BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Sirampog sejak akhir Januari memicu luapan besar Kali Keruh. Tanggul darurat di kedua sisi sungai terkikis, sehingga aliran air meluas ke permukiman warga. Akibatnya, sejumlah desa di Kabupaten Brebes kembali dilanda banjir dengan kerusakan parah, akses jalan lumpuh, dan puluhan warga terpaksa mengungsi.
Di Desa Adisana, banjir menjalar ke Dukuh Adisana, Dukuh Kweni, dan Dukuh Glempang. Lima rumah di RW 01 rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan satu rumah rusak ringan dengan total 14 jiwa terdampak. Di RW 02, lima rumah rusak berat dengan 18 jiwa terdampak, sementara di RW 03 satu rumah rusak berat. SMP Assalafiyah ikut terdampak dengan tembok belakang jebol serta lantai tertutup lumpur.
Di Desa Penggarutan, air masuk ke pemukiman RT 01 RW 01 dan menutup jalan provinsi Bumiayu–Sirampog. Sebanyak tiga kepala keluarga dengan 12 jiwa, termasuk tiga balita, harus mengungsi ke Mushola Nurul Huda, sedangkan tujuh kepala keluarga dengan 18 jiwa lainnya mencari perlindungan di rumah saudara. Total pengungsi di desa ini mencapai 30 jiwa.
Di Desa Dukuhturi, banjir menghanyutkan rumah milik Marno dan Mail di Blok Lebak/Kalker RT 01 RW 01, serta rumah milik Siti Mufidah dan Yati. Tiga rumah lain milik Najib, Hero, dan kontrakan Sri kini terancam rusak.
Data resmi mencatat sejak 23 Januari hingga 4 Februari 2026, banjir Kali Keruh telah merusak 23 rumah warga, sembilan di antaranya roboh atau hanyut terbawa arus, sementara 14 lainnya rusak berat. Secara keseluruhan, banjir ini berdampak pada 62 jiwa, dengan 30 orang di antaranya sudah mengungsi.
Jalan utama Desa Adisana terendam banjir dengan arus deras. Akses warga di tujuh pedukuhan menuju kantor desa dan Kecamatan Bumiayu lumpuh total. Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak bisa melintas, memaksa warga memutar jauh lewat jalur alternatif di Kecamatan Paguyangan. Aktivitas ekonomi dan pendidikan pun terganggu, membuat warga semakin tertekan.
Di tengah kondisi darurat, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma turun langsung ke lokasi banjir. Pada 29 Januari 2026, ia meninjau Desa Adisana dan Dukuh Kalker, Desa Dukuhturi, setelah banjir merobohkan belasan rumah.
“Kami menambah satu unit alat berat agar proses penanganan dan antisipasi di Bumiayu lebih optimal. Sedimentasi harus segera dikeruk, tanggul diperkuat, dan alur air dibuka agar warga tidak terus terjebak banjir. Saya ingin memastikan pemerintah hadir, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Kita tidak bisa menunggu, karena setiap jam yang terlewat berarti risiko semakin besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Kemudian pada 4 Februari 2026, setelah hujan deras kembali mengguyur dan tanggul darurat jebol, Paramitha kembali turun langsung ke Desa Adisana. Ia menyapa warga, menyerahkan bantuan, dan memastikan tambahan alat berat bekerja di lapangan. Pada kesempatan itu, ia juga melakukan video call dengan Gubernur Jawa Tengah untuk meminta dukungan darurat sekaligus perbaikan permanen.
“Kami berupaya mendampingi masyarakat terdampak. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat bergotong royong, bahu-membahu, dan memperkuat solidaritas. Dengan kebersamaan kita mampu melewati masa sulit ini. Saya sudah berkomunikasi langsung dengan Gubernur Jawa Tengah untuk meminta dukungan darurat dan perbaikan permanen pada pengaman Sungai Keruh. Kita tidak boleh hanya berpikir jangka pendek, tetapi harus memastikan solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang. Saya ingin masyarakat tahu, pemerintah tidak akan meninggalkan mereka sendirian menghadapi bencana ini,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Brebes melalui BPBD sebenarnya telah mengerahkan alat berat ke Sungai Keruh sejak Januari 2026, jauh sebelum tanggul darurat kembali jebol pada awal Februari. Sejak pertama kali diturunkan, alat berat difokuskan pada pengerukan sedimen sungai yang menumpuk, memperkuat tanggul darurat dengan material tanah dan batu, serta mengalihkan arus air agar tidak terus merendam permukiman.
Tambahan alat berat kemudian diturunkan sehingga total ada enam unit alat berat yang bekerja di sepanjang Sungai Keruh. Mesin-mesin ini menjadi tumpuan utama dalam membuka akses jalan yang lumpuh, mengurangi genangan, dan memperkuat tanggul darurat. Namun, derasnya hujan dan kondisi tanggul yang rapuh membuat banjir tetap meluas.
“Yang bisa langsung kita kerjakan, akan segera kita kerjakan. Tapi ada hal-hal yang butuh proses administrasi dan pertanggungjawaban, sehingga perlu waktu,” jelas Paramitha.
Pernyataan ini menegaskan bahwa meski pengerahan alat berat sudah dilakukan sejak awal, namun faktor alam dan keterbatasan teknis membuat penanganan tidak bisa sepenuhnya mencegah kerusakan besar.
Petugas BPBD Kabupaten Brebes bersama relawan mengevakuasi warga terdampak dan memantau kondisi di lapangan. Pemerintah Kabupaten Brebes menegaskan komitmen untuk hadir di tengah masyarakat, memastikan penanganan darurat berjalan, dan mencari solusi jangka panjang.










