TEGAL (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Komunitas tuli di Kabupaten Tegal mulai dilibatkan sebagai aktor utama dalam pengembangan Bank Video berbasis Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Program ini dirancang untuk memperluas akses informasi sekaligus memberi ruang bagi penyandang tuli menyuarakan pengalaman mereka melalui bahasa yang mereka gunakan.
Kegiatan Bank Video digelar bersama Komunitas Dunia Tak Lagi Sunyi (DTLS) Kabupaten Tegal di Unit Pelaksana Teknis Daerah Loka Bina Karya (UPTD Loka Bina Karya), Dinas Sosial Kabupaten Tegal, Jumat, (31/7/2026).
Program tersebut merupakan bagian dari riset kolaboratif dalam Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI-Saintek) yang melibatkan Universitas Pancasakti Tegal, Universitas Bhamada Slawi, dan Universitas Muhadi Setiabudi.
Bank Video dirancang untuk mendokumentasikan, menyimpan, dan mendistribusikan konten video menggunakan BISINDO. Konten itu diharapkan menjadi sumber informasi yang lebih mudah diakses komunitas tuli sekaligus menjadi jembatan komunikasi dengan masyarakat umum.
Namun, program ini tidak berhenti pada pengumpulan dokumentasi. Anggota DTLS dilibatkan sebagai kreator konten dan narasumber. Dengan pendekatan itu, komunitas tuli tidak ditempatkan sebagai objek penelitian semata, melainkan ikut menentukan pengetahuan dan informasi yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
Ketua Tim Periset BIMA 2026, Akhmad Habibullah, M.I.P., mengatakan perguruan tinggi perlu memastikan hasil riset memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
“Kami percaya bahwa komunitas DTLS memiliki potensi yang luar biasa. Melalui Bank Video ini, kami ingin memastikan bahwa suara dan pengalaman mereka dapat didokumentasikan, dipelajari, dan disebarluaskan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem komunikasi yang benar-benar inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat,” kata Akhmad.
Menurut dia, keberadaan Bank Video diharapkan dapat memperkuat akses informasi bagi penyandang tuli. Ruang tersebut juga memungkinkan pengalaman dan kebutuhan komunitas tuli disampaikan langsung oleh mereka sendiri.
Tiga Perguruan Tinggi Berkolaborasi
Riset ini mempertemukan tiga perguruan tinggi dalam satu program kolaboratif. Tim periset dipimpin Akhmad Habibullah dengan anggota Dra. Sri Sutjiatmi, M.Si., Dr. Dien Novianty, M.M., Haries Anom Susetyo Aji Nugroho, M.Kom., Deddy Prihadi, S.E., M.Kom., dan Bambang Irawan, M.Kom.
Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kabupaten Tegal, Priningsih, juga hadir dalam kegiatan tersebut. Keterlibatan organisasi komunitas menjadi penting untuk memastikan kebutuhan dan aspirasi penyandang tuli turut masuk dalam proses riset.
Kolaborasi tersebut mempertemukan tiga unsur sekaligus: perguruan tinggi sebagai pengembang pengetahuan, komunitas tuli sebagai pemilik pengalaman, serta pemerintah daerah sebagai pendukung pemberdayaan.
Pemerintah Daerah Ikut Mendampingi
Kegiatan mendapat pendampingan dari Kepala UPTD Loka Bina Karya Dinas Sosial Kabupaten Tegal, Umy Diyah Arti, S.K.M., M.M.
Kehadiran pemerintah daerah membuka ruang agar program riset tidak berhenti sebagai kegiatan akademik. Pengembangan Bank Video diharapkan dapat berlanjut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan dan penyediaan informasi yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Bagi komunitas tuli, akses terhadap informasi bukan semata persoalan teknologi. Cara informasi disampaikan juga menentukan apakah informasi tersebut benar-benar dapat diakses.
Bank Video berbasis BISINDO mencoba menjawab persoalan itu dengan menempatkan bahasa isyarat sebagai bagian utama dalam produksi dan penyebaran informasi.
Program ini sekaligus menjadi salah satu langkah untuk membangun ekosistem komunikasi yang lebih inklusif di Kabupaten Tegal, dengan menempatkan penyandang tuli bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pihak yang memproduksi dan menyampaikan pengetahuan.











