Sosialisasi Kampung Ramadhan, Kadiskoperindag Sawahlunto Disambut Keluhan Para Pedagang Silo

SAWAHLUNTO (SUMBAR) – SUARA PANCASILA.ID-Jelang bulan suci Ramadan, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sawahlunto menggelar sosialisasi kepada para pedagang guna mengantisipasi meningkatnya aktivitas perdagangan, khususnya di sektor kuliner.

Sosialisasi tersebut membahas penetapan titik-titik lokasi yang akan menjadi pusat aktivitas perdagangan selama Ramadan. Tahun ini, selain Pasar Pabukoan di Pasar Pusat Kota, Pemerintah Kota Sawahlunto juga memfasilitasi tiga kawasan tambahan, yakni di depan Sekretariat KONI, Jalan A. Yani depan pertokoan Pasar Remaja, serta kawasan Stasiun Kereta Api Kampung Teleng.

Kawasan Kampung Teleng merupakan bagian dari program BAZNAS Sawahlunto bertajuk “Z Iftar Kampung Ramadan”, yang juga direncanakan menampung pedagang dari Pasar Kuliner Silo Sawahlunto.

Bacaan Lainnya

“Untuk itulah kami mengadakan sosialisasi kepada bapak dan ibu pedagang, sekaligus menampung aspirasi terkait perkembangan aktivitas jual beli di lokasi ini,” ujar Kepala Diskoperindag Sawahlunto, Tatang Sumarna, saat sosialisasi di Pasar Kuliner Silo Sawahlunto, Selasa (10/2/2026).

Tatang menjelaskan, pedagang yang berminat berpindah ke Kampung Ramadan BAZNAS Sawahlunto dipersilakan mendaftarkan diri dengan menyerahkan persyaratan berupa fotokopi KTP, KK, dan SLTM ke Sekretariat BAZNAS Sawahlunto. Sementara pedagang yang memilih tetap berjualan di lokasi saat ini juga tetap diperbolehkan.

Menanggapi pertanyaan awak media terkait tidak dipusatkannya kegiatan Kampung Ramadan di kawasan Silo, Tatang menjelaskan bahwa penentuan lokasi tersebut merupakan ketentuan dari pihak BAZNAS.

“Persyaratan lokasi Kampung Ramadan harus berada dekat dengan masjid. Karena Kampung Teleng berdekatan dengan Masjid Agung, maka lokasi itulah yang dipilih oleh BAZNAS Sawahlunto,” jelasnya.

Dalam sesi diskusi, sejumlah pedagang kembali menyampaikan apa yang menjadi keluhan mereka selama ini yaïtu tentang kondisi kawasan Pasar Kuliner Silo yang dinilai minim fasilitas. Mereka menyoroti persoalan genangan air saat hujan serta letaknya yang relatif terisolasi karena jauh dari jalur lalu lintas utama.

“Sudah enam bulan kami direlokasi ke sini tanpa adanya sarana pendukung. Saat hujan, kondisi sangat memprihatinkan dan membuat pembeli enggan datang,” kata Ria, salah seorang pedagang yang sebelumnya berjualan di depan Kompleks Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Sawahlunto.

Keluhan serupa disampaikan May, pedagang lain yang juga berasal dari kawasan GPK. Ia berharap dapat kembali berjualan di lokasi semula.

Pedagang lainnya turut menyatakan keinginan untuk kembali ke kawasan asal sebelum direlokasi, dengan alasan sepinya transaksi serta kondisi lapak yang belum memadai, khususnya karena area berdagang masih berupa tanah dan kerap tergenang air saat hujan.

Pos terkait