JAKARTA-SUARAPANCASILA.ID- Peradaban negara modern tidak dapat berdiri sendiri, tanpa kemandirian pangan dan pemenuhan kebutuhan dasar energi. Indonesia siap menghadapi dampak perang di Timur Tengah dan krisis geopolitik.
“Karena itu, suatu negara berdaulat akan sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan pangan dan kemandirian energi sebagai fondasi dasar dan pilar utama suatu negara berdaulat. Presiden Prabowo Subianto sudah sejak awal bersiap diri, agar Indonesia bertahan di tengah krisis geopolitik,” kata Direktur Eksekutif Pranata Kebijakan Politik dan Ekonomi Nasional (PKPEN) Bambang Widjanarko Setio kepada wartawan di Jakarta, Selasa (24/3/26).
Menurut Bambang yang juga Ketua Prabowo Mania 08 Jawa Timur ini, dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo Subianto selalu menekankan pentingnya Indonesia mengedepankan kedaulatan, ketahanan dan kemandirian pangan dan energi secara komprehensif dan strategis.
Di tengah-tengah hubungan kerjasama ekonomi internasional, kata Bambang, Indonesia tidak boleh selalu bergantung dengan negara-negara lainnya. Indonesia, harus mampu menata kehidupan ekonomi nasional secara eksklusif, sehingga dapat bertahan dalam geliat geopolitik yang sedang terjadi dan dampaknya terhadap kehidupan ekonomi nasional.
“Indonesia, dalam segala bidang kehidupan, harus berdaulat atas ekonomi nasional dan harus mampu memenuhi berbagai kebutuhan dasar kehidupan. Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan energi. Pemerintah harus bertanggung jawab bagi kehidupan dasar ekonomi rakyatnya,” kata Bambang.
Selain itu, Bambang menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto dan para pemangku kebijakan negara, harus berpikir dan bekerja keras untuk bertahan dalam krisis energi dan ketersediaan pangan nasional.
“Prabowo Subianto, sebelum dan setelah menjadi Presiden Republik Indonesia, sudah mencanangkan swasembada pangan dan kemandirian energi. Karena itu, setelah pecah perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di semenanjung negara teluk, Indonesia harus mampu bertahan menghadapi dampak perang di jajirah Arab. Presiden Prabowo bergerak cepat agar Indonesia siap bertahan dalam cuaca geopolitik yang tidak menentu,” kata Bambang.
Menurut Bambang, peradaban modern tidak dapat berdiri kokoh, apabila suatu negara bergantung pada pasokan kebutuhan dasar dari negara lain. Setiap negara harus mempertahankan dirinya dalam memperkuat kedaulatan dan kemandirian pangan dan energinya.
“Indonesia sejak awal menegaskan diri bahwa selain pangan, kebutuhan energi merupakan pilar yang tidak kalah penting untuk dipenuhi. Apalagi, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi yang sangat besar, dan apabila dikelola secara optimal dapat menjamin kemandirian energi nasional,” kata Bambang.
Bambang mengingatkan, bahwa dalam kondisi gejolak geopolitik yang memanas karena dampak perang, Indonesia harus bersiap diri menghadapi situasi dunia yang tidak menentu.
“Perang di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sangat berisiko menekankan fiskal negara-negara di dunia, termasuk aktivitas ekonomi. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah sangat dinamis dan berisiko tinggi bagi ekonomi dan fiskal di berbagai negara, termasuk Indonesia,” kata Bambang.
Apalagi, Bambang menambahkan bahwa dampak dari ditutupnya selat Hormuz, sebagai jalur transportasi perdagangan energi utama dunia, juga berimplikasi ke Indonesia. Indonesia tidak bisa tinggal diam dan harus bergerak menghadapi situasi dunia yang tidak dalam kondisi baik.
“Saya yakin, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sudah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk Indonesia menghadapi situasi ekonomi nasional dampak dari perang di Timur Tengah dan gejolak geopolitik dunia,” tandas Bambang.










