PURWOKERTO (JATENG), SUARAPANCASILA.ID_ Persoalan banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kota Purwokerto kembali menjadi perhatian dalam kegiatan reses Anggota DPRD Kabupaten Banyumas, Abdullah Arif Budiman. Kegiatan tersebut digelar di Balai Pertemuan Pugoro, Kelurahan Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur, Jumat (6/2/2025) malam.
Reses dihadiri Abdullah Arif Budiman yang juga merupakan anggota Komisi III DPRD Banyumas dari Partai Demokrat, Ketua MPC Pemuda Pancasila (PP) Banyumas Yudo F Sudiro, Lurah Kranji Rio Chairil Anam, Ketua RW 7 Kelurahan Kranji, para ketua RT, serta sekitar 100 warga setempat.
Dalam sambutannya, Lurah Kranji Rio Chairil Anam mengatakan bahwa kegiatan reses merupakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada wakil rakyat.
Ia mendorong warga memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di lingkungan masing-masing. “Silakan warga menyampaikan usulan kepada wakil kita di DPRD,” ujar Rio.
Rio juga menyinggung kondisi efisiensi anggaran yang saat ini diterapkan pemerintah. Menurutnya, keterbatasan anggaran berdampak pada berbagai aktivitas pemerintahan, termasuk kegiatan rapat.
“Sekarang efisiensi anggaran, rapat saja hanya minum air mineral dan harus difoto untuk SPJ,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Rio mengungkapkan bahwa persoalan banjir di Kali Caban yang selama ini menjadi masalah di wilayah RT 7 RW 6 Kelurahan Kranji, baru saja ditangani melalui penyodetan aliran sungai. Penanganan tersebut dilakukan dengan melibatkan warga setempat dan mendapat dukungan dari organisasi masyarakat Pemuda Pancasila.
“Alhamdulillah, setelah dilakukan penyodetan, kondisi sudah normal dan luapan air berkurang. Terima kasih kepada Pemuda Pancasila dan Pak Abdullah Arif Budiman atas bantuan tenaga dan donasinya,” ujarnya.
Menanggapi aspirasi warga, Abdullah Arif Budiman menyampaikan bahwa persoalan banjir di kawasan perkotaan Purwokerto saat ini menjadi isu krusial.
Namun demikian, ia menilai bahwa maraknya pembangunan permukiman di wilayah utara tidak dapat serta-merta dijadikan satu-satunya penyebab.
“Sistem agraria di Indonesia memungkinkan pemilik Sertifikat Hak Milik membangun rumah, baik secara individu maupun melalui pengembang,” ujar legislator yang akrab disapa Budi Patriot tersebut.
Ia menjelaskan, terdapat tiga sungai utama yang membelah Kota Purwokerto sebagai limpahan air hujan. Yaitu Sunga Banjaran, Sungai Banjaran yang bermuara ke Sungai Logawa. Kemudian Sungai Bener atau Kali Bener, dan Kali Pelus, keduanya bermuara di Sungai Serayu.
Dari keempat sungai tersebut, Kali Bener perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Pada aliran Sungai Bener yang melewati wilayah Karanglucung, pada tahun 2017 pernah dilakukan normalisasi berupa pengerukan lumpur dan meluruskan aliran sungai yang semula berbelok-belok seperti hurus “S”. Namun saat ini sudah meluap lagi karena volume air semakin besar. Sehingga perlu dilanjutkan normalisasi dan meluruskan aliran sungai yang masih berbelok-belok di wilayah Karangklesem, Teluk, Karangnanas, Wiradadi, dan seterusnya, supaya aliran air lebih cepat mengalir ke muara sungai yang lebih besar
Terkait Kali Caban, Budi Patriot menilai solusi jangka panjang yang perlu dilakukan adalah penyodetan aliran sungai dari kawasan SMK Kesatrian ke Kali Kranji guna mengurangi beban debit air. Namun, ia mengakui keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama.
“Anggaran saat ini belum ada, sehingga kami berharap dukungan dari Komisi V DPR RI,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MPC Pemuda Pancasila Banyumas Yudo F Sudiro mengatakan bahwa organisasinya memiliki program peduli banjir yang melibatkan warga secara langsung dalam penanganan di lapangan, khususnya di wilayah Purwokerto Timur.
“Kita harus sepakat agar Pemkab Banyumas lebih peduli terhadap persoalan banjir. Kelurahan Karanglucung juga menjadi wilayah penerima limpahan air, sehingga saat ini sedang kami usulkan penanganannya ke DPR RI,” kata Yudo.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memikirkan solusi persoalan banjir di Purwokerto. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kunci dalam upaya penanganan bencana tersebut.
Ketua RW 6 Kelurahan Kranji, Bayu Anggoro, menyampaikan apresiasi atas bantuan berbagai pihak dalam proses penyodetan Kali Caban. Warga pun merasakan langsung dampak positif dari upaya tersebut.
“Alhamdulillah, setelah ada sodetan, tidak terjadi banjir lagi. Terima kasih kepada para donatur,” ujar salah seorang warga.
Ketua PKK RW 6 Kelurahan Kranji, Cici, menuturkan bahwa banjir di wilayahnya telah terjadi sejak 2021. Ia berharap upaya pencegahan terus dilakukan, salah satunya melalui pembangunan sumur resapan di setiap RT.
“Kami setuju dengan apa yang disampaikan Pak Abdullah Arif Budiman. Jika masyarakat bisa mengatasi banjir, tidak harus selalu menunggu bantuan pemerintah. Gotong royong adalah roh solusi di masyarakat,” katanya.
Di akhir kegiatan reses, Abdullah Arif Budiman menyerahkan bantuan untuk kas lingkungan setempat sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penanganan banjir berbasis partisipasi warga.









