Tutup Usia 103 Tahun, Veteran Ni Wayan Ranta Dilepas dengan Upacara Militer

oplus_2

BADUNG,SUARAPANCASILA.id– Langit Desa Adat Banjar Jempanang pada Jumat (09/01/2026) tidak hanya menyuguhkan rintik hujan yang syahdu, namun juga menjadi saksi bisu sebuah prosesi transendental yang memadukan sakralitas tradisi Pitra Yadnya dengan kehormatan tertinggi negara. Pengabenan almarhumah Ni Wayan Ranta(103 tahun), seorang pejuang veteran yang dedikasinya telah terpatri dalam sejarah, dilaksanakan dengan upacara militer yang penuh khidmat.

Nyoman Tingkes,

Prosesi yang dimulai tepat pukul 11.00 WITA ini dihadiri langsung oleh Danramil 1611/06, Kapten Inf I Nyoman Suarka. Kehadiran unsur TNI merupakan bentuk rekognisi atas jasa almarhumah yang selama masa hidupnya telah mendharmabaktikan diri bagi kedaulatan bangsa.

Bacaan Lainnya

Dalam orasi retrospektifnya, Assoc. Dr. Drs. I Nyoman Tingkes, M.M., memaparkan dimensi historis almarhumah dengan narasi yang menggugah.

“Beliau adalah personifikasi dari ketulusan. Mengabdi tanpa pamrih adalah prinsip yang beliau pegang teguh hingga akhir hayat. Upacara militer hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kebanggaan kolektif masyarakat Jempanang dan Bali atas warisan perjuangan beliau,” ungkap Dr. Nyoman Tingkes.

Beliau juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Indonesia, Kodim 1611/Badung,Koramil 1611/06 serta jajaran prajuru yang telah bersinergi memberikan penghormatan terakhir yang begitu luhur.

Bendesa Adat Jempanang, I Nyoman Artawan, menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya sekaligus memberikan apresiasi tinggi terhadap etos kerja almarhumah. Menurutnya, pengabdian Ni Wayan Ranta adalah teladan nyata bagi generasi muda tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara kewajiban kepada negara dan kearifan lokal Bali.

Nyoman Tingkes,

Turut hadir dalam prosesi ini tokoh-tokoh kunci desa, termasuk Nyoman Jamin (Kelian Banjar Adat Jempanang) dan Made Subrata (Ketua Serati Banjar Jempanang), yang memastikan setiap detail ritual keagamaan berjalan selaras dengan protokol militer.

Meskipun cuaca ekstrem mengguyur lokasi, hal tersebut tidak menyurutkan esensi dari upacara Pitra Yadnya. Sebaliknya, rintik hujan seolah menjadi simbol purifikasi alam dalam mengantarkan atma menuju peristirahatan abadi. Seluruh rangkaian prosesi tetap berlangsung tertib hingga tuntas, mencerminkan keteguhan hati para pelayat sebagaimana keteguhan hati almarhumah semasa berjuang.

Nyoman Tingkes,

Upacara ini meninggalkan pesan kuat bagi publik: bahwa jasa para pahlawan, dalam bentuk sekecil apa pun, akan selalu mendapatkan tempat termulia di hati masyarakat dan negara.

 

AR81

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *