BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Konferensi Daerah (Konfercab) DPC PDI Perjuangan Kabupaten Brebes di Hotel Patrajasa, Semarang, Minggu (28/12/2025), meninggalkan sorotan besar. Agenda ini digelar sehari setelah rampungnya Konferensi Daerah (Konferda) PDIP Jawa Tengah, sebagai bagian dari reorganisasi dan konsolidasi struktur partai di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Indra Kusuma yang digadang kuat dengan dukungan mayoritas 17 PAC justru dijegal dalam proses penjaringan. Namanya tidak masuk rekomendasi akhir, sementara Cahrudin yang tidak pernah diusulkan PAC maupun DPC tiba-tiba ditunjuk langsung oleh DPP sebagai Ketua DPC periode 2025–2030.
Indra Kusuma akhirnya angkat bicara dengan sikap legowo. “Legowo aja mas, ke depan tugas partai semakin berat dengan keadaan politik nasional yang semakin kompetitif dan sangat berpengaruh sampai di daerah,” kata Indra saat dihubungi wartawan, Minggu, (28/12/2025).
Meski begitu, suara kader di bawah tetap bergemuruh. Kismanto, kader PDIP Brebes, mengatakan meskipun penunjukan langsung ini memperlihatkan hak prerogatif ada di tangan Ketua Umum, namun keputusan tersebut tetap mengabaikan suara akar rumput.
“Suara PAC diabaikan, proses penjaringan hanya sandiwara. Kalau aspirasi kader tidak dihargai, bagaimana publik bisa percaya pada komitmen PDIP terhadap rakyat,” ujarnya.
Ia menilai penjegalan terhadap dukungan mayoritas PAC menjadi titik rawan yang bisa berimbas pada elektabilitas partai. “Kader di bawah bisa apatis, bahkan berbalik arah. Konsolidasi akan sulit dilakukan. Jangan kaget kalau suara PDIP di Brebes merosot tajam,” tegasnya.
Kismanto juga mengingatkan rekam jejak Cahrudin yang dinilai problematis. Pada Pilkada Brebes 2024, Cahrudin disebut berada di barisan pejuang kotak kosong, bukan mendukung calon bupati yang direkomendasikan PDIP. “Bagaimana mungkin seorang yang pernah melawan rekomendasi partai kini ditunjuk memimpin DPC. Ini jelas mencederai demokrasi internal dan menimbulkan pertanyaan serius soal loyalitas,” kata Kismanto.
Meski Cahrudin dikenal sebagai politisi senior dengan pengalaman di DPRD Brebes, legitimasi kepemimpinannya kini dipertanyakan. “Pengalaman tidak bisa menutup fakta bahwa proses penetapan cacat aturan. Demokrasi internal runtuh, dan ke depan dampaknya bisa langsung terasa pada perolehan suara PDIP di Brebes,” ujarnya.
Sorotan penjegalan Indra Kusuma dan penunjukan langsung Cahrudin diprediksi akan terus bergulir. “Tokoh pembangkang yang dulu melawan rekomendasi partai, sekarang justru direkom DPP jadi ketua DPC. Wah… wibawa partai dikemanakan,” ucap Kismanto mempertanyakan dokumen 13.31/KPTS/DPP/XII/2025.
Kader lainnya, Kadarisman menambahkan, penetapan Cahrudin sebagai bentuk politik dusta. “Tidak mengamankan rekomendasi, malah memberi rekomendasi kepada orang yang jelas pernah melawan,” tulisnya dalam unggahan status Facebook.
Menurut Kadarisman, keputusan ini bukan sekadar mengabaikan suara PAC, tetapi juga menabrak logika loyalitas partai. “Kalau yang pernah jadi juru kampanye kotak kosong, kini pegang pucuk pimpinan DPC itu jelas menabrak logika loyalitas partai,” tegasnya.










