Momen Haru, Bupati Afni Jenguk Guru Salmiah Terbaring Lemas Akibat Stroke

SIAK (RIAU), SUARAPANCASILA.ID – Salmiah guru SD itu, kini terbaring lemas tak berdaya, tubuhnya kurus kulitnya mengering, napasnya bergantung pada selang kecil yang menempel di hidung. Salmiah di vonis dokter terserang stroke.

Tatapannya yang kosong, hanya mengarah ke satu sisi, seakan sedang berjalan jauh menembus lorong kenangan yang tak mampu lagi ia ucapkan dengan kata-kata.

Siang itu, Bupati Siak Afni Zulkifli di tengah kesibukannya menyempatkan diri menjenguk perempuan yang pernah berjasa mendidiknya saat duduk di bangku SD.

Bacaan Lainnya

Langkah Afni memasuki ruangan itu bukan sekadar kunjungan resmi, melainkan perjalanan pulang seorang murid kepada gurunya, yang kini terbaring lemah karena stroke.

Afni duduk di samping kasur, menatap wajah yang dulu penuh wibawa dan ketegasan seorang kepala sekolah. Wajah yang dulu mengajarinya disiplin, mengajarinya mimpi, dan mengajarinya tentang arti harapan. Dengan suara yang tertahan, Afni memperkenalkan diri.

“Ini Afni, Bu… Bupati Siak. Murid ibu dulu. Terima kasih atas ilmu-ilmu yang telah ibu berikan. Karena ibu, saya bisa sampai di titik ini,” kata Afni, Kamis (29/1/2026).

Kata-kata itu meluncur perlahan, seperti doa dan harapan yang keluar satu per satu. “Ilmu yang saya dapat semoga menjadi amal jariyah bagi ibu. Ibu cepat sehat ya,” doa Afni.

Tak ada jawaban. Tak ada senyum. Tak ada anggukan. Ibu Salmiah hanya terbaring, namun sorot matanya tampak berubah, seolah memahami setiap kata yang singgah di telinganya.

Seolah hatinya mendengar, meski tubuhnya tak lagi mampu merespons. Di situlah kesedihan berdiam di relung hati, ketika kasih dan terima kasih hanya bisa disampaikan satu arah, namun tetap penuh makna.

Di ruangan itu, adab dan ketulusan bertemu, membentuk keheningan yang membuat dada terasa sesak. Kunjungan itu bukan tentang jabatan. Bukan tentang protokoler.

Bukan tentang seorang bupati. Tapi pertemuan seorang murid dengan gurunya, di saat waktu hampir merenggut kesempatan untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.

“Alhamdulillah, tadi sekalian membesuk guru SD saya, Ibu Salmiah. Beliau terkena stroke. Syafakillah, Ibu…” tulis Afni.

Kalimat singkat, namun sarat makna. Sebab di baliknya tersimpan pesan yang sering kita lupa, bahwa setinggi apa pun seseorang melangkah, selalu ada guru yang menjadi tangga pertama.

Ketika guru itu terbaring lemah, dunia seakan mengingatkan kita bahwa ilmu, kasih sayang, dan pengorbanan tak pernah meminta balasan, kecuali doa dan ingatan yang setia.

Di ruang itu, Salmiah mungkin tak bisa berbicara. Namun perjalanan hidup Afni adalah jawaban paling lantang atas pengabdian seorang guru.

Pos terkait