Api Abadi Disemayamkan, Setyo Wahono Kobarkan Semangat Pembangunan Bojonegoro

BOJONEGORO (JATIM) SUARAPANCASILA.ID – Api abadi dari objek wisata Kahyangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem disemayamkan di Pendopo Malowopati, Selasa (20/10/2026) malam, dalam rangkaian Hari Jadi ke-349 Kabupaten Bojonegoro. Prosesi ini menjadi simbol semangat pembangunan yang harus terus menyala tanpa melupakan sejarah dan budaya leluhur.

Kirab Api Abadi melewati Kecamatan Kalitidu hingga Trucuk sebelum dibawa dari Kantor Bakorwil menuju pendopo dengan iringan cucuk lampah dan tim rontek.

Ketua DPRD Bojonegoro Abdulloh Umar bersama sejumlah pimpinan DPRD menyambut rombongan di depan gapura. Api abadi kemudian diserahkan kepada Wakil Bupati Nurul Azizah, lalu diteruskan kepada Bupati Setyo Wahono untuk dinyalakan di tungku yang telah disiapkan.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Setyo Wahono menegaskan, Api abadi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat agar semangat membangun daerah dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat tidak pernah padam.

“Api abadi adalah simbol semangat yang tak pernah padam dalam membangun daerah. Setiap kebijakan pemerintah harus berdampak nyata dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. Untuk mewujudkan hal itu, kita harus terus berkolaborasi dan bersinergi,” tegasnya.

Setyo Wahono juga menargetkan penguatan sektor pertanian agar Bojonegoro menjadi rujukan utama pada 2029. Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan fasilitas kesehatan menjadi prioritas untuk mendorong kemajuan daerah.

Ia menekankan, capaian pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah daerah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Bojonegoro ini milik kita bersama, bukan milik Bupati saja. Mimpi menjadikan Bojonegoro sebagai pusat rujukan pertanian, pendidikan, dan kesehatan hanya bisa terwujud jika kita semua saling bersinergi,” pungkasnya.

Penyemayaman Api abadi bertepatan dengan peringatan 20 Oktober 2026, yang menandai 349 tahun perjalanan Bojonegoro sejak 20 Oktober 1677.

Tradisi ini sekaligus membawa pesan bahwa pembangunan harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat, sejalan dengan cita-cita mewujudkan Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan.

suarapancasilaid'

Pos terkait