Makna Lebaran Ketupat di Era Modern, Ketua Pakasa Malang Raya: Simbol Introspeksi dan Penguatan Nilai Sosial

KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Perayaan Lebaran Ketupat yang jatuh sepekan setelah Hari Raya Idulfitri kembali menjadi momentum penting dalam tradisi masyarakat Jawa. Ketua Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Malang Raya, KRA Dwi Indrotito Pradoto Adiningrat, S.H., M.M., memaknai perayaan ini bukan sekadar tradisi, melainkan sarat filosofi mendalam yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, ketupat bukan hanya hidangan khas, tetapi simbol spiritual yang mengandung pesan moral bagi kehidupan manusia. “Kata kupat sendiri berasal dari istilah ‘ngaku lepat’, yang berarti mengakui kesalahan. Ini menjadi pengingat penting bagi manusia untuk selalu introspeksi diri,” ujarnya saat ditemui di Malang, Kamis (26/03/2026).

Ia menjelaskan, tradisi Lebaran Ketupat erat kaitannya dengan ajaran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan nilai-nilai Islam melalui budaya lokal. Anyaman janur pada ketupat, lanjutnya, melambangkan kompleksitas kehidupan manusia, sementara isi beras putih di dalamnya menggambarkan hati yang bersih setelah menjalani proses permohonan maaf.

Bacaan Lainnya

“Ketika ketupat dibelah, kita melihat bagian dalam yang putih bersih. Itu filosofi bahwa setelah kita saling memaafkan, hati kembali suci,” jelasnya.

Lebih lanjut, Pria yang akrab disapa Sam Tito ini, menilai bahwa di era modern saat ini, nilai-nilai yang terkandung dalam Lebaran Ketupat justru semakin penting untuk dihidupkan kembali. Di tengah dinamika sosial dan derasnya arus digitalisasi, masyarakat dinilai membutuhkan ruang refleksi dan penguatan nilai kebersamaan.

“Sekarang ini, interaksi manusia cenderung cepat dan instan. Tradisi seperti Lebaran Ketupat menjadi pengingat agar kita tidak kehilangan akar budaya, terutama dalam hal silaturahmi dan kerendahan hati,” tegas sosok yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur Kantor Hukum Yustitia Indonesia (KHYI) itu.

Ia juga menyoroti bahwa perayaan ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan sosial antarwarga. Tradisi berbagi ketupat dan hidangan khas lainnya dinilai mampu memperkuat solidaritas dan kepedulian di tengah masyarakat.

“Ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang berbagi, mempererat hubungan, dan menjaga harmoni sosial,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari pelestari budaya, pihaknya berharap generasi muda tidak sekadar mengikuti tradisi secara seremonial, tetapi juga memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

“Kalau hanya ikut-ikutan, nilai itu akan hilang. Tapi kalau dipahami, tradisi ini akan tetap hidup dan relevan sepanjang zaman,” pungkasnya.

Lebaran Ketupat pun tidak hanya menjadi penutup rangkaian Idulfitri, tetapi juga simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan dalam menjalin hubungan dengan Tuhan dan sesama.

Pewarta : Doni Kurniawan
Editor : Denny W

Pos terkait