BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma menghadiri prosesi Kirab Pusaka Malam Satu Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Selasa malam, 16 Juni 2026. Kehadiran Paramitha dalam ritual pergantian Tahun Baru Jawa 1 Sura 1960 Je itu menjadi pengalaman pertamanya mengikuti langsung tradisi sakral yang telah berlangsung turun-temurun di lingkungan Praja Mangkunegaran.
Paramitha datang bersama suaminya, Ahmad Saeful Ansori. Turut mendampingi anggota DPRD Brebes Pamor Wicaksono serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes Fajar Adi Widiarso. Kehadiran mereka merupakan bagian dari undangan resmi yang disampaikan pihak Mangkunegaran.
Rangkaian kegiatan diawali dengan jamuan makan malam di Pracima Tuin. Dalam kesempatan itu, Paramitha berinteraksi dengan keluarga istana serta sejumlah tokoh nasional yang hadir.
Tampak di antara para tamu undangan, Didit Hediprasetyo bersama ibundanya, Titiek Soeharto. Hadir pula Dody Hanggodo, Giring Ganesha, Yenny Wahid, serta dua politikus senior PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto dan Aria Bima. Sebagai tuan rumah, Respati Ardianto turut menyambut para tamu.
Setelah jamuan makan malam, para undangan menyaksikan prosesi kirab pusaka mengelilingi tembok istana Mangkunegaran. Kirab dipimpin oleh GPH Paundrakarna Jiwo Suryonegoro sebagai cucuk lampah yang mengawal enam pusaka dalem.
Ritual tersebut diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka menjalani laku bisu dengan berjalan kaki tanpa alas kaki mengelilingi kawasan istana sebagai bagian dari refleksi spiritual menyambut Tahun Baru Jawa.
Di sela kegiatan, Paramitha mengaku terkesan dengan upaya pelestarian budaya yang terus dijaga oleh Mangkunegaran. Menurut dia, Malam Satu Suro tidak semata menjadi perayaan budaya, melainkan momentum perenungan.
“Ada malam yang tidak diukur dari ramainya, tetapi dari heningnya. Malam Satu Suro selalu begitu, orang berjalan pelan, menahan bicara, menundukkan kepala, seperti sedang berbicara dengan diri sendiri yang paling jujur,” kata Paramitha, Rabu, 17 Juni 2026.
Ia menilai filosofi Suro dalam tradisi Jawa memiliki makna mendalam, yakni mulih atau pulang. Bukan sekadar pulang secara fisik, tetapi kembali menengok diri sendiri.
“Pulang ke rumah, pulang ke alam, dan yang paling sulit, pulang kembali ke diri sendiri. Melepaskan yang sudah lewat, hadir sepenuhnya hari ini, lalu menyambut yang akan datang dengan hati yang lebih lapang,” ujarnya.
Paramitha juga menyoroti tradisi pembersihan dan perawatan pusaka yang dilakukan dalam rangkaian ritual tersebut. Menurut dia, tradisi itu menjadi pengingat penting agar generasi penerus tidak tercerabut dari akar sejarah dan identitas budaya.
“Pusaka yang dirawat dan dibersihkan malam ini hanya pengingat bahwa yang tua belum tentu usang. Merawat warisan berarti merawat jati diri,” katanya.
Ketua penyelenggara kirab, GRaj Ancillasura Marina Sudjiwo, mengapresiasi kehadiran para kepala daerah dan tokoh nasional dalam kegiatan tersebut. Menurut dia, partisipasi berbagai kalangan menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai Atita (masa lalu), Atiki (masa kini), dan Anagata (masa depan) yang menjadi pijakan Mangkunegaran dalam menjaga warisan budaya Nusantara.
Kirab Pusaka Malam Satu Suro merupakan salah satu tradisi budaya tahunan yang paling dinantikan masyarakat Jawa. Selain sarat nilai spiritual, ritual tersebut juga menjadi simbol kesinambungan antara sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat masa kini.











