BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX, Wahyudin Noor Aly atau Goyud, menegaskan bahwa maraknya bencana alam yang terjadi belakangan ini tidak lepas dari kerusakan lingkungan, khususnya di kawasan hutan lindung.
Dalam pertemuan dengan kadernya di Brebes, Rabu (7/1/2026), Goyud menekankan bahwa bencana tidak pernah datang tanpa sebab. Ia mencontohkan kondisi hutan di Sirampog, Kabupaten Brebes, yang sekilas tampak baik-baik saja, namun ternyata mengalami pembalakan masif untuk kepentingan tanaman pangan.
“Bencana itu ada penyebabnya. Di Brebes, tepatnya di wilayah Sirampog, setahun yang lalu saya berkunjung ke kawasan hutan. Dari depan tampak tidak ada apa-apa, tetapi setelah masuk ke lereng hutan lebih dalam, terjadi pembalakan secara masif untuk kepentingan tanaman pangan seperti kentang,” ujar Goyud.
Menurut Goyud, hutan lindung seharusnya berfungsi menjaga ekosistem dan menahan air. Kerusakan di kawasan hulu, lanjutnya, menjadi pemicu utama banjir bandang seperti yang melanda kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal.
Ia menilai upaya reboisasi yang dilakukan pemerintah tidak berjalan optimal karena adanya penolakan warga. Tanaman yang ditanam kembali justru dicabut.
“Sudah dilakukan reboisasi, tetapi dicabuti oleh warga. Peristiwa banjir bandang di Guci itu penyebabnya ya hulunya sudah rusak,” tegasnya.
Politisi yang dikenal vokal soal isu lingkungan ini mengingatkan agar kerusakan hutan tidak dibiarkan berlarut-larut. Jika tidak segera ditangani, bencana akan menjadi ancaman rutin bagi masyarakat.
“Jangan sampai bencana menjadi tamu rutin kita. Kalau tidak kita benahi, ini akan menjadi bom waktu,” katanya.
Sebagai langkah ke depan, Goyud mendorong agar kawasan hutan lindung dialihfungsikan menjadi taman nasional agar perlindungannya lebih kuat. Ia berkomitmen melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Kehutanan untuk merealisasikan rencana tersebut.
“Saya berharap kawasan hutan lindung ini bisa dialihfungsikan menjadi kawasan taman nasional. Saya akan melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Kehutanan,” ujarnya.
Selain itu, Goyud menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat melalui gerakan peduli lingkungan. Menurutnya, kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam mencegah bencana di masa depan.
“Gerakan peduli lingkungan perlu terus bergerak sebagai bentuk mitigasi,” pungkas Goyud.










