BATU AMPAR, TANAH LAUT (KALSEL), SUARA PANCASILA.ID – Posyandu kini tidak lagi sekadar menjadi tempat penimbangan balita dan pemberian imunisasi. Di tangan pemerintah daerah dan para penggerak desa, posyandu sedang menjelma menjadi simpul baru pelayanan dasar masyarakat. Transformasi inilah yang ditekankan oleh Wakil Bupati Tanah Laut (Tala), H. M. Zazuli, saat membuka kegiatan Pembinaan Pengurus Posyandu Desa di Aula Kantor Kecamatan Batu Ampar, Kamis (26/06/2025).
Dalam arahannya, Zazuli menegaskan bahwa Posyandu kini tengah bertransformasi menjadi pusat layanan masyarakat berbasis multisektor. Perubahan ini selaras dengan semangat percepatan pembangunan desa dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) secara menyeluruh.
“Posyandu kini tidak lagi hanya tempat menimbang balita atau pelayanan ibu dan anak. Tapi berkembang menjadi pusat layanan dasar masyarakat yang mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM),” tegasnya.
Enam bidang yang dimaksud meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat (trantibum), serta perlindungan sosial. Sebuah cakupan layanan yang luas—dan ambisius—yang menuntut kesiapan kelembagaan di tingkat desa.
Zazuli menyadari bahwa perubahan ini tidak akan berjalan otomatis. Karena itu, peran aktif pemerintah daerah menjadi penting, tidak hanya dalam memberi arahan, tetapi juga menyediakan dukungan nyata.
“Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab strategis. Mulai dari fasilitasi kelembagaan, pelatihan kader, integrasi lintas sektor, hingga penganggaran melalui APBD dan Dana Desa,” ungkapnya.
Ia juga mendorong agar desa benar-benar mengalokasikan anggaran yang memadai melalui APBDes. Posyandu, menurutnya, harus dilibatkan dalam perencanaan pembangunan desa, terutama dalam upaya pencegahan stunting yang menjadi salah satu prioritas nasional.
“Alokasikan anggaran memadai dalam APBDes, libatkan Posyandu dalam perencanaan desa, khususnya dalam pencegahan stunting, dan tingkatkan sinergi lintas sektor,” ujar Zazuli.
Tak hanya soal struktur dan dana, Wakil Bupati juga menekankan pentingnya menjadikan posyandu sebagai pusat edukasi keluarga. Edukasi yang berbasis pada standar operasional prosedur (SOP) serta kolaborasi yang erat dengan tenaga kesehatan, PKK, dan lembaga-lembaga desa lainnya.
“Posyandu harus menjadi ujung tombak pelayanan dasar yang aktif dan berdaya. Bukan hanya tempat kunjungan bulanan yang pasif,” tegasnya dengan nada penuh penekanan.
Transformasi posyandu menjadi pusat layanan multisektor adalah bagian dari visi pembangunan desa yang holistik. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, desa tidak cukup hanya menjadi objek pembangunan. Ia harus menjadi subjek, dengan posyandu sebagai salah satu motor penggeraknya.
Dengan konsep baru ini, posyandu diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa secara berkelanjutan—bukan hanya dari sisi kesehatan, tapi juga pendidikan, lingkungan, hingga ketertiban sosial.
Sebuah wajah baru dari pelayanan dasar. Dimulai dari tempat yang sederhana.
Dari posyandu. Dari desa. Untuk masa depan yang lebih kuat. (suarapancasila.id-foto:istimewa/Diskominfostasan Tala)