Pelaihari(KALSEL), SUARA PANCASILA.ID – Jumat, 20 Februari 2026. Ramadhan 1447 Hijriah baru memasuki hari kedua. Di banyak rumah, suasana bulan suci terasa hangat. Namun di Desa Telaga RT 8/2, Kecamatan Pelaihari, ada sebuah rumah sunyi yang menyimpan kisah pilu—kisah tentang ketabahan, kemiskinan, dan beban hidup yang seolah tak pernah usai.
Siang itu, Marliana, S.Ag., Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Pelaihari sekaligus Bendahara II Pengurus Pusat Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia, melangkahkan kaki dalam kunjungan silaturahmi rutinnya. Sosok yang dikenal memiliki empati tinggi dan jiwa sosial kuat itu tak pernah lelah menyambangi mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Namun kunjungan kali ini berbeda. Begitu memasuki rumah sederhana itu, hatinya seperti diremas.
Di dalam rumah tersebut tinggal seorang pria penyandang disabilitas sejak lahir—sebut saja Udin. Usianya kini lebih dari 30 tahun. Sejak lahir, ia tak pernah merasakan tubuh yang benar-benar mampu menopang dirinya. Hari-harinya bergantung penuh pada sang ibu.
Ibunya, yang akrab disapa Nini Aluh, adalah seorang janda lanjut usia yang juga hidup dalam kekurangan. Tubuhnya sendiri telah renta, namun ia tetap setia merawat anak semata wayangnya tanpa mengeluh. Di balik wajah lelahnya, ada cinta yang tak pernah surut.
Namun beban Nini Aluh tak berhenti di situ,Di rumah belakang yang sangat tidak layak huni, tinggal pula orang tuanya yang diperkirakan berusia sekitar 90 tahun. Lansia tersebut sudah tidak bisa berjalan dan hidup sendiri dalam kondisi memprihatinkan. Dinding rapuh dan ruang kotor serta sanitasi yang sangat tidak layak menjadi saksi hari-harinya yang sunyi.
Satu keluarga. Tiga generasi. Semuanya berada dalam lingkaran keterbatasan.
Kondisi itu membuat Marliana tak kuasa menahan air mata. Ia menangis tersedu menyaksikan langsung beratnya beban yang dipikul keluarga tersebut. Bukan hanya soal ekonomi, tetapi tentang ketidakberdayaan yang berlangsung bertahun-tahun.
Meski keluarga ini disebut menerima bantuan dana dari desa, menurut penuturan pihak keluarga, kebutuhan hidup yang mendesak membuat mereka tetap hidup dalam serba kekurangan. Makan pun sering kali tidak mencukupi.
Dengan suara bergetar, Marliana menyampaikan keprihatinannya.
” Saya ikut prihatin dan tidak sanggup melihat kondisi warga yang seperti ini, Insya Allah dalam waktu dekat saya akan turun membantu benahi beliau”
Ia juga menyampaikan harapan agar perhatian terhadap warga kurang mampu lebih ditingkatkan.
” hidup nya sangat menyedihkan dan makan pun serba kekurangan, walaupun dapat dana bantuan dari desa, menurut penuturan sang anak(aluh), Saya berharap kepada kepala desa dan aparat desa agar lebih perhatian kepda warga yg kurang mampu dan kurang beruntung ”
Ramadhan sejatinya menghadirkan empati dan kepedulian. Namun di Desa Telaga, keluarga ini setiap hari hidup dalam ujian yang tak pernah benar-benar usai. Potret penyandang disabilitas sejak lahir dan lansia kurang mampu ini menjadi pengingat bahwa masih ada derita yang membutuhkan perhatian nyata—bukan sekadar simpati, tetapi aksi yang berkelanjutan.(suarapancasila.id-hayat)










