Cegah Rentetan Kecelakaan Maut, Lembaga Adat Mangliawan Gelar Ruwat Murwakala

KABUPATEN MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA.ID – Lembaga Adat Desa (LAD) Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, menggelar ritual adat Ruwat Murwakala sebagai bentuk ikhtiar batin untuk memohon keselamatan, ketenteraman, dan kemakmuran masyarakat. Tradisi tersebut dilatarbelakangi rentetan kecelakaan lalu lintas di wilayah setempat, khususnya di Jalan Raya Wendit, dalam kurun waktu satu hingga dua bulan terakhir yang di antaranya mengakibatkan korban jiwa.

Rangkaian kegiatan Ruwat Murwakala tidak hanya mencakup prosesi adat, tetapi juga doa bersama, istighosah, tahlil, hingga pagelaran wayang kulit dengan lakon Sudamala. Kegiatan yang juga di dukung penuh Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) ini, menjadi wujud kepedulian masyarakat terhadap keselamatan lingkungan sekaligus upaya melestarikan warisan budaya Jawa yang masih dijaga secara turun-temurun.

Ketua Lembaga Adat Desa Mangliawan, Iswanto, menjelaskan bahwa ruwatan memiliki makna filosofis sebagai simbol penyucian diri dan lingkungan dari berbagai hal buruk yang dalam kepercayaan masyarakat adat diyakini dapat mengganggu keselamatan serta ketenteraman.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, pelaksanaan ritual tersebut merupakan bentuk kepedulian warga dalam menyikapi serangkaian kecelakaan yang terjadi di wilayah desa.

“Ritual ini merupakan bentuk ikhtiar batin dan kepedulian masyarakat terhadap kejadian kecelakaan yang selama ini menimbulkan korban jiwa. Kami berharap melalui kegiatan ini, masyarakat senantiasa diberikan keselamatan dan ketenteraman,” jelas Iswanto, Minggu (25/10/2026).

Ia menambahkan, tradisi ruwatan juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan masyarakat dalam membangun lingkungan yang aman, harmonis, dan sejahtera.

Salah satu bagian penting dalam prosesi Ruwat Murwakala adalah pengambilan air dari sejumlah sumber mata air yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat setempat. Air dari tujuh sumber dipadukan dengan air laut dari pesisir selatan dan utara sebagai simbol penyatuan unsur alam dalam tradisi adat Jawa.

Sejumlah sumber air yang disebut dalam rangkaian prosesi tersebut antara lain Widodaren dan Jenon. Pengambilan air ini menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk memohon keselamatan dan kemakmuran bagi Desa Mangliawan.

Dalam pelaksanaannya, prosesi adat turut menghadirkan unsur simbolis berupa dupa atau kemenyan serta wewangian bunga. Asap dupa dan semerbak bunga mengiringi tahapan ritual yang dijalankan para pelaku adat dengan penuh penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Unsur-unsur tersebut merupakan bagian dari ekspresi budaya masyarakat Jawa yang mengandung simbol penghormatan terhadap warisan leluhur. Seluruh rangkaian prosesi dilandasi doa dan harapan agar masyarakat senantiasa memperoleh ketenteraman, terhindar dari marabahaya, serta mampu menjaga keharmonisan dengan lingkungan.

Air yang telah dihimpun kemudian digunakan dalam prosesi penyiraman simbolis di sejumlah titik yang dinilai rawan kecelakaan. Lokasi tersebut meliputi Jembatan Kalisari, depan Kantor Desa Mangliawan, kawasan depan Wisata Mendit, pertigaan Masjid Al-Islah, tikungan Mendit Lanang, serta perempatan Kedoyo hingga Kedoyo Barat.

Penyiraman tersebut dimaknai sebagai simbol doa bersama demi keselamatan setiap pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Selain memiliki dimensi spiritual dan budaya, prosesi ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan saat berkendara.

Kepala Desa Mangliawan, Mochamad Ja’i, menuturkan bahwa pelaksanaan ruwatan dilatarbelakangi kepedulian masyarakat terhadap sejumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah desa, terutama di kawasan Wendit.

Ia mengatakan, kehidupan masyarakat Mangliawan secara umum berlangsung aman dan tenteram. Namun, rentetan kecelakaan dalam satu hingga dua bulan terakhir menjadi perhatian bersama dan mendorong masyarakat untuk menyelenggarakan ruwatan sebagai ikhtiar memohon perlindungan serta keselamatan.

“Tujuannya memohon kemakmuran bagi Desa Mangliawan serta menjauhkan wilayah desa dari segala bentuk bala dan musibah,” tutur Ja’i.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan disusun dalam beberapa tahapan. Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan pengambilan air dari sumber Widodaren yang diwakili Ki Sutris, kemudian dilanjutkan dengan doa dan tahlil bersama.

Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan istighosah yang melibatkan berbagai unsur masyarakat Desa Mangliawan. Doa bersama tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, kerukunan, dan kebersamaan warga dalam memohon kehidupan yang aman, tenteram, serta berkecukupan.

Ja’i berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat memperkuat solidaritas sosial sekaligus menjaga nilai-nilai kebudayaan yang telah diwariskan para leluhur.

Harapan masyarakat dalam tradisi tersebut terangkum dalam ungkapan Jawa loh jinawi, kertaraharja, yang menggambarkan kehidupan masyarakat yang makmur, sejahtera, dan berkecukupan, serta terhindar dari berbagai pancabaya atau marabahaya.

Puncak kegiatan Ruwat Murwakala dijadwalkan dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang mengangkat lakon Sudamala. Pemilihan lakon tersebut memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan penyucian, pemulihan keseimbangan, serta upaya menyingkirkan hal-hal buruk.

Dalam pemaknaan masyarakat setempat, Sudamala menjadi simbol harapan agar berbagai potensi bahaya atau peboyo di Desa Mangliawan dapat dijauhkan. Melalui pertunjukan tersebut, masyarakat diajak untuk kembali memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur melalui kesenian tradisional.

Wayang kulit tidak sekadar diposisikan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media penyampaian pesan moral, kebijaksanaan, dan refleksi kehidupan. Nilai-nilai yang terkandung dalam lakon diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kerukunan, keseimbangan hidup, serta keselamatan bersama.

Dengan demikian, rangkaian Ruwat Murwakala memadukan ritual adat, doa keagamaan, dan kesenian tradisional sebagai ekspresi kebersamaan masyarakat dalam menghadapi persoalan yang menjadi perhatian bersama.

Dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan adat juga ditegaskan Kepala Desa Mangliawan, Ja’i. Ia menyampaikan bahwa pemerintah desa memiliki tanggung jawab untuk merangkul berbagai pihak yang bergerak di bidang kebudayaan, termasuk Lembaga Adat Desa yang berperan dalam menjaga keberlangsungan tradisi lokal.

Menurut Ja’i, kontribusi LAD terhadap kehidupan sosial masyarakat Mangliawan dinilai positif. Karena itu, pemerintah desa berkomitmen mendukung kegiatan lembaga adat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas masyarakat.

Ia berharap keberadaan lembaga adat dapat terus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenali, mempelajari, dan mengembangkan kebudayaan lokal, khususnya tradisi Jawa.

“Tradisi leluhur harus terus dijaga agar generasi muda mengenal akar budayanya dan dapat mengambil nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya,” demikian harapan Ja’i terhadap keberlanjutan pelestarian budaya di Desa Mangliawan.

Dukungan pemerintah desa tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antargenerasi sehingga tradisi tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan tetap hidup sebagai bagian dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat.

Pelaksanaan Ruwat Murwakala menunjukkan bagaimana tradisi lokal menjadi salah satu sarana masyarakat dalam mengekspresikan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi bersama. Di tengah kekhawatiran atas kecelakaan lalu lintas, warga menghimpun doa, harapan, dan semangat kebersamaan melalui ritual yang berakar pada kebudayaan Jawa.

Meski demikian, ikhtiar spiritual tersebut perlu berjalan beriringan dengan langkah konkret untuk mencegah kecelakaan. Kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, penggunaan perlengkapan keselamatan, pemeriksaan kondisi kendaraan, serta peningkatan kewaspadaan saat berkendara tetap menjadi faktor penting dalam melindungi pengguna jalan.

Selain itu, evaluasi terhadap kondisi jalan dan penanganan titik rawan kecelakaan oleh instansi terkait juga diperlukan agar potensi risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara tepat.

Melalui pelaksanaan Ruwat Murwakala, masyarakat Desa Mangliawan berharap wilayahnya senantiasa aman, tenteram, dan sejahtera. Pada saat yang sama, tradisi ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui doa, kepedulian, kewaspadaan, dan tindakan nyata.

“Harapan kami, masyarakat Mangliawan selalu diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kemakmuran. Tradisi ini juga menjadi pengingat agar kita semua semakin peduli terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya.

suarapancasilaid'

Pos terkait