Brebes 348 Tahun, Paramitha 34 Tahun: Simbolisme Angka, Energi Muda, dan Birokrasi Tua

BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Kabupaten Brebes merayakan hari jadinya yang ke-348 pada Sabtu (18/1/2026) dini hari. Tepat pukul 00.00 WIB, langit Brebes pecah oleh dentuman kembang api berwarna merah, hijau, dan emas. Ribuan warga memadati Alun-alun, anak-anak bersorak, orang tua tersenyum bangga, pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli, sementara tukang parkir ikut larut dalam suasana haru. Sirine panjang yang meraung bukan tanda bahaya, melainkan simbol kemenangan dan kebersamaan.

Malam itu bukan sekadar pesta rakyat. Dua momentum besar bertemu dalam satu tanggal, yaitu Kabupaten Brebes genap berusia 348 tahun, sementara Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma juga merayakan ulang tahunnya yang ke-34. Pertemuan ini menghadirkan simbolisme yang kuat, terutama dalam tradisi Jawa yang memandang angka sebagai bahasa kosmos.

Aktivis seni dan budaya Brebes, Deden Suleman, menilai pertemuan usia tersebut bukan kebetulan, melainkan pertanda. Ia menekankan bahwa tradisi Jawa memandang angka sebagai bahasa kosmos, bukan sekadar bilangan. Angka menyimpan pesan tentang harmoni, keseimbangan, dan arah kehidupan.

Bacaan Lainnya

“Usia 34 berakar pada angka 7 yang berarti pitulungan (pertolongan). Ia melambangkan peran pemimpin sebagai pelindung, pengayom, dan pemberi jalan keluar bagi rakyatnya,” ujar Deden.

Menurutnya, usia 34 adalah masa ketika energi muda harus bertransformasi menjadi kekuatan yang menolong, berdiri tegak menghadapi tantangan, sekaligus memberi keteduhan bagi rakyat. “Ini masa transisi penting, di mana seorang pemimpin muda dituntut untuk tidak hanya energik, tetapi juga mampu menjadi penopang rakyatnya,” tambahnya.

Sementara itu, angka 348 berakar pada angka 6 yang berarti kamulyan (kemuliaan) dan welas asih (kasih sayang). “Brebes yang berusia ratusan tahun adalah simbol kematangan, keseimbangan antara pembangunan fisik dan kehidupan sosial. Usia ini menandai daerah yang sudah matang, dengan sejarah panjang yang harus dijaga, sekaligus kasih sayang yang harus terus dipupuk,” jelasnya.

Pertemuan angka 7 dan 6, lanjut Deden, melahirkan angka 4 yang menjadi simbol empat penjuru mata angin. “Angka 4 mengingatkan bahwa pemimpin adalah poros, rakyat berada di segala penjuru, dan harmoni di antara keduanya adalah pondasi. Angka 4 juga melambangkan papat kiblat lima pancer (empat arah yang bertemu di satu pusat) sebagai inti kehidupan,” ucapnya.

Deden menegaskan, filosofi angka ini bukan sekadar simbol, melainkan panduan nyata bagi kepemimpinan. “Angka 7 menuntut keberanian menolong, angka 6 menuntut kebijaksanaan berwelas asih, dan angka 4 menuntut keseimbangan menjaga harmoni. Ketiganya berpadu menjadi filosofi kepemimpinan yang humanis sekaligus visioner,” paparnya.

Ia menambahkan, dalam tradisi Jawa seorang pemimpin dituntut untuk ngerti marang rakyat (memahami rakyat), andhap asor (rendah hati), dan ngabdi kanthi tulus (mengabdi dengan ikhlas). “Simbolisme angka ini adalah pengingat bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan laku hidup yang harus dijalani dengan kesadaran penuh,” tegasnya.

Meski sarat simbolisme, Deden menekankan tantangan nyata yang dihadapi kepemimpinan muda. Brebes sebagai daerah tua kerap berhadapan dengan birokrasi yang lamban dan penuh romantisme masa lalu. “Tantangan bagi kepemimpinan muda adalah bagaimana energi pitulungan, welas asih, dan harmoni mampu menembus dinding birokrasi agar pembangunan tidak kehilangan momentum,” ujarnya.

Menurut Deden, birokrasi yang lamban bisa menjadi penghambat bagi energi muda yang ingin bergerak cepat. “Di sinilah filosofi angka menjadi relevan. Pemimpin harus mampu menyeimbangkan keberanian dengan kebijaksanaan, agar energi muda tidak terjebak dalam frustrasi menghadapi birokrasi tua,” katanya.

Perayaan hari jadi Brebes juga menegaskan dimensi sosial yang semakin kokoh. Hasil pengukuran Indeks Harmoni Antar Umat Beragama (IHaI) 2025 yang dilakukan di 24 provinsi dan 353 kabupaten/kota menunjukkan Brebes mencatat skor 6,90 dan masuk kategori Baik. Dengan capaian ini, Brebes termasuk dalam 94 kabupaten di Indonesia yang memenuhi target pengukuran nasional.

Skor tersebut bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa Brebes berada di jalur yang tepat dalam merawat toleransi, menjaga stabilitas sosial, dan membuka ruang partisipasi masyarakat.

“Angka 6 yang menjadi akar usia 348 adalah simbol welas asih. Brebes membuktikan bahwa kasih sayang bukan hanya konsep, tetapi hadir dalam interaksi sosial sehari-hari. Skor IHaI ini adalah bukti bahwa filosofi budaya benar-benar hidup di masyarakat,” ujar Deden.

Menurutnya, harmoni sosial yang terukur melalui IHaI adalah wujud nyata dari filosofi papat kiblat lima pancer. “Masyarakat Brebes mampu menjaga keseimbangan di empat penjuru kehidupan (agama, ekonomi, budaya, dan sosial) dengan satu pusat, yaitu rasa kebersamaan. Inilah yang membuat Brebes istimewa,” tambahnya.

Simbolisme itu mulai menemukan wujud dalam capaian pembangunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan jumlah penduduk miskin pada Maret 2025, dengan hampir 26 ribu jiwa keluar dari kategori miskin dibandingkan tahun sebelumnya. Persentase kemiskinan turun dari 15,60 persen menjadi sekitar 14,4 persen.

Selain itu, geliat ekonomi Brebes menunjukkan tren positif. Per September 2025, ekonomi Brebes tumbuh 6,28 persen year on year, melampaui rata-rata Jawa Tengah (5,28 persen) dan nasional (5,12 persen). Bahkan pada triwulan I 2025, ekonomi Brebes mencatat pertumbuhan 6,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023.

Pertumbuhan ini didorong oleh pembangunan infrastruktur, posisi strategis Brebes di jalur Tol Trans Jawa, serta digitalisasi UMKM dan penguatan sektor jasa melalui e-commerce. Pemerintah Kabupaten Brebes juga menekankan pentingnya penguatan sektor pertanian dan perikanan sebagai tulang punggung ekonomi lokal.

Dengan torehan ini, Brebes tampil sebagai contoh nyata bahwa kerukunan dan harmoni sosial adalah kunci utama membangun bangsa. Stabilitas sosial yang terjaga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

“Kerukunan adalah modal sosial yang tidak bisa dibeli. Brebes menunjukkan bahwa harmoni adalah kekuatan yang membuat pembangunan berjalan lebih cepat dan lebih kokoh. Inilah warisan budaya yang relevan untuk masa kini,” pungkasnya.

Pos terkait