KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Semeru Institute sukses menggelar simposium lintas elemen bertajuk Simposium Aktivis Malang Raya pada Minggu (15/02/2026). Bertempat di tengah suasana Kota Malang yang diguyur hujan deras, acara ini menjadi panggung diskusi intelektual yang mempertemukan aparat penegak hukum, akademisi, dan aktivis sipil dalam satu meja.
Agenda utama kegiatan ini adalah bedah buku “Move In Silence” karya Kombes Pol Putu Kholis Aryana, yang saat ini menjabat sebagai Kapolresta Malang Kota. Buku tersebut mengupas tuntas dinamika penegakan hukum serta refleksi mendalam atas Tragedi Kanjuruhan.
Diskusi menjadi semakin berbobot dengan kehadiran empat narasumber ahli yang membedah karya tersebut dari berbagai sudut pandang:
1. Bambang Rukminto Pengamat Kepolisian (ISESS), menyoroti sisi institusional Polri dan tantangan transformasi kepolisian dalam menangani konflik massa.
2. Hutri Agustino, Ph.D. Pakar Sosiologi (UMM) Membedah dinamika sosial masyarakat Malang pasca-tragedi dan bagaimana pola interaksi sosial terbentuk di tengah duka.
3. Fahrudin Pakar Hukum (Unisma) Menitikberatkan pada aspek legalitas, keadilan bagi korban, dan prosedur penegakan hukum yang ditulis dalam buku.
3. Dr. Redy Eko Prasetyo Pegiat Budaya (UB) Melihat peristiwa dari kacamata budaya masyarakat (kultur suporter) dan pentingnya pendekatan humanis/budaya dalam resolusi konflik.
Penulis buku, Kombes Pol Putu Kholis Aryana, hadir langsung memberikan pemaparan. Ia menegaskan bahwa forum ini adalah bentuk transparansi dan upaya Polri untuk tetap dekat dengan elemen kritis seperti mahasiswa dan aktivis.
”Aparat penegak hukum harus senantiasa dekat dengan masyarakat. Forum seperti ini perlu dilakukan secara berkesinambungan sebagai ruang refleksi bersama agar kita bisa membangun tatanan yang lebih baik,” ujar Kombes Pol Putu Kholis.
Meskipun cuaca ekstrim melanda, antusiasme peserta dari organisasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga aktivis suporter tetap tinggi. Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai kritik tajam dan masukan konstruktif yang dilontarkan peserta kepada pihak kepolisian.
Kadrian Muhlis, Direktur Semeru Institute, menyatakan bahwa simposium ini merupakan rangkaian dari pengukuhan Pengurus Wilayah Semeru Institute. Ia menegaskan lembaga ini akan terus menjadi jembatan dialog antara masyarakat sipil dan aparat.
”Kami berkomitmen menjadi wadah kolaborasi demi terciptanya tatanan sosial yang adil, transparan, dan berkeadaban. Kehadiran berbagai elemen hari ini membuktikan bahwa ruang dialektika di Malang masih sangat hidup,” pungkas Kadrian.
Pewarta : Doni Kurniawan.
Editor : Denny W










