Jejak Nyata Penjaga Hutan Bekantan: Dari Panjaratan untuk Masa Depan Kalimantan

Panjaratan, TANAH LAUT(KALSEL), SUARA PANCASILA.ID – Ketika hutan tak lagi sekadar kumpulan pohon, dan bekantan tak lagi hanya simbol, di Desa Panjaratan, pelestarian alam menjelma menjadi aksi nyata. Pada Selasa, 8 Juli 2025, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan bersama KPH Tanah Laut turun langsung ke lapangan, melakukan monitoring rutin di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Panjaratan—rumah alami bagi lebih dari 300 ekor bekantan, primata berhidung panjang yang kini masuk daftar satwa terancam punah.

Yang berbeda, kegiatan ini tak berlangsung sendiri. Turut mendampingi adalah Karang Taruna Anapupan Desa Panjaratan, yang dipimpin oleh Asmani, tokoh pemuda lokal yang dikenal aktif menjaga lingkungan. Hadir pula Najir Sidiq, Sekretaris Desa Panjaratan, dan Pahrizal, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Surai Bekantan, komunitas pelestari wisata dan satwa liar di desa tersebut.

Namun pelestarian tak cukup dengan pemantauan. Hari itu, papan-papan imbauan konservasi dipasang di berbagai titik strategis kawasan KEE—sebuah bentuk edukasi publik yang sederhana, namun sarat makna. Lebih jauh, mereka juga melakukan penanaman pohon. Sebuah aksi yang tampak kecil, tapi sesungguhnya adalah investasi jangka panjang bagi kelestarian hutan dan keberlangsungan hidup bekantan.

Bacaan Lainnya

“Kegiatan ini sangat positif. Penanaman pohon memberi manfaat langsung untuk bekantan—mereka butuh tempat berlindung, butuh rumah. Semakin banyak pohon, semakin besar peluang hidup mereka,” ujar Asmani, lugas namun penuh semangat.

Sebagai pemuda desa, Asmani tak hanya berbicara soal konservasi dari atas kertas. Ia hadir, memegang cangkul, menanam, menyambut baik inisiatif yang menurutnya harus lebih sering digalakkan.

“Saya mendukung penuh kegiatan ini, dari pemasangan papan hingga penanaman pohon. Ini cara konkret menjaga hutan kita tetap lestari,” tambahnya.

Di sisi lain, Pahrizal menilai kolaborasi ini sebagai permulaan penting.

“Ini bukan hanya soal menjaga bekantan, tapi juga menjaga ekosistem mereka. Harapan saya, kegiatan semacam ini tidak berhenti di sini. Harus berkelanjutan,” tegasnya.

Dari Hutan ke Harapan: Ekowisata sebagai Kunci

Panjaratan bukan hanya tempat tinggal bekantan. Di sini, hutan bersatu dengan sungai, dan kehidupan liar menyatu dengan keindahan alam. Melalui program “Susur Sungai Bekantan”, desa ini membuka ruang bagi wisatawan untuk menyusuri aliran sungai sembari menyaksikan langsung bekantan di habitat alaminya—melompat dari satu dahan ke dahan lain, bermain di antara rimbunnya pepohonan.

Bukan wisata biasa, ini adalah wisata edukatif dan ekologis yang mempertemukan keindahan alam dan kesadaran lingkungan. Pengalaman langka inilah yang menjadikan Panjaratan punya peluang kuat menjadi ikon ekowisata unggulan Kabupaten Tanah Laut—bahkan Kalimantan Selatan.

Namun peluang itu hanya bisa tumbuh jika hutan tetap hijau, jika bekantan tetap memiliki rumah.

Sinergi: Kunci dari Semua Harapan

Tak bisa dimungkiri, menjaga kelestarian alam bukan tugas satu pihak. Pemerintah, masyarakat, komunitas, hingga tokoh lokal harus berjalan beriringan. Karena satwa seperti bekantan tidak akan selamat jika hutan mereka hilang, dan hutan tak bisa pulih tanpa tangan manusia yang peduli.

“Hutan bukan hanya soal pohon, tapi soal kehidupan yang menggantung padanya. Bekantan, burung-burung, bahkan kita sendiri. Ini tanggung jawab bersama, bukan sekadar program kerja, tapi misi generasi,” ungkap seorang petugas kehutanan yang ikut dalam kegiatan hari itu.

Dan pada hari itu, di Panjaratan, langkah kecil tapi berarti telah dimulai. Sebuah komitmen ditanam dalam tanah, dan semoga tumbuh menjadi pohon harapan—agar bekantan tak hanya menjadi cerita, tapi tetap nyata, tetap hidup, tetap bebas di rimbunnya hutan Kalimantan.(suarapancasila.id-hayat)

 

Pos terkait

Settia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *