KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Perayaan Idul Fitri Ketupat tidak hanya menjadi tradisi budaya masyarakat Nusantara, tetapi juga menyimpan makna filosofis yang dalam terkait nilai kebersamaan, pengakuan kesalahan, dan rekonsiliasi sosial. Hal ini disampaikan oleh Ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya, Leo A Permana, S.H., M.Hum., dalam keterangannya kepada media, Jumat (27/03/2026).
Leo menuturkan bahwa ketupat sebagai simbol utama dalam tradisi Lebaran Ketupat memiliki filosofi yang sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini. “Ketupat berasal dari istilah ‘ngaku lepat’ yang berarti mengakui kesalahan. Ini adalah refleksi penting bagi setiap individu untuk kembali ke fitrah, saling memaafkan, serta memperbaiki hubungan sosial,” ujarnya Pria yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua DPD Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Jatim ini.
Menurutnya, nilai tersebut selaras dengan semangat yang diusung oleh PITI sebagai organisasi yang mewadahi Muslim Tionghoa di Indonesia. PITI, kata Leo, tidak hanya berperan dalam aspek keagamaan, tetapi juga menjadi jembatan harmoni antarbudaya dan antarumat beragama.
“Sebagai organisasi yang mengedepankan keberagaman dalam bingkai keislaman, PITI memandang ketupat sebagai simbol persatuan. Anyaman ketupat menggambarkan kompleksitas masyarakat Indonesia yang beragam, namun tetap terikat kuat dalam satu kesatuan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Leo mengaitkan filosofi tersebut dengan dinamika bangsa yang tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari polarisasi sosial hingga disrupsi informasi di era digital. Ia menilai, momentum Lebaran Ketupat seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat kembali nilai-nilai kebangsaan.
“Dalam situasi saat ini, bangsa kita membutuhkan lebih banyak ruang dialog, saling pengertian, dan semangat gotong royong. Ketupat mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirajut menjadi kekuatan bersama,” tegasnya.
Leo juga menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan dalam menjaga stabilitas sosial. Menurutnya, narasi persatuan harus terus digaungkan agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah.
“PITI Malang Raya berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari solusi, dengan mengedepankan dakwah yang inklusif, moderat, dan penuh toleransi. Ini sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Fitri dan tradisi ketupat,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Leo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Idul Fitri Ketupat sebagai momentum memperkuat solidaritas nasional.
“Mari kita jadikan ketupat bukan sekadar hidangan, tetapi simbol kesadaran kolektif untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaraan, dan menjaga keutuhan bangsa,” pungkasnya.
Pewarta : Doni Kurniawan
Editor : Denny W










