Kabupaten Brebes adalah tanah yang sejak lama mengajarkan kesabaran kepada warganya karena petani menanam bawang merah dengan keyakinan yang panjang, nelayan menatap laut dengan harapan yang tenang, dan kaum buruh membangun hidup dari kerja yang dimulai sejak fajar, para pedagang yang membuka lapak di pasar tradisional, dan keluarga keluarga sederhana memulai hari dari dapur yang mengepul, sebuah kehidupan yang perlahan membentuk kesadaran bahwa tanah ini bertahan melalui tangan orang orang yang setia merawatnya.
Di tanah seperti itulah pada 18 Januari 1992 lahir Paramitha Widya Kusuma, seorang anak Brebes yang tumbuh bersama irama kehidupan rakyat sederhana, menyaksikan sawah yang berubah warna mengikuti musim dan pasar yang hidup oleh suara tawar menawar, sehingga sejak dini ia mengenal bahwa kehidupan masyarakat adalah guru yang paling jujur bagi siapa pun yang ingin memahami arti pengabdian.
Di tengah kehidupan keluarga yang mengenal arti kerja keras, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya. Sejak kecil ia mengenal bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendiri. Ada ayah yang menjadi teladan tentang keteguhan dan tanggung jawab, ada ibu yang menghadirkan keteduhan rumah, dan ada keluarga yang mengajarkan kebersamaan sebagai kekuatan dalam menghadapi kehidupan.
Ayahnya adalah Indra Kusuma, seorang tokoh politik yang pernah memimpin Kabupaten Brebes selama dua periode dari tahun 2002 hingga 2010. Bagi masyarakat Brebes, nama Indra Kusuma tidak sekadar menjadi bagian dari sejarah pemerintahan daerah, tetapi juga dikenang sebagai simbol sebuah masa ketika daerah ini bergerak dengan semangat pembangunan yang kuat.
Di dalam rumah ia melihat bagaimana seorang pemimpin tidak hanya hadir di ruang kantor pemerintahan, tetapi juga di sawah tempat petani bekerja, di pasar tempat pedagang mencari nafkah, dan di desa-desa tempat kehidupan masyarakat berlangsung setiap hari. Dari ayahnya ia belajar bahwa kekuasaan hanya memiliki arti ketika digunakan untuk melayani masyarakat.
Di balik ketegasan seorang ayah dalam dunia politik, terdapat sosok ibu yang menjaga kehangatan rumah. Ibunya, Maryatun, dikenal sebagai perempuan sederhana yang memiliki keteguhan hati dalam menjaga keluarga.
Dari ibunya Paramitha belajar bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak hanya lahir dari ruang politik atau dari jabatan yang tinggi, tetapi juga dari rumah yang penuh kasih dan dari doa yang tidak pernah putus. Nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian kepada sesama yang ditanamkan di rumah itu menjadi fondasi batin yang mengiringi perjalanan hidupnya hingga hari ini.
Lingkungan keluarga menjadi ruang pertama tempat ia belajar tentang empati dan tanggung jawab. Ia tidak tumbuh sendirian, melainkan bersama saudara-saudara yang menjadi bagian dari lingkaran dukungan keluarga. Dalam dunia politik yang sering penuh hiruk pikuk, keluarga sering menjadi tempat pulang yang paling tenang, tempat seseorang kembali mengingat bahwa kehidupan tidak hanya tentang jabatan dan tanggung jawab publik, tetapi juga tentang menjaga hubungan kemanusiaan yang sederhana.
Dalam perjalanan hidupnya Paramitha juga menemukan pasangan yang berjalan bersamanya dalam kehidupan rumah tangga. Ia menikah dengan Ahmad Saeful Ansori, sosok yang lebih banyak berada di belakang layar namun memiliki peran penting dalam mendukung perjalanan hidupnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Ahmad Saeful Ansori dikenal sebagai pribadi yang tenang dan sederhana, seseorang yang mendampingi Paramitha bukan hanya sebagai suami tetapi juga sebagai sahabat yang memberi dukungan ketika beban kepemimpinan terasa berat. Rumah menjadi ruang di mana seorang pemimpin kembali menjadi manusia biasa, berbagi cerita, dan mengumpulkan kembali kekuatan sebelum kembali menghadapi berbagai persoalan daerah.
Dari pernikahan tersebut lahirlah dua anak yang menjadi kebahagiaan dalam kehidupan keluarga mereka. Nama anak-anak itu jarang disebut secara terbuka di ruang publik karena keluarga memilih menjaga privasi mereka dari sorotan politik. Namun kehadiran mereka menjadi cahaya dalam kehidupan Paramitha.
Mereka adalah pengingat bahwa kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang masa kini, tetapi juga tentang masa depan. Anak-anak itu menjadi alasan mengapa ia ingin Brebes tumbuh menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.
Masa kecil di Brebes juga mempertemukannya dengan kehidupan rakyat yang beragam. Sawah yang luas memperlihatkan kesabaran petani yang menunggu musim panen, pesisir memperlihatkan keberanian nelayan yang menantang laut setiap hari, dan pasar tradisional memperlihatkan kegigihan para pedagang yang menjaga denyut ekonomi rakyat sejak pagi hingga malam.
Dari ruang-ruang kehidupan seperti itulah ia mengenal bahwa masyarakat Brebes memiliki kekuatan yang lahir dari kerja keras dan ketekunan yang panjang. Masa kecil di lingkungan seperti itu perlahan membentuk pandangan hidup bahwa kehidupan masyarakat bukan sekadar latar belakang sosial, melainkan sumber pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, dan kekuatan untuk bertahan di tengah berbagai perubahan zaman.
Perjalanan pendidikannya membuka pintu pengetahuan yang lebih luas, namun ingatan tentang Brebes tetap tinggal seperti akar yang menembus bumi, mengikat seseorang pada asalnya sekaligus memanggilnya kembali ketika tanggung jawab terhadap tanah kelahiran mulai menuntut kehadiran yang lebih besar.
Langkah politik kemudian membawanya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada periode 2019 sampai 2024, sebuah pengalaman yang mempertemukannya dengan berbagai perdebatan tentang kebijakan negara, energi, industri, dan pembangunan, sehingga ia memahami bahwa setiap keputusan yang lahir di tingkat nasional pada akhirnya menyentuh kehidupan masyarakat di daerah daerah seperti Brebes.
Namun perjalanan yang jauh sering justru menegaskan satu kesadaran yang lebih dalam bahwa rumah selalu memiliki cara untuk memanggil anak anaknya pulang, terutama ketika tanah kelahiran membutuhkan tenaga dan pikiran untuk menjaga masa depannya.
Ketika rakyat Brebes memberikan amanah kepadanya untuk memimpin daerah ini, ia menyadari bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang menyentuh kehidupan banyak orang, sebuah kesadaran yang pernah ia ungkapkan
“Jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan integritas.”
Amanah itu kemudian disahkan pada 20 Februari 2025 ketika Presiden Prabowo Subianto melantik dirinya bersama Wurja sebagai Bupati dan Wakil Bupati Brebes, menandai awal perjalanan kepemimpinan baru yang membawa harapan bagi masyarakat di pesisir utara Jawa Tengah ini.
Dalam pidato pertamanya, ia mengajak seluruh masyarakat meninggalkan perbedaan politik yang pernah terjadi selama proses pemilihan dan berjalan bersama untuk masa depan daerah, sebuah seruan yang ia sampaikan
“Proses kompetisi telah berakhir. Kita semua adalah pemenangnya. Mari bergandeng tangan membangun Brebes.”
Seruan itu menghadirkan kesadaran bahwa pembangunan daerah tidak pernah lahir dari satu kekuatan saja karena masa depan selalu dibangun oleh kebersamaan antara pemerintah dan rakyat yang bekerja bersama menjaga kehidupan.
Kesadaran tentang kebersamaan itulah yang kemudian dirangkum dalam visi kepemimpinannya yang dikenal luas dengan ungkapan “Brebes Beres“, sebuah harapan agar berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat perlahan menemukan jalan penyelesaian melalui kerja yang sabar dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.
Dalam kesempatan serah terima jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes ia juga menegaskan kembali amanah tersebut dengan kalimat
“Masyarakat Brebes memberi kami amanah untuk membereskan Brebes. Ini bukan perkara mudah, tetapi kuncinya adalah kebersamaan.”
Karena itu ia juga mengingatkan bahwa arah kebijakan pemerintahan daerah harus selalu kembali kepada kehidupan masyarakat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung daerah, sebuah prinsip yang pernah ia ungkapkan dalam pernyataannya.
“Setiap kebijakan harus berpihak kepada rakyat kecil.”
Brebes sendiri adalah ruang kehidupan yang menyimpan kekuatan besar sekaligus tantangan yang panjang karena tanahnya subur bagi pertanian, lautnya memberi penghidupan bagi nelayan, dan desa desanya berdiri dengan semangat gotong royong meskipun berbagai persoalan pembangunan masih memerlukan perhatian yang berkelanjutan.
Banjir dan longsor yang datang pada musim hujan, jalan yang membutuhkan perbaikan, serta fluktuasi harga hasil pertanian yang mempengaruhi kehidupan petani menjadi bagian dari kenyataan yang terus menguji keteguhan kepemimpinan di daerah ini.
Di tengah kenyataan tersebut kepemimpinan memperoleh maknanya melalui kerja yang berlangsung dari hari ke hari dengan kesabaran yang panjang, seperti petani yang menanam benih dengan keyakinan bahwa setiap musim selalu membawa kemungkinan panen bagi mereka yang setia merawat tanahnya.
Dalam pandangan yang lebih luas kepemimpinan juga merupakan perjalanan batin yang menuntut seseorang untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi sehingga kekuasaan berubah menjadi jalan pengabdian yang hidup di tengah rakyat.
Kesadaran tentang masa depan generasi juga selalu hadir dalam pandangannya tentang pembangunan daerah, sebuah keyakinan yang pernah ia sampaikan ketika berbicara tentang pendidikan dan anak anak Brebes.
“Anak anak kita adalah titipan masa depan Brebes. Masa depan bangsa ada di tangan mereka.”
Pernyataan itu menggambarkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang jalan, bangunan, atau proyek pembangunan, melainkan juga tentang masa depan generasi yang akan melanjutkan kehidupan daerah ini.
Selama kesadaran tentang amanah, kebersamaan, dan masa depan itu tetap dijaga, Brebes akan terus bergerak seperti napas panjang yang mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjaga tanah ini tetap menjadi rumah bagi mereka yang bekerja, berharap, dan mencintainya dengan setia.










