Video Pernyataan Bupati Brebes Soal Nakes Judes Viral, Ditonton 5,8 Juta Kali

BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Video pernyataan Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, mengenai sikap tenaga kesehatan yang dinilai judes kepada pasien, menjadi sorotan publik setelah diunggah di berbagai platform media sosial dan dan memicu diskusi luas di kalangan warganet.

Unggahan akun Instagram Lambe Turah mencatat interaksi yang cukup tinggi. Hingga kini, konten tersebut telah memperoleh 68,1 ribu tanda suka, 5.484 komentar, 1.814 kali dibagikan, serta 3.689 kali disimpan oleh pengguna.

Sementara itu, di TikTok, video yang diunggah akun @ntvnews.id juga menuai respons luar biasa dari masyarakat. Dalam kurun waktu 18 jam sejak dipublikasikan, video tersebut berhasil ditonton lebih dari 5,8 juta kali.

Bacaan Lainnya

Selain jumlah tayangan yang tinggi, interaksi warganet juga signifikan. Video tersebut meraih 336,4 ribu tanda suka, 8.493 komentar, 15,6 ribu kali disimpan, serta 12,2 ribu kali dibagikan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pernyataan Bupati Paramitha tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga menarik perhatian publik secara nasional. Tingginya angka interaksi memperlihatkan bahwa topik pelayanan kesehatan, khususnya sikap tenaga medis terhadap pasien, merupakan isu yang sensitif dan dekat dengan pengalaman masyarakat sehari-hari.

Komentar warganet pun beragam. Sebagian mendukung sikap tegas Bupati yang menuntut pelayanan ramah dari tenaga kesehatan, sementara sebagian lain menilai pernyataan tersebut terlalu keras dan bisa menimbulkan tekanan bagi tenaga medis.

Dalam video yang viral itu, Bupati Paramitha menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di daerahnya. Ia menekankan bahwa tidak boleh ada lagi tenaga kesehatan, baik perawat maupun dokter, yang bersikap ketus kepada pasien, meskipun pelayanan menggunakan BPJS Kesehatan.

“Perawat yang judes-judes harusnya sudah tidak ada. Harusnya tidak ada lagi perawat atau dokter yang ketus sama pasiennya, walaupun berobatnya gratis pakai BPJS. Kalau ada, silahkan DM Instagram saya! Sebut nama, poto orangnya, di video juga,” katanya.

“Kalau ada pelayanan di rumah sakit maupun di puskesmas yang tidak bagus dan tidak baik, yang baru mbak.. Bu… Saya mau… dia mainan hp. Video, saya pastikan dia saya turunkan pangkatnya, kalau nggak suruh keluar dari RSUD atau dari puskesmas yah?” tegas Paramitha.

Menurutnya, masyarakat yang sedang sakit membutuhkan perhatian penuh, bukan sikap dingin dari tenaga medis. Ia menambahkan, jika ada tenaga kesehatan yang tidak puas dengan gaji, lebih baik mencari pekerjaan lain.

“Kalau umpamanya lah gajine secuil (gajinya sedikit) Bupati, kalau tidak senang dengan gaji itu, pindah kerjanya. Kalau pengin mengabdi untuk masyarakat harus memberikan pelayanan yang terbaik,” ujarnya.

Bupati juga memberi arahan khusus kepada para kepala puskesmas agar memastikan tenaga kesehatan turun langsung ke masyarakat melalui program door to door.

“Ini ada kapus-kapus, jangan lupa nakes door to door harus turun, kalau gak turun selama enam bulan, saya ganti tuh kepala puskesmasnya,” katanya.

Program ini, menurutnya, bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan tenaga kesehatan yang aktif mendatangi warga, diharapkan pelayanan bisa lebih cepat, ramah, dan menyentuh langsung lapisan masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
Kepala BPKAD Brebes, Edy Kusmantoro, menyebutkan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp3,7 miliar untuk mendukung program nakes door to door. Dana tersebut akan digunakan sebagai sarana operasional maupun kelengkapan agar tenaga kesehatan bisa melayani masyarakat secara langsung.

Kepala BPKAD Brebes, Edy Kusmantoro, menyebutkan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp3,7 miliar untuk mendukung program nakes door to door. Dana tersebut akan digunakan sebagai sarana operasional maupun kelengkapan agar tenaga kesehatan bisa melayani masyarakat secara langsung.

“Untuk nakes door to door ini program yang langsung menyentuh masyarakat bisa kita support anggaran 3,7 miliar rupiah,” ujar Edy.

Anggaran ini diharapkan mampu memperkuat fasilitas, mulai dari transportasi, peralatan medis sederhana, hingga kebutuhan logistik tenaga kesehatan di lapangan. Dengan dukungan tersebut, tenaga kesehatan tidak hanya hadir di puskesmas, tetapi juga aktif menjangkau warga di desa-desa terpencil.

Menanggapi ramainya komentar warganet, Paramitha menegaskan bahwa inti dari pesannya adalah pengabdian.

“Iya gak papa … kerja di puskesmas maupun RSUD terbanyaknya adalah pengabdian untuk melayani. Kalau mau hitung-hitungan ya kasian pasien yang dilayani. Kan banyak yang minta tolong kerja jadi nakes pasti sudah tahu gajinya kecil. Layanilah pasien seperti saudaranya sendiri, orangtuanya sendiri, anaknya sendiri. Yang nyerang itu tidak mau berubah, nakes kan harus melakukan pelayanan prima pada rakyat,” ucapnya kepada wartawan, Selasa, (17/2/2026).

Paramitha menegaskan bahwa pelayanan kesehatan harus terus ditingkatkan. Ia menekankan bahwa masyarakat yang sedang sakit membutuhkan perhatian, bukan sekadar tindakan medis. Sikap ramah, empati, dan komunikasi yang baik menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan yang berkualitas.

“Karena masyarakat kita, kalau lagi sakit yang dibutuhkan adalah perhatian,” ujarnya.

Dengan adanya program door to door dan pengawasan ketat terhadap sikap tenaga kesehatan, diyakini masyarakat Brebes bisa mendapatkan layanan yang lebih baik, ramah, dan berkualitas. Kehadiran tenaga kesehatan yang aktif turun ke lapangan juga dinilai mampu mengurangi keluhan warga terkait akses layanan yang selama ini terbatas.

Langkah tegas Bupati Brebes ini sekaligus membuka diskusi luas tentang kualitas pelayanan kesehatan di daerah. Sebagian warganet menilai kebijakan tersebut benar-benar akan memperbaiki layanan kesehatan, terutama di pedesaan. Namun, sejumlah pihak juga mengingatkan bahwa tenaga kesehatan menghadapi tantangan besar, mulai dari beban kerja, keterbatasan fasilitas, gaji yang masih kecil, hingga tekanan psikologis.

Pos terkait