Ramadan Penuh Empati: Kapolsek Pelaihari Tunjukkan Kepedulian Nyata untuk Warga Kurang Beruntung di Desa Telaga

PELAIHARI(KALSEL), SUARA PANCASILA.ID – Ramadan tak sekadar menjadi penanda waktu bagi umat Muslim untuk menahan lapar dan dahaga. Di bulan yang sarat makna ini, nilai kepedulian dan keberpihakan kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan menemukan relevansinya. Di Desa Telaga, Kecamatan Pelaihari, kepedulian itu hadir dalam langkah nyata aparat yang memilih turun langsung ke lapangan.

Beberapa hari sebelumnya, Selasa, 24 Februari 2026, Wakil Bupati Tanah Laut, H.M. Zazuli, lebih dulu menyambangi warga yang hidup dalam kondisi sulit. Kehadirannya menjadi gambaran bahwa Ramadan adalah momentum untuk mendekat, bukan menjaga jarak.

Semangat serupa kembali terlihat pada Jumat, 27 Februari 2026. Kapolsek Pelaihari IPTU BENNY W WARDHANY, S.E, S.H, M.M menunjukkan kepeduliannya terhadap warga Desa Telaga yang kurang beruntung dalam menjalani hidup. Ia didampingi Marliana, S.Ag, Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Pelaihari sekaligus Bendahara 2 Pengurus IPARI (Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia) Pusat yang tak pernah lelah dan selalu bergerak untuk kepentingan umat, serta salah satu aparatur Desa Telaga.

Bacaan Lainnya

Rumah pertama yang didatangi adalah kediaman Udin, penyandang disabilitas sejak lahir. Di rumah sederhana itu, keterbatasan menjadi realitas sehari-hari yang dijalani dengan keteguhan. Kunjungan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk perhatian atas kondisi yang membutuhkan dukungan nyata.

Tak berhenti sampai di sana, Kapolsek Pelaihari melanjutkan langkahnya ke rumah kedua yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah pertama. Dengan berjalan kaki, ia menunjukkan empati yang tak berjarak. Rumah kedua ditempati seorang lansia kurang mampu yang tinggal di hunian yang sesungguhnya tidak layak untuk ditempati. Kondisinya memprihatinkan. Lansia tersebut, sebut saja Kai Andah Kardi, tinggal seorang diri. Menurut penuturan anaknya, ia tidak mau dibawa tinggal di rumah anaknya.

Perjalanan berlanjut ke rumah ketiga. Sekitar empat menit menggunakan mobil, rombongan tiba di sebuah rumah yang letaknya dekat dengan Kantor Desa Telaga. Kondisinya tak kalah memprihatinkan. Melihat keadaan tersebut, Marliana menyampaikan dengan penuh empati, ” Kada purun ibu melihat ” Ungkap nya kepada jurnalist kami, kalimat singkat yang sarat makna.

Kisah itu semakin menyentuh ketika menilik kembali kondisi Nini Aluh, seorang nenek janda yang juga harus merawat anak semata wayangnya, Udin, penyandang disabilitas sejak lahir sekaligus merawat orang tua nya dalam kondisi serba kekurangan dan tinggal di rumah seorang diri yang tidak layak untuk di tempati. Beban hidup yang dipikulnya begitu berat, menghadirkan potret nyata tentang perjuangan dalam sunyi.

Menanggapi kondisi warga yang dikunjungi, Benny W Wardhany menyampaikan, ” Alhamdulillah Hari ini kami berkunjung ke desa telaga, mendapat informasi dari ibu marliana , bahwa ada beberapa warga yang kurang beruntung dan membutuhkan bantuan ”

Ia kemudian melanjutkan, ” Alhamdulillah setelah kita cek kondisi nya ,sangat patut dan harus dibantu, mudah mudahan kedepannya nanti ada lagi dari teman teman yang lain kiranya mau membantu guna meringkankan beban beliau, bisa langsung mendatangi rumah beliau, atau berkoordinasi dengan aparat desa setempat bisa juga melalui bu Marliana ” Ucapnya

Kapolsek Pelaihari berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan sedikit beban yang dialami para warga tersebut. Ia juga berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk mengulurkan tangan.

Ramadan pada akhirnya mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi jabatan, melainkan seberapa dalam empati diwujudkan. Di Desa Telaga, kepedulian itu hadir dalam langkah yang sederhana namun bermakna—menyapa, melihat, dan membantu mereka yang kerap tersembunyi di balik keterbatasan.(suarapancasila.id-hayat)

Pos terkait