi Kota Pelaihari, menghadirkan parade mobil hias yang dipadukan dengan gema takbir yang menggugah suasana batin.

Sebanyak 56 peserta ambil bagian dalam festival ini. Rinciannya, 42 peserta dari kategori SKPD, 12 dari kategori umum, dan 2 dari instansi vertikal. Keikutsertaan lintas elemen ini menjadi cerminan bahwa gema takbir bukan hanya milik satu kelompok, melainkan milik bersama—milik masyarakat Tanah Laut.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Myrza Fazrina, dalam laporannya menegaskan bahwa kegiatan ini didukung penuh oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dengan total hadiah mencapai Rp90 juta. Sebuah angka yang bukan sekadar nominal, tetapi bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga denyut tradisi dan budaya religius.

Di tengah kemeriahan itu, Bupati Tanah Laut, H. Rahmat Trianto, menyampaikan apresiasinya. Ia melihat festival ini bukan hanya sebagai seremoni tahunan, melainkan ruang kolektif yang mempertemukan nilai spiritual dan sosial dalam satu momentum.

“Melalui kegiatan ini kita tidak hanya menyemarakkan Idulfitri, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan syiar Islam di tengah masyarakat,” ujar Bupati.

Pernyataan itu menegaskan bahwa gema takbir tidak berhenti pada suara, tetapi menjelma menjadi energi yang mengikat masyarakat dalam harmoni. Bahkan, Bupati juga menambahkan bahwa pemerintah daerah akan terus menghadirkan berbagai kegiatan keagamaan lainnya, termasuk peringatan menyambut Tahun Baru Islam pada bulan Muharram.

Kompetisi mobil hias yang menjadi daya tarik utama festival ini pun melahirkan para pemenang dari berbagai kategori. Pada kategori umum, Masjid Pehin Pabahanan berhasil meraih juara pertama, disusul Masjid Jami Mutawakkilin Karang Jawa di posisi kedua, dan Pemuda Nusa Indah Bati-Bati di posisi ketiga. Sementara itu, Tri Tunggal Budoyo, Mushola Safinatul Jannah, dan Ar-Riyadh Bati-Bati masing-masing meraih posisi harapan.

Di kategori SKPD, Dinas Pariwisata tampil sebagai juara pertama, diikuti oleh Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) di posisi kedua, serta Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) di posisi ketiga. Adapun posisi harapan diraih oleh Kesbangpol, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, serta Kecamatan Pelaihari.

Sementara itu, untuk kategori instansi vertikal, Kodim 1009 Pelaihari menjadi satu-satunya peserta sekaligus peraih penghargaan.

Festival ini bukan sekadar kompetisi. Ia adalah refleksi identitas. Ia adalah panggung di mana tradisi, religiusitas, dan kreativitas bertemu. Harapannya, Festival Gema Takbir akan terus menjadi agenda tahunan yang bukan hanya dinanti, tetapi juga dirawat—sebagai penanda bahwa di Tanah Laut, gema takbir selalu menemukan jalannya untuk hidup dan menghidupkan.(suarapancasila.id-foto:ist/mt)

Pos terkait