BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID — Sejumlah insan pers dan aktivis di Kabupaten Brebes menggelar pertemuan strategis menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah untuk memperkuat sinergi sekaligus menegaskan kembali peran media sebagai pilar keempat demokrasi. Pertemuan berlangsung Senin, 16 Maret 2026 di Rumah Makan Dapur Mangrove, Kelurahan Pasar Batang, Kecamatan Brebes.
Acara dimulai sekitar pukul 17.30 WIB ketika para peserta mulai berdatangan dari berbagai wilayah Kabupaten Brebes. Wartawan dari media cetak, elektronik, hingga media daring tampak berbaur dengan para aktivis komunitas lokal, saling berbincang santai mengenai dinamika profesi dan perkembangan kondisi daerah. Pertemuan ini juga menjadi ruang informal untuk memperkuat komunikasi sekaligus membahas berbagai isu yang berkaitan dengan integritas dan peran pers di daerah.
Dalam percakapan yang berlangsung, sejumlah peserta turut menyinggung pentingnya mematuhi imbauan Dewan Pers yang melarang wartawan maupun perusahaan pers meminta Tunjangan Hari Raya kepada instansi pemerintah atau pihak ketiga. Larangan tersebut tertuang dalam Surat Imbauan Dewan Pers Nomor 347/DP/K/III/2026 yang diterbitkan pada 12 Maret 2026 dan ditandatangani oleh Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat.
Dalam surat itu, Dewan Pers menegaskan bahwa THR merupakan kewajiban perusahaan pers kepada pekerjanya, bukan sesuatu yang dapat diminta kepada instansi pemerintah, perusahaan swasta, maupun perorangan. Praktik permintaan THR oleh oknum wartawan dinilai berpotensi mencederai integritas profesi serta merusak kepercayaan publik terhadap kerja jurnalistik.
Ketua Ikatan Pers Jawa Tengah Firdaus Andika yang hadir sebagai pembicara utama menegaskan bahwa wartawan harus tetap menjalankan fungsi kontrol sosial berbasis fakta dan data.
“Wartawan adalah mata dan telinga publik. Kita harus memahami Kode Etik Jurnalistik, Undang-Undang Pers, serta menerapkan teknik 5W+1H dengan disiplin. Berita yang terbentuk dari fakta dan hasil konfirmasi yang tepat akan memberikan posisi yang kuat dan aman secara hukum bagi setiap lembaga media,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya verifikasi akurat dalam setiap tahap proses penulisan berita untuk menjaga kredibilitas profesi jurnalistik.
Senada dengan itu, Ketua Serikat Media Siber Indonesia Kabupaten Brebes, Dedy Agustian, mengingatkan bahwa profesi wartawan dibangun melalui proses kerja dan karya, bukan sekadar pengakuan.
“Kalau proses berkarya itu dihilangkan, yang tersisa hanya klaim. Profesi ini tidak dibangun di atas klaim, tetapi pada karya jurnalistik yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Menurut Dedy, perkembangan teknologi termasuk kecerdasan buatan hanya dapat menjadi alat bantu dalam kerja jurnalistik, bukan pengganti integritas.
“AI itu alat. Ia bisa membantu merapikan data atau menyusun struktur tulisan. Tapi integritas tidak bisa diunduh, dan kredibilitas tidak lahir dari aplikasi,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar pers tidak terjebak menjadi sekadar pengganda informasi. “Pers bukan mesin fotokopi. Tugasnya memeriksa, menimbang, dan menghadirkan informasi yang berimbang. Kalau fungsi itu hilang, kita patut khawatir,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Penasihat Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pers Jawa Tengah sekaligus aktivis Azmi Asmuni Majid menekankan pentingnya kolaborasi antara media dan pemerintah dalam menyebarluaskan informasi publik yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Ia menyoroti pentingnya edukasi terkait akses layanan kesehatan, khususnya aktivasi program Penerima Bantuan Iuran serta layanan BPJS Kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.
Azmi juga mengapresiasi kontribusi media yang selama ini konsisten mengawal berbagai program pembangunan daerah, mulai dari peningkatan indeks pembangunan manusia, program beasiswa kuliah gratis, hingga perbaikan infrastruktur jalan di berbagai wilayah Kabupaten Brebes.
“Jurnalis tidak boleh bersikap netral dalam arti diam ketika menyaksikan ketidakadilan. Kita harus tetap independen dan berpihak pada kebenaran, sekaligus membantu mengedukasi masyarakat terkait hak-hak mereka yang telah dijamin oleh pemerintah,” tuturnya.
Di tengah suasana hangat tersebut hadir pula anak-anak yatim yang diundang khusus untuk menerima santunan sekaligus berbuka puasa bersama. Kehadiran mereka menghadirkan nuansa haru sekaligus memperkuat makna kepedulian sosial dalam kegiatan tersebut.
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus membangun komunikasi yang sehat guna mewujudkan keterbukaan informasi publik. Para peserta berharap kegiatan koordinasi semacam ini dapat berlangsung berkelanjutan sehingga tercipta ekosistem pers dan aktivisme yang lebih cerdas, objektif, serta mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat Brebes.










