KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID — Di tengah polemik dugaan kekerasan di lingkungan pendidikan, praktisi hukum Soeko Heriyanto mengajak semua pihak melihat persoalan dengan lebih jernih dan manusiawi. Baginya, sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi ruang tempat anak tumbuh, guru mendidik, dan orang tua menitipkan harapan.
Soeko Heriyanto, S.H., M.H., CLA, praktisi hukum dari Cakra Gandhiwa Law Office, Polehan, Kota Malang, mengaku prihatin ketika persoalan antara guru, siswa, dan orang tua berkembang menjadi konflik yang berlarut-larut.
Ia kemudian teringat masa sekolahnya ketika masih duduk di bangku SMP.
Dengan nada mengenang masa lalu, Soeko mengaku dirinya dahulu bukan termasuk siswa yang mudah diatur. Sebagai anak seorang tentara atau yang dalam istilahnya disebut “anak kolong”, ia mengakui pernah menjadi siswa yang cukup nakal.
“Saya itu anak nakal. Saya itu anaknya tentara, anak kolong. Saya itu nakal sekali,” kenangnya, Santu (03/10/2026).
Salah satu pengalaman yang masih diingatnya terjadi ketika mengikuti pelajaran Bahasa Inggris. Saat itu, Soeko mengaku lebih sering duduk di bangku belakang dan bercanda bersama teman-temannya.
Tingkahnya membuat sang guru marah. Sebuah penghapus yang kala itu terbuat dari kayu kemudian dilempar dan mengenai kepalanya.
Sepulang sekolah, benjolan di kepalanya diketahui sang ayah. Ketika ditanya, Soeko akhirnya mengaku bahwa benjolan tersebut akibat dimarahi guru.
Namun, cerita itu justru membuatnya kembali mendapat hukuman dari orang tuanya.
“Di kelas dihajar sama Pak Guru, pulang dihajar orang tua,” tuturnya.
Bagi Soeko, pengalaman tersebut bukan untuk membenarkan kekerasan terhadap anak. Ia justru ingin menggambarkan bagaimana hubungan antara guru, siswa, dan orang tua pada masa lalu memiliki pola yang berbeda dengan sekarang.
Menurutnya, dahulu terdapat kepercayaan yang cukup kuat dari orang tua kepada guru dalam mendidik anak. Ketika seorang anak mendapat teguran dari guru, orang tua cenderung tidak langsung menyalahkan pendidik.
Namun, Soeko juga menegaskan bahwa perkembangan zaman harus membuat semua pihak semakin memahami pentingnya pendekatan pendidikan yang mengedepankan kemanusiaan.
“Jika ada oknum pengajar berbuat salah, bagaimanapun juga harus dilihat konteksnya. Jangan melihat kesalahannya hanya dari satu sisi,” ujarnya.
Ia mengajak orang tua tidak hanya melihat persoalan dari sudut pandang emosi. Ketika anak mengalami persoalan di sekolah, menurutnya, yang paling penting adalah memastikan apa yang sebenarnya terjadi dan mencari jalan penyelesaian yang memberikan rasa aman bagi anak.
“Kalau guru anakmu diapakan, pasti marah. Tetapi marahnya itu sampai sejauh mana? Sudut pandangnya sampai di mana? Kita lihat dulu konteksnya,” katanya.
Di balik pandangannya tersebut, Soeko memiliki penghormatan mendalam terhadap profesi guru. Ia mengaku bahwa perjalanan hidupnya tidak dapat dipisahkan dari peran para pendidik yang pernah mengajarinya.
Baginya, guru bukan sekadar seseorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan pelajaran. Guru adalah bagian dari perjalanan hidup seorang anak, bahkan dapat menjadi salah satu sosok yang menentukan masa depannya.
“Guru di mata saya seorang pendidik yang luar biasa. Saya bisa seperti ini karena guru,” ungkapnya.
Menurut Soeko, banyak orang yang ketika masih menjadi pelajar memiliki perilaku yang tidak selalu mudah diarahkan. Namun, melalui proses pendidikan, pendampingan, teguran, dan bimbingan guru, mereka kemudian tumbuh menjadi orang-orang yang berhasil.
“Kalau saya tanya sejumlah teman yang sekarang sudah sukses, banyak yang dulu ketika jadi pelajar tapi nakal. Namun ketika waktunya tiba Merekauara nakal itu banyak yang sukses,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa seorang anak tidak seharusnya hanya dinilai dari perilakunya pada satu titik kehidupan. Di balik kenakalan seorang siswa, menurut Soeko, selalu ada kemungkinan masa depan yang belum terlihat.
Karena itu, pendidikan membutuhkan kesabaran, ketegasan, sekaligus kasih sayang.
Soeko kemudian berbicara mengenai istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” yang selama ini melekat pada profesi guru.
Menurutnya, sebutan tersebut bukan sekadar ungkapan penghormatan. Ada pengorbanan panjang para guru yang terkadang tidak terlihat dan tidak selalu mendapatkan penghargaan yang sebanding.
Guru, kata dia, telah mendidik anak-anak yang kelak menjadi perwira tinggi, pejabat, profesional, pengusaha, maupun berbagai profesi lainnya.
“Mereka itu memang sudah meloloskan seorang perwira tinggi, seorang pejabat tinggi. Artinya apa? Tanpa predikat gelar suatu pahlawan. Sampai tidak ada sertifikat, dikategorikan pahlawan tanpa tanda jasa. Tetapi mereka tetap pahlawan,” katanya.
Dalam pandangan Soeko, nilai seorang guru tidak dapat diukur hanya dari materi ataupun penghargaan formal.
Guru adalah pejuang pendidikan yang meninggalkan jejak dalam kehidupan anak didiknya. Jejak itu bahkan bisa baru terlihat bertahun-tahun kemudian ketika seorang siswa telah dewasa dan berhasil mencapai cita-citanya.
“Pahlawan tanpa tanda jasa menurut kacamata saya adalah pejuang sejati dunia pendidikan yang tak terukur nilainya bagi siswa-siswa, dari mulai sekolah sampai kuliah,” pungkasnya.
Di tengah dinamika persoalan pendidikan saat ini, Soeko berharap hubungan antara guru, siswa dan orang tua tidak dibangun atas dasar saling berhadapan, melainkan melalui komunikasi dan pemahaman.
Sebab, pada akhirnya, guru dan orang tua memiliki tujuan yang sama: memastikan anak mendapatkan pendidikan yang baik, tumbuh dengan aman, serta memiliki masa depan yang lebih baik.
Dan bagi Soeko, di situlah makna pendidikan yang sesungguhnya—bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menjaga kemanusiaan.









