Anggota DPRD Provinsi Kalsel H. Rahimullah Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Pelaihari

PELAIHARI(KALSEL), SUARA PANCASILA.ID — Pagi yang seharusnya berjalan tenang di kawasan permukiman padat penduduk Jalan Niaga, RT 13, Kelurahan Pelaihari, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, mendadak berubah menjadi kepanikan. Selasa (27/1/2026), kobaran api melahap sedikitnya sepuluh unit rumah warga, menyisakan puing-puing hangus serta duka mendalam bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Dua hari berselang, Kamis (29/1/2026), kepedulian datang mengetuk di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh. Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan dari Fraksi Partai Golkar, H. Rahimullah, SE, turun langsung meninjau lokasi kebakaran. Kehadirannya bukan sekadar simbol empati, melainkan wujud nyata kepedulian dengan menyerahkan bantuan langsung kepada sepuluh kepala keluarga terdampak musibah.

Didampingi Ketua RT setempat dan disambut hangat oleh warga, H. Rahimullah menyusuri sisa-sisa bangunan rumah yang hangus terbakar. Ia berbincang dengan para korban, mendengarkan langsung kisah pilu yang mereka alami, sekaligus memastikan bantuan yang disalurkan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.

Bacaan Lainnya

Suasana haru terasa begitu kental. Di antara tumpukan puing dan bau sisa kebakaran, bantuan tersebut menjadi secercah harapan, penanda bahwa para korban tidak sendirian menghadapi musibah ini. Uluran tangan itu menjadi penguat, bahwa di tengah duka, solidaritas masih tumbuh dan hidup.

Ketua RT 13 Jalan Niaga, Kelurahan Karang Taruna, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas perhatian yang diberikan. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan harapan dan doa bagi sang legislator.

“Ulun mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya atas perhatian dan sumbangan dari Bapak H. Rahimullah, anggota DPRD Provinsi Kalsel. Mudah-mudahan beliau selalu disehatkan dan mendapat imbalan serta pahala yang berlipat ganda,” ucapnya.

Musibah kebakaran ini menjadi pengingat betapa rapuhnya rasa aman di tengah padatnya permukiman. Namun di saat yang sama, peristiwa ini juga menghadirkan potret kemanusiaan yang hangat—tentang kepedulian, solidaritas, dan kehadiran negara melalui wakil rakyatnya di saat masyarakat paling membutuhkan.

Bagi para korban, bantuan yang diterima mungkin belum mampu sepenuhnya menggantikan kehilangan. Namun setidaknya, ia menjadi penopang awal untuk bangkit kembali, menata ulang harapan, dan melanjutkan hidup dari titik nol.(suara pancasila.id-hayat)

Pos terkait