SAWAHLUNTO (SUMBAR) SUARA PANCASILA .ID – Komunitas Lansia Pralansia Indonesia (KLPI) Kota Sawahlunto kembali dilanda krisis kepengurusan. Setelah sebelumnya 4 pengurus inti mengundurkan diri secara resmi karena ketidakjelasan tupoksi dan ketidaktransparan, saat ini Ketua KLPI, Rionakdi Amd juga mengundurkan diri.
Pengunduran diri Rionakdi Amd ini terjadi pada 4 Juli 2025 melalui pesan di grup dan menyusul surat pengunduran diri resmi ke KLPI Sumbar dan komunitas induk yang menaungi yaitu KORMI.
Ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp oleh tim Media, Rionakdi Amd atau lebih dikenal dengan Rio Barbeqiu menyatakan pengunduran dirinya disebabkan oleh ketidakjelasan dana yang diajukan melalui proposal untuk keberangkatan kontingan yang digadang-gadangkan untuk mengikuti Fornas di Nusa Tenggara Barat yang sudah ada yang dicairkan namun tidak ada kejelasan dan laporan kepada dirinya sebagai ketua.
Selain itu, ia juga tidak setuju dengan latihan fisik berupa push up yang dilakukan oleh anggota KLPI dengan cara yang otoriter. “Saya tidak dapat menerima sikap arogan dari pengurus yang tidak mau mendengarkan pendapat saya sebagai ketua,” kata Rionakdi Amd. “Konflik ini bermula saat saya tidak setuju dengan latihan push up yang dianggap tidak cocok untuk lansia dan pra lansia. Saya menyampaikan keberatannya melalui grup, namun mendapat tanggapan yang tidak pantas dari salah satu pengurus.”
Pengurus KLPI, yang notabene hanya seorang pelatih, menjawab bahwa Rionakdi Amd tidak perlu memaksa diri untuk mengikuti latihan jika tidak suka. “Jika Anda tidak suka dengan latihan push up, maka Anda tidak perlu memaksa diri untuk mengikuti.”
Rionakdi Amd juga meminta agar proposal yang masih menggunakan namanya sebagai Ketua KLPI ditarik kembali dan dianggap batal demi hukum serta tidak bertanggung jawab dengan segala kegiatan yang mengatasnamakan dirinya dan juga pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan proposal yang di jalankan melalui, instansi pemerintah, perusahaan besar dan OPD, karena ada yang diberikan tidak sesuai peruntukannya untuk keberangkatan atlit, sementara setelah dikonfirmasi kepada sekretaris dana tersebut sudah habis terpakai, sementara hak dari yang menjalankan proposal cuma 10% buat operasional, bukan semua nya,semua di atur oleh si pelatih.
Ia juga telah mengikhlaskan semua biaya pribadi yang dikeluarkan untuk menjalankan komunitas ini, namun meminta dengan segera penyelesaian masalah pribadi yang bersangkutan dengan dirinya.
Pengunduran diri Rionakdi Amd ini menambah daftar panjang krisis kepengurusan KLPI Sawahlunto,