KOTA MALANG, SUARAPANCASILA.ID – Tepat pada tanggal 1 April 2026, Kota Malang genap menapaki usia ke-112 tahun. Di tengah transformasi urban yang kian dinamis, peringatan hari jadi kali ini mengusung tema sentral: “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas”. Tema ini bukan sekadar jargon, melainkan sebuah manifestasi sosiologis atas ambisi kota untuk melampaui batas-batas konvensional menuju tata kelola yang paripurna.
Menanggapi pencapaian satu abad lebih ini, Ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya, Leo A. Permana, S.H., M.Hum., memberikan tinjauan mendalam dari perspektif intelektual dan kemajemukan budaya.
Dialektika Pembangunan: Antara Progresivitas dan Identitas
Menurut Leo, terminologi “Ngalam Melintas” mengisyaratkan sebuah transcendence atau kemampuan untuk melampaui tantangan zaman. Ia memandang bahwa di usia 112 tahun, Kota Malang sedang berada dalam fase kematangan infrastruktur sekaligus penguatan modal sosial.
”Secara akademis, kita melihat adanya koherensi antara visi ‘Bergerak Tuntas’ dengan konsep good governance. Ini adalah tuntutan agar kebijakan publik tidak lagi bersifat parsial, melainkan holistik dan berorientasi pada hasil akhir yang presisi,” ujar praktisi hukum tersebut kepada media di Kantor Leo Chien Long Associates & Law Firm, Rabu (01/04/2026).
Ia menambahkan bahwa predikat “Mbois Berkelas” merupakan representasi dari estetik urban yang modern namun tetap berakar pada kearifan lokal (local wisdom). “Ini adalah upaya melakukan sinkronisasi antara modernitas global dengan identitas aremanity yang egaliter,” tambah sosok yang saat ini menahkodai DPD Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Jatim tersebut.
Sebagai tokoh representasi masyarakat Tionghoa Muslim di Malang Raya, Leo A. Permana juga memberikan kupasan menarik terkait angka 112. Dalam perspektif yang kolaboratif, angka ini dipandang sebagai simbol keberlanjutan yang stabil.
”Angka 112 jika kita bedah secara filosofis melambangkan dualitas menuju persatuan. Angka ‘1’ yang berulang melambangkan kemandirian dan kepemimpinan, sementara angka ‘2’ melambangkan harmoni, keseimbangan, dan kolaborasi,” urai Leo.
Dalam konteks etnis Tionghoa di Malang tahun 2026 ini, keterlibatan aktif dalam pembangunan kota bukan lagi sekadar sumbangsih ekonomi, melainkan integrasi kultural yang inklusif.
”Masyarakat Tionghoa di Malang telah menjadi bagian integral dari struktur sosiologis kota ini selama berabad-abad. Di usia 112 tahun ini, kami memaknainya sebagai tahun memperkuat jembatan antar-elemen. ‘Melintas’ berarti kita berani keluar dari sekat-sekat eksklusivitas untuk bergerak bersama secara tuntas,” tegasnya.
Menutup refleksinya, Leo berharap agar momentum HUT ke-112 ini menjadi titik balik bagi penguatan kapasitas intelektual masyarakat Malang. Ia mendorong agar kota ini terus menjadi laboratorium toleransi di mana pendidikan dan akulturasi menjadi motor penggerak utama.
”Kita ingin Malang tidak hanya ‘mbois’ secara visual, tapi juga ‘mbois’ secara intelektual. Dirgahayu Kota Malang, semoga terus bergerak tuntas menuju kota kelas dunia yang tetap membumi,” pungkas Leo A. Permana.
Pewarta: Doni Kurniawan.
Editor: Denny.W










