KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Memasuki gerbang satu abad Nahdlatul Ulama (NU), sebuah peradaban besar tengah merayakan konsistensinya dalam menjaga moderasi. Bagi Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (DPD PITI) Malang Raya, peringatan yang akan mencapai puncaknya di Stadion Gajayana (7-8 Februari 2026) ini bukan sekadar perayaan organisasi, melainkan sebuah simposium nilai tentang bagaimana Islam dan kebangsaan berpadu secara estetik.
Ketua DPD PITI Malang Raya, Leo A. Permana, S.H., M.Hum., memandang perjalanan seratus tahun NU melalui kacamata intelektual yang memadukan prinsip Islam dengan kearifan luhur Tionghoa. Menurutnya, NU telah berhasil mengimplementasikan konsep “He er bu tong” (和而不同)—Harmoni dalam Perbedaan.
”Dalam satu abad ini, NU telah menjadi oase bagi prinsip Wasathiyah (moderat). Bagi kami, warga PITI, NU adalah manifestasi nyata dari Tian Xia Yi Jia (天下一家)—Di bawah langit, kita adalah satu keluarga. Inilah esensi dari Ukhuwah Wathaniyah yang selama ini dijaga oleh para kiai,” ujar Leo A. Permana, Selasa (03/02/2026).
Leo menegaskan bahwa intelektualitas NU dalam meramu fiqih dengan kearifan lokal (Ur’f) memberikan ruang bagi etnis Tionghoa untuk memeluk Islam tanpa harus kehilangan akar budayanya. Inilah yang disebutnya sebagai jembatan emas menuju Ihsan dalam berbangsa.
Secara historis, PITI melihat NU memiliki kekuatan pada sanad keilmuan yang terjaga. Berdirinya NU pada 16 Rajab 1344 H oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari merupakan titik tolak perlawanan terhadap kolonialisme melalui jalur intelektual dan spiritual.
KH Hasyim Asy’ari dan etika sosialnya menanamkan bahwa menjaga persatuan adalah bagian dari iman. Sedangkan KH Wahab Hasbullah dengan diplomasinya, membuka cakrawala bahwa Islam harus bergerak dinamis di panggung global.
Kemudian, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sang maestro pluralisme yang bagi PITI adalah sosok yang menghidupkan kembali konsep Ren (仁) atau Kemanusiaan bagi warga Tionghoa di Indonesia.
Leo A. Permana menekankan bahwa tantangan di abad kedua bukan lagi soal eksistensi, melainkan bagaimana menjaga Dao (道) atau Jalan Kebenaran di tengah gempuran polarisasi ideologi.
”PITI Malang Raya melihat NU sebagai benteng intelektual yang melindungi nalar publik dari ekstremisme. Kami berdiri bersama NU untuk memastikan bahwa Islam di Indonesia tetaplah Islam yang penuh kasih sayang, yang menghargai setiap tetes darah dan keringat anak bangsa, tanpa memandang etnisitas,” tambahnya.
Momentum di Stadion Gajayana pada Februari 2026 mendatang menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa selama NU tetap berdiri sebagai pilar moderasi, maka rumah besar bernama Indonesia akan tetap kokoh dalam bingkai toleransi yang hakiki.
Pewarta : Doni Kurniawan
Editor : Denny W










