Karhutla Tinggi, Asap Selimuti Kabupaten Barito Selatan Kasus ISPA Meningkat

BARITO SELATAN (KALTENG). SUARAPANCASILA.ID– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tinggi melanda Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, selama berbulan-bulan, berdampak terhadap kerusakan ekosistem, kualitas udara memburuk yang menyebabkab meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers terkait dampak karhutla yang digelar di Aula Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan, Jumat (16/10/2026). Kegiatan dipimpin Kepala Badan Penanggulangan Bencans Daerah (BPBD) Barsel Ir. Agus In’yulius, S.T., M.T., dan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Barsel dr. Dadang Baskoro Nugroho, SpPD Finansim.

Kepala BPBD Barsel Agus mengatakan, masa tanggap darurat karhutla telah berlangsung selama tiga bulan. Berbagai upaya pemadaman telah dilakukan oleh tim gabungan, tetapi kebakaran yang terus terjadi menjadi tantangan berat bagi petugas di lapangan.

Bacaan Lainnya

Berharap bencana karhutla segera berakhir sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan kondisi lingkungan berangsur pulih.

Dampak karhutla tidak hanya berupa kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga kerusakan ekosistem hutan yang menyebabkan kematian berbagai jenis tumbuhan dan satwa.

Karena itu, adanya perhatian dan dukungan lebih lanjut dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk membantu penanganan karhutla di Barito Selatan.

“Jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Barsel pernah mencapai 700 titik. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Dari data di BPBD, jumlah hotspot mulai meningkat sejak Agustus 2026. Pada Agustus tercatat sebanyak 2.389 hotspot, kemudian meningkat signifikan menjadi 4.965 hotspot pada September”, ujarnya.

Agus menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan tim pemadam.

Diperlukan kekompakan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, aparat, dan warga.

la mengajak masyarakat turut membantu upaya pemadaman apabila memungkinkan, serta tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan yang dapat memperparah kondisi kebakaran.

Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama semua pihak. Kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan sangat penting agar kebakaran tidak semakin meluas.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Barsel dr. Dadang Baskoro Nugroho menyampaikan bahwa kabut asap akibat karhutla turut menjadi perhatian serius sektor kesehatan karena berkaitan dengan meningkatnya gangguan pernapasan masyarakat.

Data Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 1.295 kasus ISPA pada Agustus dan 1.143 kasus pada September 2026. Sementara itu, hingga 15 Oktober 2026, tercatat angka kumulatif sebanyak 9.894 orang yang disebut dapat ditangani melalui layanan kesehatan di Barito Selatan.

Pelayanan tersebut didukung oleh 11 puskesmas serta rumah oksigen yang tersebar di wilayah Barsel.

Dinas Kesehatan terus mengupayakan pelayanan bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan di tengah kondisi kabut asap. Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan, terutama sesak napas atau gejala yang semakin memburuk.

Di akhir konferensi pers, Agus dan Dadang mengimbau seluruh masyarakat Barito Selatan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap.

Warga diminta menggunakan masker saat berada di luar rumah, mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, serta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi sayur, buah, dan vitamin sesuai kebutuhan.

Upaya pencegahan kebakaran, penanganan di lapangan, dan perlindungan kesehatan masyarakat diharapkan dapat berjalan beriringan agar dampak karhutla di Barito Selatan dapat ditekan dan bencana segera berakhir.

suarapancasilaid'

Pos terkait