Menjiwai Nada, Merawat Sejarah: Kisah Ping Pradhana dan Dedikasi Musik Malang dari Era 70-an

KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Di balik hingar-bingar industri musik modern, terselip kisah dedikasi yang mengakar kuat pada nilai-nilai ketulusan dan sejarah. Ping Pradhana, musisi veteran yang telah meniti karier sejak tahun 1975, membagikan refleksi mendalam mengenai filosofi bermusik, tantangan zaman dulu, hingga pentingnya peran pemerintah dalam menjaga ekosistem seni lokal.


​Perjalanan musik Ping dimulai sejak bangku Sekolah Dasar. Ia tidak tumbuh secara otodidak semata, melainkan ditempa oleh tangan dingin almarhum Pak Salam Salim, sosok yang ia juluki sebagai “pujangga” musik Malang.

​”Beliau adalah guru khusus saya. Rumahnya di belakang Kartika Prince menjadi saksi bisu awal proses belajar saya,” kenang Ping, sela-sela latihan di Rumah Makan (RM) Kertanegara, bascame mereka, Jumat (09/01/2026).

Bacaan Lainnya

Selain Pak Salam, ia menyebut tokoh seperti Bapaknya Yuda dan Pak Azis Kidul Pasar sebagai pilar utama yang membentuk ekosistem musik di Malang pada masa itu.

​Bagi Ping, instrumen musik hanyalah benda mati hingga sentuhan perasaan menghidupkannya. Ia menekankan bahwa perbedaan mendasar antara musisi dan pekerjaan rutin lainnya terletak pada penghayatan.

​Menurutnya, kesedihan atau himpitan ekonomi bukan penghalang, melainkan bahan bakar untuk melahirkan karya yang agung.

“Kunci sukses itu hanya satu: Kemauan,” tegasnya.

Ia percaya bahwa rezeki akan mengikuti kualitas permainan yang maksimal.

​Bergabung dalam Malang Legend Band, Ping menekankan bahwa kualitas teknis tidak akan berarti tanpa Chemistry. Baginya, kecocokan antar pemain tidak bisa dibangun secara instan di atas panggung, melainkan melalui interaksi personal seperti ngopi dan hobi bersama.

​Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada rekan sejawatnya seperti Edy Pramono dan Hari Konco, yang ia sebut sebagai musisi senior dengan kualitas dan konsistensi yang tetap terjaga hingga kini.

​Sebagai pelaku sejarah musik Malang, Ping Pradhana menitipkan harapan besar kepada Pemerintah Daerah agar lebih peka terhadap ruang berekspresi para musisi lokal.

Pemerintah diharapkannya tidak hanya memberikan izin keramaian, tetapi juga aktif menyediakan panggung atau venue publik yang layak bagi musisi lintas generasi untuk menunjukkan bakatnya.

Mengingat banyaknya musisi legendaris asal Malang, ia berharap pemerintah daerah mendokumentasikan atau mengapresiasi sejarah musik lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

Ping berharap ada regulasi yang lebih memihak pada pemberdayaan musisi lokal dalam acara-acara resmi daerah, sehingga musisi lokal menjadi tuan rumah di kotanya sendiri.

Mengenang sulitnya mencari peralatan di masa lalu (hingga harus merebus senar bass), ia berharap pemerintah bisa memfasilitasi pusat latihan atau bantuan sarana bagi bibit-bibit musisi muda yang terkendala biaya.

​”Musik adalah identitas sebuah kota. Kami berharap pemerintah daerah melihat musisi bukan sekadar penghibur, tapi sebagai aset budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya melalui fasilitas dan apresiasi yang nyata,” pungkas Ping.

Pewarta : Doni Kurniawan
Editor : Denny W

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *