KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Kehadiran Ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya, Leo A. Permana, S.H., M.Hum., dalam agenda silaturahmi dan buka bersama Yayasan Sosial Hakka Malang, Minggu (15/03/2026), memberikan warna intelektual yang mendalam. Tidak sekadar hadir secara seremonial, Leo yang didampingi jajaran pengurus dan kader PITI, membawa misi penguatan literasi budaya dan harmoni sosial berbasis nilai-nilai akademis.
Dalam forum yang dihadiri berbagai tokoh lintas sektoral tersebut, eksistensi DPD PITI Malang Raya menjadi representasi penting mengenai bagaimana identitas Tionghoa-Muslim mampu menjadi jembatan dialog yang cerdas dan inklusif di tengah masyarakat plural.
Sebagai figur yang berlatar belakang akademisi hukum, Leo A. Permana memberikan perhatian khusus pada paparan Pembina Yayasan Sosial Hakka Malang, Widodo Harsono, mengenai karakteristik suku Hakka yang sangat mengagungkan pendidikan.
”Paparan mengenai etos pendidikan suku Hakka yang dianalogikan dengan semangat Muhammadiyah adalah sebuah diskursus yang menarik secara sosiologis. Ini membuktikan bahwa bagi komunitas Tionghoa, pendidikan adalah instrumen utama dalam melakukan mobilitas sosial sekaligus kontribusi bagi bangsa,” ujar Leo di sela-sela acara.
Leo menekankan bahwa nilai-nilai intelektualitas yang disampaikan dalam pertemuan tersebut sejalan dengan visi PITI Malang Raya dalam membina kadernya. Bagi Leo, menjadi seorang intelektual Tionghoa berarti memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga harmoni melalui pemikiran yang jernih dan tindakan yang solutif.
Membawa rombongan kader mudanya, Leo bermaksud memberikan edukasi lapangan mengenai pentingnya networking lintas organisasi. Ia memandang bahwa interaksi antara PITI, Yayasan Hakka, PSMTI, hingga tokoh negara seperti Ketua BAKN DPR RI Andreas Eddy Susetyo, merupakan laboratorium sosial yang nyata.
”Saya ingin para kader PITI tidak hanya kuat secara spiritual, tapi juga matang secara intelektual dan sosial. Melihat bagaimana Yayasan Hakka membangun kekuatan melalui gotong royong dan kemitraan strategis adalah pelajaran berharga tentang manajemen organisasi dan pengabdian masyarakat,” tambah pria yang menyandang gelar Magister Hukum tersebut.
Dalam diskusi terbatas di acara tersebut, Leo juga menyoroti aspek legalitas dan dukungan pemerintah terhadap organisasi sosial. Ia mengapresiasi komitmen para tokoh untuk mengawal izin renovasi gedung Hakka sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap simpul-simpul pemersatu bangsa.
”Secara normatif, sinergi antara aspirasi masyarakat dan kebijakan negara adalah kunci stabilitas. Kehadiran kami di sini adalah bentuk dukungan moral bahwa persatuan yang kita rajut hari ini memiliki landasan sosiologis dan yuridis yang kuat untuk masa depan Malang Raya,” pungkasnya.
Kehadiran jajaran PITI Malang Raya turut menyaksikan prosesi penyerahan cindera mata berupa lukisan Wali Kota Malang dan pemberian santunan sembako kepada warga sekitar. Bagi Leo dan PITI, aksi filantropi ini adalah bentuk nyata dari “Zakat Sosial” yang melintasi batas-batas etnisitas, mempertegas bahwa kebaikan adalah bahasa universal yang paling dimengerti oleh kemanusiaan.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan buka puasa bersama, di mana Leo A. Permana tampak berdiskusi hangat dengan para tokoh, merumuskan ide-ide kolaborasi yang lebih besar demi kemajuan Kota Malang di masa depan.
Pewarta : Doni Kurniawan
Editor : Denny W










