NASIONAL, SUARAPANCASILA.ID – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama Republik Indonesia untuk memperkuat kompetensi Bahasa Inggris sebagai bagian dari transformasi kualitas pendidikan di lingkungan lembaga pendidikan di bawah naungannya.
Hal tersebut disampaikan Menag saat menerima audiensi CEO Educational Testing Service (ETS) Amit Sevak bersama perwakilan Indonesian International Education Foundation (IIEF) di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Menurut Nasaruddin Umar, penguasaan Bahasa Inggris bukan sekadar kemampuan tambahan, melainkan modal fundamental bagi civitas akademika Kemenag untuk dapat bersaing di tingkat internasional. Hal ini juga sejalan dengan upaya kementerian meningkatkan daya saing sumber daya manusia, mulai dari guru, dosen, hingga mahasiswa. “Kemampuan Bahasa Inggris adalah pintu gerbang. Ini adalah modal awal yang sangat penting jika kita ingin mengakselerasi pendidikan maupun penelitian ke luar negeri. Kami ingin memastikan mahasiswa dan tenaga pendidik kita memiliki standar global,” ujar Menag Nasaruddin.
Ia menambahkan, standar kompetensi bahasa yang terukur juga menjadi instrumen penting dalam program beasiswa unggulan Kemenag. Salah satunya melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), yang mensyaratkan skor tes kemampuan bahasa internasional seperti IELTS dan TOEFL dalam proses seleksi.
Dengan penguatan kemampuan bahasa tersebut, Menag Nasaruddin Umar berharap semakin banyak mahasiswa dari lembaga pendidikan di bawah Kemenag yang mampu melanjutkan studi di perguruan tinggi terbaik dunia.
Sementara itu, CEO ETS Amit Sevak menyampaikan bahwa lembaganya memiliki komitmen untuk mendukung transformasi pendidikan di Indonesia. ETS dikenal sebagai pengembang dan pengelola berbagai tes bahasa serta akademik berstandar internasional yang digunakan secara luas di berbagai negara.
Ia menjelaskan bahwa salah satu kontribusi strategis yang dapat diberikan ETS adalah melalui proses pemetaan atau mapping kompetensi bahasa di lingkungan pendidikan. “Kami bekerja secara kolaboratif untuk mendukung pendidikan di Indonesia. Salah satu fungsi strategis yang kami tawarkan adalah proses mapping atau pemetaan. Ini penting untuk memotret secara akurat bagaimana kemampuan bahasa dari pengajar maupun institusi akademika, sehingga langkah pengembangan yang diambil bisa lebih tepat sasaran,” kata Amit Sevak.
Menanggapi hal tersebut, Nasaruddin Umar menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Ia menilai pemetaan kompetensi berbasis standar internasional dapat membantu Kemenag merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih efektif dan terarah. “Pertemuan ini sangat positif dan sejalan dengan komitmen kami. Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia harus dimulai dari penguatan kompetensi dasarnya, yaitu bahasa. Kami menyambut baik setiap kolaborasi yang berdampak baik untuk meningkatkan kapasitas pelajar, mahasiswa, hingga tenaga pendidik kita,” pungkas Menag.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Basnang Said, serta perwakilan IIEF yang mendampingi delegasi ETS.










