Gerimis Tak Halangi Kepedulian, Wabup Tala Sambangi Difabel dan Lansia Desa Telaga

PELAIHARI(KALSEL), SUARA PANCASILA.ID – Di bawah langit yang diguyur gerimis, Selasa 24 Februari 2026, Wakil Bupati Tanah Laut, H.M. Zazuli, melangkah menyusuri jalanan Desa Telaga. Cuaca yang basah tak menjadi penghalang. Di bulan Ramadan yang sarat makna, ia memilih mendatangi langsung warganya yang hidup dalam keterbatasan.

Didampingi Marliana, S.Ag, Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Pelaihari, ia menuju sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat berteduh seorang pria penyandang disabilitas sejak lahir. Tanpa banyak seremoni, tanpa jarak yang diciptakan protokol, langkahnya langsung tertuju pada ruang kecil tempat seorang lelaki berusia lebih dari 30 tahun menghabiskan hari-harinya.

Sejak lahir, pria yang akrab disapa Udin itu tak pernah merasakan tubuh yang benar-benar mampu menopang dirinya sendiri. Aktivitasnya terbatas. Ketergantungan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Waktu berjalan, usia bertambah, tetapi kondisinya tak pernah berubah.

Bacaan Lainnya

Di sisinya, selalu ada sang ibu, Nini Aluh. Seorang janda lanjut usia yang juga hidup dalam kekurangan. Tubuhnya telah renta, tenaganya tak lagi sekuat dulu, namun tanggung jawab sebagai ibu tak pernah ia lepaskan. Ia merawat anak semata wayangnya dengan kesetiaan yang nyaris tanpa jeda. Di balik wajah lelahnya, tersimpan keteguhan yang tak banyak terlihat, tetapi terasa begitu kuat.

Kunjungan itu tak berhenti di rumah Udin. Wakil bupati tala itu kembali melanjutkan langkahnya, masih di lingkungan yang sama, untuk melihat kondisi seorang lansia kurang mampu. Di bagian belakang rumah yang sangat tidak layak huni, tinggal orang tua Nini Aluh yang diperkirakan telah berusia sekitar 90 tahun.

Lansia tersebut sudah tidak bisa berjalan. Hari-harinya dijalani dalam kondisi memprihatinkan. Dinding rumah yang rapuh, ruangan yang kotor, serta sanitasi yang jauh dari kata layak menjadi latar keseharian yang sunyi. Di usia senja, ketika sebagian orang menikmati kebersamaan keluarga dalam kenyamanan, ia justru bergulat dengan keterbatasan fisik dan lingkungan yang tak mendukung.

Satu keluarga. Tiga generasi. Semuanya berada dalam lingkaran keterbatasan yang sama. Seorang anak penyandang disabilitas sejak lahir, seorang ibu lansia yang tetap bertahan merawat, dan seorang orang tua yang terbaring tanpa daya di usia 90 tahun. Potret ini bukan sekadar kisah kemiskinan, tetapi gambaran tentang rapuhnya sebagian warga yang masih membutuhkan uluran perhatian.

Di bulan Ramadan yang penuh berkah, kehadiran Wakil Bupati Tanah Laut di Desa Telaga menjadi isyarat bahwa kepedulian tak selalu hadir dalam panggung besar. Ia justru terasa lebih bermakna ketika datang mengetuk pintu rumah sederhana, menyapa mereka yang kerap luput dari sorotan.

Gerimis hari itu seakan menjadi latar yang tepat. Sunyi, sederhana, namun menyimpan pesan kuat bahwa pemerintah tak boleh jauh dari warganya yang paling membutuhkan.(suarapancasila.id-hayat)

Pos terkait