BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Di tengah riuh zaman yang kerap memperdebatkan identitas, sebuah klaim besar muncul dari Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT). Lembaga ini menyebut enam dari sepuluh pribumi Indonesia masih bersambung darah dengan para wali penyebar Islam di Nusantara, Walisongo.
Klaim itu disampaikan dalam Rapat Kerja Wilayah NAAT Jawa Tengah di Pondok Pesantren Al Hasaniyah, Kedawon, Brebes, Minggu 16 Februari.
Ketua DPP NAAT KH R Syarif Ilzamuddin Sholeh Al-Jilani Al-Hasani menegaskan bahwa penelitian manuskrip kuno yang mereka miliki, ditambah data induk nasab Walisongo hingga generasi ke tujuh, menunjukkan mayoritas pribumi Nusantara adalah keturunan para wali.
“Di NAAT itu punya data induk Walisongo sampai generasi ke 7. Dan setelah kami teliti, minimal 60 persen pribumi di Indonesia adalah kerurunan Walisongo baik keturunan garis laki laki maupun perempuan,” ungkap Ilzamuddin.
Ia menambahkan penelitian ini juga diperkuat oleh naqib dari Pakistan dan Maroko yang menelusuri silsilah Walisongo hingga ke Syekh Jumadil Kubro lalu bersambung ke cucu Nabi Muhammad SAW Hasan dan Husain.
“Narasumber dari naqib Pakistan dan Maroko dalam penelitian manuskrip kuno yang satu zaman memaparkan silsilah Walisongo. Diketahui, Walisongo tersambung nasabnya ke Syekh Jumadil Kubro hingga ke Sayidina Hasan RA dan Sayidina Husain RA cucu dari Nabi Muhammad SAW,” tandasnya.
NAAT tak berhenti pada silsilah. Mereka mengusung ide persatuan lewat slogan satu darah atau dalam bahasa Madura setong dereh. Bagi Ilzamuddin persaudaraan nasab ini bukan sekadar romantisme sejarah melainkan modal sosial untuk mewujudkan Indonesia Emas.
“Untuk itu dengan menciptakan isu satu darah dalam bahasa Madura ‘setong dereh’ kita akan beratu atas kesamaan keluarga,” tegasnya.
Ketua DPW NAAT Jawa Tengah KH Nuridin Syamsudin menambahkan bahwa organisasi ini lahir untuk menjaga kehormatan nasab sekaligus menghidupkan kembali semangat dakwah Walisongo.
“Di tengah perubahan zaman, penguatan nasab bukan sekadar simbol, melainkan fondasi moral untuk menjaga marwah sejarah dan arah masa depan. Sejarah ulama Nusantara tidak pernah padam harus terus menyala menjadi cahaya bagi generasi penerus dan bangsa Indonesia,” pungkasnya.










