Panjaratan, Tanah Laut(KALSEL), SUARA PANCASILA.ID, 13 Juli 2025 — Denting rebana mengiringi langkah para tamu Allah yang baru saja kembali dari tanah suci. Di Desa Panjaratan, Kabupaten Tanah Laut, penyambutan jamaah haji tak hanya diwarnai ucapan selamat dan peluk haru, tapi juga oleh denyut budaya lokal yang hidup kembali—kesenian tradisional Badehol.
Pada Minggu pagi yang teduh itu, tepat pukul 10.30 WITA, alunan sholawat dan tabuhan musik khas mulai bergema dari Langgar Raudhatus Saniah, berjarak sekitar 200 meter dari rumah H. Hairudin dan Hj. Musie—dua warga desa yang baru saja menuntaskan rukun Islam kelima. Rombongan Badehol bergerak perlahan, mengiringi perjalanan spiritual yang kini telah sampai di tanah kelahiran.
“Acara penyambutan kepulangan dari ibadah haji ini terasa sangat spesial, karena baru kali ini diselenggarakan dengan kesenian Badehol. Ini tidak hanya sebagai bentuk syukur, tapi juga semakin memperkenalkan budaya dan kesenian khas Desa Panjaratan,” ungkap Masrudi, salah satu warga yang turut hadir dalam penyambutan.
Badehol: Warisan yang Hidup dalam Setiap Momen Penting
Badehol adalah kesenian tradisional khas Kalimantan Selatan yang menjadi milik bersama warga Panjaratan. Ia bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol penghormatan dan kebersamaan yang sering dihadirkan dalam acara-acara penting seperti perkawinan, pelantikan kepala desa, penyambutan tamu-tamu kehormatan, serta perayaan religius seperti kepulangan dari ibadah haji.
Pertunjukan Badehol menggabungkan musik terbang atau rebana, gerak tari tradisional, dan lantunan-lantunan sholawat serta pujian, menjadikannya seni pertunjukan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga sakral. Menariknya, Badehol bisa diselenggarakan atas permintaan dari pihak yang mengadakan acara, menjadikannya bagian dari tradisi yang fleksibel namun tetap bermakna.
“Ini sangat bagus untuk menghidupkan kembali budaya dan adat daerah yang selama ini nyaris terlupakan. Lewat Badehol, kita seperti mengingat siapa kita,” ungkap salah satu tokoh masyarakat yang turut menyaksikan kegiatan.
Tiga Jam dalam Balutan Tradisi dan Doa
Acara berlangsung selama hampir tiga jam, dimulai dari penyambutan dengan Badehol, dilanjutkan dengan tasakuran bersama, dan ditutup dengan makan bersama seluruh warga yang hadir. Nuansa kekeluargaan terasa kental, membingkai setiap gerakan, alunan, dan suapan dalam spirit gotong royong serta syukur yang dalam.
Di tengah gelombang modernitas, Panjaratan memberi pelajaran penting: bahwa nilai-nilai spiritual dan budaya bisa berjalan beriringan, saling menguatkan. Badehol bukan hanya kesenian—ia adalah jati diri, memori kolektif, dan cara masyarakat menyampaikan rasa terima kasih yang tak sekadar diucap, tapi ditampilkan dengan penuh penghormatan.(suarapancasila.id-hayat)