BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Suasana hangat menyelimuti rumah Ketua Sepakat Brebes Bermartabat, Azmi Asmuni Majid, di Perumahan D’Oasis, Desa Pulosari. Halal bihalal yang digelar bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan forum refleksi yang mempertemukan aktivis, tokoh masyarakat, wartawan, hingga praktisi hukum. Obrolan yang awalnya ringan tentang makna Lebaran, perlahan bergeser ke isu-isu sosial yang lebih mendalam.
Aktivis senior Deden Sulaiman membuka tafsir filosofis tentang mudik dan Lebaran. “Mudik itu bukan sekadar perjalanan fisik, tapi kembali ke jati diri. Lebaran berarti meleburkan kesalahan, lalu menjadi lebar, luber, dan lubar dalam kebaikan,” ungkapnya. Pandangan ini disambut anggukan para hadirin, seolah mengingatkan bahwa tradisi punya makna jauh lebih dalam daripada sekadar ritual tahunan.
Ketua Sepakat Brebes Bermartabat, Azmi Asmuni Majid yang merupakan tuan rumah, menambahkan bahwa halal bihalal harus dimaknai sebagai ruang konsolidasi gagasan. “Jangan berhenti di seremoni. Ini momentum untuk merajut komitmen bersama, menjaga marwah gerakan, dan memperkuat solidaritas,” tegasnya.
Ketua KONI Brebes, Abdul Aris Assa’ad yang juga aktivis lokal menekankan, lebaran menjadi momentum penting untuk melatih kesadaran. Tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga memperbaiki cara pandang terhadap sesama.
“Ini saatnya kita menembus batas, keluar dari ego dan kepentingan sempit. Kembali ke nilai kemanusiaan yang lebih luas,” tandasnya.
Lebih jauh, Aris menekankan bahwa membangun masyarakat yang kuat tidak cukup dengan program atau kebijakan, tetapi harus dimulai dari kesadaran individu.
Dari sisi lingkungan, Ketua LSM Masjaka, Mahfudin, mengingatkan pentingnya keberpihakan gerakan sosial pada persoalan riil warga. “Kalau sungai rusak, kalau lingkungan tercemar, masyarakat kecil yang paling terdampak. Aktivisme harus hadir di situ, bukan hanya di forum-forum,” katanya.
Isu pers menjadi sorotan tajam. Ketua INSPI Brebes, Dade Wijaya, menyoroti fenomena wartawan yang hadir di acara tanpa menghasilkan karya jurnalistik. “Ada yang datang, dokumentasi, lalu pulang tanpa berita. Bahkan sekadar menunggu amplop. Itu mengikis marwah profesi,” ujarnya.
Pandangan ini menggambarkan tentang kegelisahan nyata yang dirasakan banyak pihak. Jelasnya, kalau wartawan hanya muter-muter tanpa berita, publik akan kehilangan kepercayaan.
Dari sektor ekonomi, Ketua Dewan Koperasi Indonesia sekaligus Ketua HKTI Brebes, Masrukhi Bachro, menekankan koperasi sebagai penopang ekonomi rakyat. “Kalau dikelola serius, koperasi bisa jadi kekuatan besar. Jangan hanya simpan pinjam, tapi harus jadi wadah produksi dan distribusi,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua SKI Brebes, AKBP Purn Mujiarto, menyoroti perbaikan infrastruktur jalan. “Dulu banyak jalan berlubang, sekarang mulai membaik. Kinerja Bupati Paramitha Widya Kusuma juga terlihat semakin baik,” ungkapnya, memberi catatan positif di tengah kritik yang mengemuka.










