Megah di Atas, Kumuh di bawah! Sampah Berserakan di Jembatan Bogeg, DLHK Kota Serang Disorot

KOTA SERANG (BANTEN) SUARAPANCASILA.ID – Kemegahan Jembatan Bogeg di Kota Serang seolah kontras dengan kondisi lingkungan di bawahnya. Di tengah ramainya aktivitas warga, pedagang kaki lima hingga pengunjung yang datang untuk bersantai, tumpukan sampah justru terlihat berserakan dan mengganggu pemandangan. Minggu (28/09/2026).

Jembatan Bogeg selama ini menjadi salah satu titik yang ramai dilintasi kendaraan sekaligus dimanfaatkan masyarakat untuk bersantai. Sejumlah warga terlihat menikmati jajanan, berswafoto, membuat konten TikTok hingga sekadar duduk dan melepas lelah. Namun, kondisi tersebut menyisakan persoalan ketika sampah terlihat berserakan di area bawah jembatan.

Kondisi itu menuai sorotan pengunjung. Alimudin, warga Pandeglang yang ditemui di lokasi, mempertanyakan perhatian pemerintah daerah terhadap kebersihan kawasan tersebut. Menurutnya, keberadaan sampah yang tidak segera ditangani berpotensi mengurangi kenyamanan masyarakat serta membuat kawasan yang seharusnya menjadi salah satu wajah Kota Serang terlihat kumuh.

Bacaan Lainnya

“Jujur Jembatan Bogeg ini terbilang megah di Kota Serang. Besar, luas dan panjang. Kalau sampah dibiarkan dan diduga tidak ada penanganan serius, ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi. Kalau dibiarkan, lingkungan menjadi kotor dan kumuh serta berpotensi menimbulkan sumber penyakit,” ujar Alimudin sambil menikmati kopi.»

Sorotan lain datang dari salah seorang pedagang es dan kopi yang berjualan di sekitar lokasi. Ia mengaku para pedagang biasanya membersihkan sampah setelah selesai berjualan. Pedagang tersebut juga mengungkap adanya pungutan sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per minggu, bahkan bisa lebih rendah ketika dagangan sepi. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti pihak yang melakukan pungutan dan menyebut tidak pernah menerima kuitansi pembayaran.

“Kami jualan di sini sifatnya dadakan. Kalau soal sampah, setelah jualan selalu kami bersihkan. Pedagang juga membayar Rp5.000 sampai Rp10.000 seminggu, tergantung laris atau tidak. Kalau sepi kadang Rp2.000. Yang meminta biasanya ada yang datang, tapi kami tidak tahu siapa. Bayarnya juga tidak diberikan kuitansi,” ungkap pedagang tersebut.»

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai pengelolaan kebersihan di kawasan Jembatan Bogeg, termasuk bagaimana mekanisme pengawasan terhadap aktivitas pedagang dan penanganan sampah di lokasi tersebut. Publik berharap DLHK Kota Serang dapat memberikan perhatian dan memastikan kawasan tersebut tetap bersih, tertata, serta nyaman bagi masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak DLHK Kota Serang belum memberikan keterangan terkait kondisi kebersihan di bawah Jembatan Bogeg maupun informasi mengenai pungutan yang disebut oleh pedagang. Antero.co membuka ruang hak jawab dan koreksi bagi seluruh pihak untuk memberikan klarifikasi apabila terdapat informasi dalam pemberitaan ini yang tidak sesuai dengan fakta.

suarapancasilaid'

Pos terkait