Oleh: Amelia Kusumasari
Tumpukan tugas, ujian, dan tenggat kuliah membuat banyak mahasiswa mengandalkan kopi untuk bertahan hingga dini hari. Mata tetap terbuka, tugas terselesaikan, tetapi satu hal kerap diabaikan: mampu melawan kantuk bukan berarti mampu belajar secara efektif.
Inilah ilusi produktivitas mahasiswa. Waktu belajar semakin panjang, tetapi kualitas pemahaman belum tentu meningkat. Kesibukan di depan laptop dianggap sebagai kerja keras, sementara kebutuhan tidur diperlakukan sebagai penghambat prestasi.
Padahal, kopi hanya membantu meningkatkan kewaspadaan untuk sementara. Kafein bekerja dengan menghambat pengaruh adenosin, senyawa di otak yang berperan dalam meningkatkan dorongan tidur. Akibatnya, rasa kantuk berkurang, tetapi tubuh tidak otomatis pulih dari kelelahan.
Dampak konsumsi kafein terhadap tidur ditunjukkan dalam meta-analisis Gardiner dan kolega yang diterbitkan di jurnal Sleep Medicine Reviews pada 2023. Dari 24 penelitian yang dianalisis, konsumsi kafein berkaitan dengan pengurangan durasi tidur rata-rata sekitar 45 menit, penurunan efisiensi tidur sebesar 7 persen, dan bertambahnya waktu untuk mulai tertidur sekitar 9 menit. Durasi tidur dalam juga berkurang sekitar 11 menit. “Baca penelitian lengkap” (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36870101/).
Temuan ini tidak berarti setiap peminum kopi mengalami dampak yang sama. Dosis, waktu konsumsi, dan sensitivitas individu turut menentukan pengaruhnya. Namun, hasil tersebut menjadi peringatan bahwa kopi yang diminum demi memperpanjang waktu belajar justru dapat mengganggu istirahat.
Masalahnya, mahasiswa sering menyamakan tugas yang selesai dengan proses belajar yang berhasil.
Seorang mahasiswa mungkin mampu menuntaskan makalah setelah begadang semalaman. Namun, jika keesokan harinya ia kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, dan lambat memahami materi kuliah, efektivitas belajarnya patut dipertanyakan.
Tidur berperan penting dalam konsolidasi memori, yaitu proses penguatan informasi yang telah dipelajari. Kurang tidur juga dapat mengganggu perhatian dan pengambilan keputusan. Artinya, menambah jam belajar dengan mengorbankan tidur tidak selalu menghasilkan pemahaman yang lebih baik.
Persoalan ini bisa berubah menjadi lingkaran yang melelahkan. Tugas menumpuk memicu begadang. Begadang mendorong konsumsi kopi. Tidur terganggu, kelelahan muncul, lalu kopi kembali dikonsumsi untuk mempertahankan kewaspadaan.
Jika berlangsung terus-menerus, mahasiswa berisiko terjebak dalam pola belajar yang menguras energi tanpa menjamin hasil sepadan.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata berapa cangkir kopi yang diminum, melainkan mengapa begadang seolah menjadi syarat untuk menyelesaikan tugas.
Kebiasaan menunda pekerjaan, pengelolaan waktu yang buruk, dan jadwal aktivitas yang tidak teratur perlu dievaluasi. Kopi tidak seharusnya menjadi solusi rutin atas masalah yang sebenarnya dapat dicegah melalui perencanaan belajar.
Bukan berarti mahasiswa harus berhenti minum kopi. Kafein tetap dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dalam kondisi tertentu. Namun, manfaat sementara itu tidak boleh disamakan dengan pemulihan tubuh atau peningkatan otomatis dalam kualitas belajar.
Mahasiswa perlu mencicil tugas sejak awal, menetapkan prioritas, membagi pekerjaan besar menjadi target kecil, dan menjaga waktu tidur. Hasil belajar seharusnya dinilai dari pemahaman serta kualitas pekerjaan, bukan dari lamanya seseorang bertahan di depan layar.
Perguruan tinggi juga perlu berhenti meromantisasi begadang sebagai simbol dedikasi. Mahasiswa yang bekerja hingga pagi bukan otomatis lebih rajin daripada mereka yang mampu menyelesaikan tugas secara terencana.
Produktivitas bukan soal siapa yang paling lama terjaga, melainkan siapa yang paling efektif menggunakan waktunya.
Secangkir kopi memang bisa membuat mata tetap terbuka, tetapi tidak menjamin pikiran bekerja lebih baik. Prestasi akademik membutuhkan konsentrasi, strategi belajar, pengelolaan waktu, dan tidur yang cukup.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah mahasiswa boleh minum kopi, melainkan apakah kopi digunakan sebagai teman belajar atau dijadikan alasan untuk terus mengabaikan kebutuhan tubuh.
Sebab, jangan sampai mahasiswa merasa produktif karena berhasil mengalahkan kantuk, tetapi justru kehilangan kualitas belajar yang seharusnya menjadi tujuan utama.










