Sinergi Tari Sanggar Denendar-Kusuma Laras, Refleksi Tiga Lapisan Tubuh dan Misi Pertukaran Budaya

Pengajar Sanggar Seni Denendar, Tri Boto Wibisono (kiri), memberikan pelatihan dan bimbingan langsung kepada para penari dari Sanggar Denendar dan Kusuma Laras di Malang, sebagai bagian dari kegiatan kolaborasi Refleksi Gerak dan Silaturahmi'. Foto (Kim/suarapancasila.id)

KABUPATEN MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA.ID – Nuansa Idul Fitri 1447 H menjadi momentum berharga bagi puluhan penari muda untuk memperdalam filosofi gerak. Dua wadah kesenian lintas kota, Sanggar Denendar (Malang) dan Sanggar Kusuma Laras (Gresik), menggelar kolaborasi bertajuk “Refleksi Gerak dan Silaturahmi”, Bertempat di markas Sanggar Denendar, Jalan Lilin Emas No. 18, Kabupaten Malang, Minggu (29/03/2026).


Kegiatan ini bukan sekadar latihan rutin. Para peserta diajak menyelami teknik pernapasan dan olah tubuh melalui pendekatan yang mendalam.

​Pengajar Sanggar Denendar, Tri Boto Wibisono, menjelaskan bahwa fokus utama pertemuan ini adalah memberikan ruang bagi peserta untuk melakukan refleksi diri melalui anatomi gerak. Ia memperkenalkan konsep Tiga Lapisan Tubuh sebagai landasan utama dalam menari.

Pertama lapisan atas, dominasi pada gerakan kepala sebagai pusat kendali dan ekspresi. Kemudian lapisan medium, meliputi area bahu hingga pinggang, yang menjadi pusat keseimbangan. Sedangkan lapisan bawah menjadi fokus pada kekuatan kaki sebagai fondasi pijakan bumi.

Bacaan Lainnya

​”Gerakan tari yang harmoni lahir dari kombinasi ketiga lapisan ini. Kadang kita menguatkan satu titik, namun semuanya tetap saling bertautan,” ujar Tri Boto di sela-sela latihan yang berlangsung selama dua jam tersebut.

​Bagi Sanggar Kusuma Laras asal Gresik, kunjungan ke Malang ini memiliki arti strategis. Pemilik sanggar, Hengky Supriyanto, menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah penting pasca sanggarnya resmi berdiri kembali (re-opening).

​”Kami ingin anak-anak mengenal dunia luar dan menjalin relasi. Ini adalah sarana pembelajaran untuk menerapkan gerak baru sekaligus memperluas cakrawala seni mereka di luar kelas,” ungkap Hengky.

​Hengky menambahkan, kolaborasi ini diharapkan berkembang menjadi program yang lebih terstruktur. Ia memimpikan adanya program pertukaran pelajar antar sanggar.

Semangat Kebersamaan: Para penari dari Sanggar Denendar dan Sanggar Kusuma Laras berfoto bersama setelah sesi latihan kolaboratif di Malang. Foto (Kim/suarapancasila.id)

​”Ke depan, kami berharap ada kerja sama berkelanjutan. Anak-anak Malang bisa belajar tari khas Gresik, dan sebaliknya, anak-anak kami bisa mendalami ilmu Tari Topeng Malang langsung di daerah asalnya,” tambah Hengky.

Usai merampungkan sesi refleksi gerak di markas Denendar, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Padepokan Seni Topeng Malang Asmoro Bangun di Kedungmonggo.

​Kunjungan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai sejarah dan teknik Tari Topeng Malang yang legendaris, sekaligus menutup rangkaian agenda belajar luar kelas dengan pengalaman seni yang komprehensif.

Sebagai informasi tambahan, Di bawah nakhoda Tri Boto Wibisono dan Endra Zulaifah, Sanggar Denendar kini berkembang pesat. Saat ini, sanggar tersebut telah memiliki basis kepelatihan di tiga titik strategis, yakni Lawang, Karangploso, dan Kota Batu, dengan total peserta didik mencapai hampir 100 orang.

​Tak hanya jumlah anggota yang masif, Sanggar Denendar dikenal sebagai lumbung prestasi. Para didiknya kerap mewarnai panggung tari bergengsi, mulai dari skala lokal hingga nasional, dengan raihan berbagai penghargaan gemilang.

Pewarta : Doni Kurniawan
Editor : Denny W

Pos terkait