Sakral dan Penuh Magis, Atraksi Bantengan Laskar Joyo Sentono Hipnotis Warga Arjowinangun

Atraksi Bantengan Laskar Joyo Sentono dan Suro Kencono Arum hipnotis warga Arjowinangun. Foto (Doni Kurniawan/suarapancasila.id)

KOTA MALANG (JATIM),SUARAPANCASILA.ID – Paguyuban Kesenian Pencak Silat dan Bantengan Laskar Joyo Sentono menggelar prosesi sakral sekaligus atraksi Bantengan di sekitar markas mereka di Jalan Tutut III, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Minggu (5/7/2026) sore. Kegiatan berlangsung khidmat dengan melibatkan kolaborasi Paguyuban Kesenian Pencak Silat dan Bantengan Suro Kencana Arum.

Tradisi yang masih terus dijaga tersebut diawali dengan iring-iringan dua replika banteng, gunungan tumpeng jajan pasar, serta tumpeng nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Puluhan anggota paguyuban bersama warga berjalan menuju Punden Mbah Sentono, yang diyakini sebagai salah satu leluhur pembabat wilayah setempat.

Di lokasi punden, sesepuh memimpin prosesi ujub dan doa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus memohon keselamatan, kelancaran rezeki, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya. Seluruh peserta mengikuti doa dengan khusyuk.

Bacaan Lainnya

Usai doa dipanjatkan, gunungan jajan pasar yang telah didoakan diperebutkan warga, terutama anak-anak. Mereka meyakini makanan yang telah didoakan membawa berkah. Di sisi lain, para anggota paguyuban menikmati tumpeng nasi bersama-sama sebagai simbol persaudaraan, rasa syukur, serta harapan agar kebersamaan tetap terjaga.

Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, rombongan kembali ke markas Laskar Joyo Sentono untuk melaksanakan atraksi Bantengan yang menjadi puncak acara.

Suasana berubah semakin khidmat ketika perlengkapan ritual mulai disiapkan. Asap dupa dan menyan perlahan mengepul memenuhi arena. Aroma minyak wangi khas ritual berpadu dengan asap kemenyan menciptakan nuansa sakral yang begitu terasa.

Dentuman musik kendang, bunyi gong, kenong, serta sorak penonton membangun atmosfer yang penuh energi. Dua replika banteng mulai menari mengikuti irama musik. Gerakannya perlahan berubah menjadi semakin agresif, liar, dan penuh tenaga.

Beberapa pemain yang dipercaya menjadi pemeran Bantengan mulai menunjukkan perubahan perilaku. Tubuh mereka bergetar, napas memburu, tatapan mata berubah tajam, sementara gerakan menjadi sulit dikendalikan. Dalam tradisi Bantengan, kondisi tersebut dikenal masyarakat sebagai kalap atau trance.

Saat memasuki fase itu, para pemain bergerak menyerupai banteng liar. Mereka mengaum, menghentakkan kaki ke tanah, menggelengkan kepala dengan kuat, hingga beberapa kali berusaha menerobos kerumunan penonton. Tim pengaman dari anggota paguyuban sigap membentuk pagar manusia untuk menjaga keselamatan penonton sekaligus mengendalikan peserta yang sedang kalap.

Makan tumpeng nasi beserta lauk pauk di punden Mbah Sentono usai ujud doa. Foto (Doni Kurniawan/ suarapancasila.id)

Sesekali peserta yang sedang trance meminta dedaunan, air, maupun benda tertentu sesuai permintaan yang diyakini muncul saat kondisi tersebut. Para pawang kemudian mendekati pemain sambil memberikan doa-doa, usapan, serta arahan agar kondisi tetap terkendali. Setelah beberapa saat, peserta perlahan kembali sadar dan dipapah menuju tempat istirahat.

Prosesi tersebut berlangsung tertib karena seluruh tahapan telah dipersiapkan dengan matang oleh panitia dan para sesepuh paguyuban.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari sejumlah sponsor yang turut berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan acara, serta dukungan masyarakat sekitar yang ikut menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran jalannya kegiatan. Selain menjadi ajang pelestarian budaya, penyelenggaraan atraksi Bantengan juga melibatkan pemberdayaan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat. Berbagai stan makanan, minuman, hingga produk usaha warga turut meramaikan lokasi kegiatan sehingga memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat.

Pemilik Kesenian Bantengan Laskar Joyo Sentono, Sutiari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan tradisi Bantengan di wilayah Arjowinangun.

“Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan hiburan. Ada nilai spiritual, budaya, persaudaraan, dan penghormatan kepada para leluhur yang selalu kami jaga. Prosesi dimulai dari doa di punden, makan tumpeng bersama hingga atraksi Bantengan sebagai simbol semangat, keberanian, dan kebersamaan masyarakat,” ujar Sutiari.

Menurutnya, kondisi kalap yang dialami sebagian pemain merupakan bagian dari tradisi Bantengan yang harus disikapi dengan bijaksana.

Pembuka atraksi Bantengan Laskar Joyo Sentono. Foto (Doni Kurniawan/ suarapancasila.id)

“Kalau ada pemain yang kalap, semuanya sudah ada tata caranya. Kami memiliki pawang yang mendampingi sejak awal sampai akhir pertunjukan. Keselamatan pemain dan penonton menjadi prioritas. Kami juga selalu mengingatkan anggota agar menjaga sikap, disiplin, dan menghormati seluruh rangkaian ritual yang dijalankan,” jelasnya.

Sutiari menambahkan, saat ini Laskar Joyo Sentono memiliki sekitar 50 anggota yang sebagian besar merupakan generasi muda dari berbagai wilayah di Malang. Hal itu menjadi bukti bahwa kesenian Bantengan masih diminati kalangan muda.

“Alhamdulillah anggota kami sekitar 50 orang. Mayoritas anak-anak muda dari berbagai daerah di Malang. Ini menjadi harapan besar bagi kami karena regenerasi terus berjalan. Kami ingin membuktikan bahwa Bantengan bukan budaya yang tertinggal, tetapi warisan leluhur yang tetap hidup dan dicintai generasi sekarang,” katanya.

Prosesi ujub doa di punden leluhur desa (Mbah Sentono). Foto (Doni Kurniawan/ suarapancasila.id)

Ia berharap keberadaan Laskar Joyo Sentono dapat terus menjadi wadah pembinaan generasi muda agar mencintai budaya daerah sekaligus menjauhkan mereka dari kegiatan negatif.

“Kami ingin anak-anak muda bangga menjadi bagian dari pelestari budaya. Melalui latihan pencak silat, kesenian Bantengan, dan kegiatan sosial, kami berharap tradisi ini tetap lestari serta menjadi identitas budaya Malang yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.

REPORTER : DONI KURNIAWAN
EDITOR : DENNY W

suarapancasilaid'

Pos terkait